Surat terbuka pendiri PAN kepada Amien Rais: Akankah menggerus suara partai?

Amien Rais dalam protes bersama pimpinan FPI pada November 2016. Hak atas foto Getty Images
Image caption Amien Rais dalam protes bersama pimpinan FPI pada November 2016.

Persoalan yang dialami Partai Amanat Nasional (PAN) menurut Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Aditya Perdana, dapat menggerus suara partai bila tidak bisa diselesaikan.

Aditya mengatakan hal itu saat ditanya komentarnya terkait surat terbuka lima pendiri PAN yang meminta Ketua Dewan Kehormatan Amien Rais, mundur dari politik praktis dan menyerahkan partai berlambang matahari putih tersebut kepada gerenasi penerus.

Mantan Ketua Umum PAN itu dianggap kian eksklusif dan tidak menumbuhkan kerukukan bangsa dalam berbagai pernyataan dan sikap politiknya.

Kelima orang itu yakni Abdillah Toha, penasihat Wakil Presiden 2009-2014; advokat senior Albert Hasibuan, sastrawan dan jurnalis senior Goenawan Mohamad, penyair dan tokoh budaya Toety Heraty, dan Zumrotin.

Dari pengamatan Aditya Perdana, PAN sebagai partai politik mengalami permasalahan serupa seperti partai lain, di mana garis partai masih dikendalikan para tokoh pendirinya sehingga sulit untuk bergerak secara mandiri.

"Parpol di Indonesia secara kelembagaan lemah karena sangat tergantung dan sangat mengandalkan sosok karisma tokoh yang mendirikan. Ketika partai ingin lepas secara organisasi, relatif sulit bergerak," ujar Aditya Perdana kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/12).

Menurut Aditya, persoalan yang kini dihadapi PAN merupakan hal yang wajar terjadi dalam suatu organisasi.

Namun yang terjadi saat ini bisa menjadi tonggak sejarah bagi PAN apakah betul ingin profesional sebagai partai dengan melepaskan diri dari kontrol para seniornya, tambahnya.

"Pertanyaannya, mau coba melepas 100% dari sosok Amien Rais atau bisa tarik ulur? Itu hanya teman-teman PAN yang paham," ungkapnya sembari menekankan jika masalah tersebut tak bisa diselesaikan maka akan menggerus suara partai.

"Hampir semua partai mengalami situasi ini. Tapi ada yang bisa bertahan, tidak hancur lebur."

Sementara terkait desakan para pendiri PAN kepada Amien Rais, menurutnya, tak lepas dari isu Pemilihan Presiden, di mana manuver Amien yang sangat getol mendukung Prabowo Subianto sehingga bagi beberapa kalangan dianggap kelewat batas dari komitmen berdirinya partai.

Komitmen PAN adalah menjadi partai terbuka dan inklusif yang memelihara kemajemukan bangsa dan tidak memosisikan diri sebagai wakil golongan tertentu, serta partai modern yang bersih dari noda-noda Orde Baru.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Poster Amien Rais dalam pencalonan sebagai presiden pada Juni 2004.

"Dalam konteks ini, PAN punya problem serius, karena Amien sangat dekat dengan Prabowo sehingga ada kepentingan-kepentingan di situ. Jadi ini bisa jadi refleksi, mau bernegosiasi atau bikin kendaraan baru?" imbuhnya.

Berkaca pada kasus PAN, Aditya menilai tak ada partai politik di Indonesia yang betul-betul solid. Ia menyebut PDI Perjuangan, Golkar, Hanura, PKB, dan PKS yang mengalami konflik internal.

"Kalau Demokrat dan Gerindra, masih agak kuat. Tapi dua partai ini kalau kepemimpinanya ganti, agak kesulitan juga. Kalaupun nggak ada pergantian, belum ada problem. Ketika ada pergantian, konflik pasti kelihatan," ujarnya.

Zumrotin: PAN sudah melenceng

Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Amien Rais, salah seorang pendiri, Zumrotin mengatakan ada sejumlah pertimbangan yang dijadikan dasar mengapa meminta Amien mundur dari politik praktis.

Dalam pengamatan mereka yang membuat surat terbuka, PAN sudah jauh melenceng dari visi misi berdirinya partai yang inklusif dan tidak memosisikan diri mewakili golongan tertentu.

"Sudah sangat lama saya perhatikan PAN melenceng. Anda juga bisa lihat sendiri, agama selalu digunakan alat padahal saat pendiriannya tidak begitu," ujar Zumrotin kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/12).

"Yang mendirikan PAN macam-macam orang dari Katolik, Protestan, Islam. Kalau agama jadi alat, PAN pasti tidak akan pernah didirikan bersama-sama dengan aliran agama lainnya," sambungnya.

Dalam beberapa pernyataan, Amien Rais pernah menyebut 'Partai setan dan partai pembela Allah serta pilih pemimpin beriman'.

Hal lain, menurut Zumrotin, sosok Amien Rais sangat mendominasi di internal partai.

Dampaknya tak ada lagi demokratisasi di dalam partai sehingga beberapa Dewan Pimpinan Daerah merasa tak didengar suaranya. Ia mencontohkan yang terjadi di Kalimantan Selatan dan Barat dan Sumatera Selatan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Amien Rais saat kampanye sebagai calon presiden pada 26 Juni 2004.

"Misalnya proses menentukan pilihan (pilpres), apakah dengan musyawarah mufakat? Apa yang dikemukakan Amien Rais selalu jadi pegangan PAN," pungkas Zumrotin.

"Amien sudah senior tidak legowo untuk menyerahkan ke generasi muda. Berilah kesempatan kepada yang muda-muda berpendapat dan arahkan partai. Kalau sekarang kan PAN ya Amien Rais. Jadi daerah-daerah merasa tidak puas sehingga tidak memenuhi keputusan Amien dalam penentuan presiden."

Karenanya sebagai pendiri, ia merasa memiliki tanggung jawab moral mengingatkan kembali kader-kader PAN agar kembali kepada visi dan misi yang dibangun bersama pada awal Reformasi.

"Saya tidak punya pretensi apa-apa dan tidak berpolitik. Tapi saya punya tanggung jawab moral untuk mengingatkan kembali, 'kamu sudah melenceng lho..' Jadi kita angkat lagi visi dan misi PAN. Jadi penerus PAN yang muda-muda yang tidak tahu, jadi tahu."

Menanggapi surat terbuka itu, Wakil Sekjen PAN, Faldo Maldini justru menyebutnya sebagai upaya menggembosi partai.

Faldo mengatakan apa yang terjadi di internal partai tak seperti yang dituliskan. Ia malah mempertanyakan kepentingan kelima orang itu di balik surat tersebut.

"Ini mulai terlihat ada gerakan yang berusaha menggembosi kami dalam dalam. Sekarang ada orang-orang yang tidak aktif, namun tiba-tiba klaim sebagai pendiri PAN. Saya sendiri sebagai pengurus, nggak kenal dekat mereka," ujar Faldo Maldini kepada BBC News Indonesia, Rabu (26/12).

Ia juga mengklaim, PAN masih sejalan dengan visi dan misi partai ketika pertama didirikan yakni menjadi partai yang inklusif dan tidak memosisikan diri mewakili golongan tertentu.

Ia mencontohkan proses pemilihan calon legislatif yang berasal dari bermacam golongan. Sementara mengenai posisi Amien Rais, kata Faldo, tidak seperti yang dituduhkan dalam surat terbuka.

"Posisi Amien Rais biasa saja. PAN ini justru partai paling demokratis. Semisal di Rakernas disepakati dukung calon 02, kalau ada yang masuk angin, terima dong. Kan gampang, lihat suara mayoritas aja," imbuhnya.

"We are on the track kok. Kalau nggak dukung petahana, dibilang nggak on the track? Nggak masuk akal. Pokoknya kita fokus mendukung Prabowo-Sandi," tambahnya.

Berita terkait