Anak Krakatau makin aktif, status jadi 'Siaga,' hujan abu di beberapa tempat

Gunung Anak Krakatau Hak atas foto Reuters
Image caption Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau 'terus meningkat', status dinaikkan menjadi 'Siaga', kata salah seorang pejabat BNPB

Status Gunung Anak Krakatau dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga mulai Kamis (27/12) menyusul peningkatan aktivitasnya. Di beberapa tempat hujan abu vulkanik mulai turun, dan sejumlah penerbangan pun ditutup.

Masyarakat dan wisatawan dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak kawah gunung tersebut, demikian rekomendasi PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM.

Sekretaris Badan Geologi, Antonius Ratdomopurbo mengatakan, peningkatan status kewaspadaan dari level 2 (waspada) menjadi level 3 (siaga) lantaran muncul abu vulkanik tadi malam sehingga perlu antisipasi untuk eskalasi lebih lanjut. Aktivitas Anak Krakatau tetap tinggi menyusul letusan pada 22 Desember lalu.

"(Saat ini) terjadi gelegar (letusan) sebanyak 14 kali per menit," ujar pria yang biasa disapa dengan panggilan Purbo itu, dalam jumpa pers di kantor PVMBG, Kementerian ESDM, seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, dalam keterangan tertulis, mengatakan, "Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, tremor menerus, dan terdengar dentuman suara letusan."

Menurut Sutopo, dalam radius lima kilometer memang tidak ada permukiman warga namun BMKG merekomendasikan, agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di pantai pada radius 500 meter hingga satu kilometer dari pantai.

"Untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan," kata Sutopo, mengutip keterangan BMKG.

Hujan abu

Menurut pantauan PVMBG, Anak Krakatau melontarkan abu sampai ketinggian 2500-3000 meter; dan penyebarannya tergantung arah angin, kata Purbo.

Hak atas foto Reuters
Image caption Foto Anak Krakatau pada 23 Desember 2018.

Sebelumnya, juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa abu vulkanik menyebar ke arah laut di barat daya.

Menurutnya, adanya beberapa lapisan angin pada ketinggiaan tertentu mengarah ke timur menyebabkan hujan abu vulkanik tipis jatuh di Kota Cilegon dan sebagian Serang pada 26/12/2018 sekitar pukul 17.15 WIB.

"Ini tidak berbahaya. Abu vulkanik justru menyuburkan tanah. Masyarakat agar mengantisipasi menggunakan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar saat hujan abu," tegas Sutopo.

Dampak pada penerbangan

Badan kendali lalu lintas udara AirNav Indonesia menutup sejumlah rute penerbangan karena abu vulkanik yang dimuntahkan Krakatau berarti situasi sedang "bahaya".

Seorang manajer operasi AirNav mengatakan kepada BBC News bahwa antara 20 dan 25 penerbangan terdampak, termasuk beberapa penerbangan internasional ke dan dari Australia, Singapura, dan Timur Tengah.

Ia mengatakan bahwa gangguannya mungkin akan minimal, kendati penumpang bisa mengalami perjalanan yang lebih panjang dan pesawat akan membutuhkan lebih banyak bahan bakar karena ada pengalihan.

Beda tipe letusan

Berbeda dari letusan pada pekan lalu yang merupakan tipe strombolian, yang melepaskan materi vulkanik, letusan kali ini merupakan tipe surtseyan, yakni aliran lava langsung bersentuhan dengan air laut, mengakibatkan hembusan asap dan abu ke udara.

Lava yang mengalir ke air tersebut tidak mengakibatkan gelombang seperti tsunami karena efeknya hanya di permukaan, kata Purbo dari PVMBG.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gunung Anak Krakatau dalam foto yang diambil Juli 2018.

Adapun kemungkinan longsor akibat aktivitas erupsi ini, menurut Purbo, "sulit diprediksi" karena sifatnya yang lokal.

"Karena longsornya itu sendiri sulit diprediksi, yang diprediksi adalah dampak dari longsor itu sedini mungkin," ia menjelaskan.

PVMBG telah memberi saran kepada BMKG agar memasang alat deteksi seperti buoy dan tide gauge di sekitar Pulau Panjang, pulau terdekat dari Anak Krakatau.

Sejak kapan meletus?

Menurut PVMBG, Gunung Anak Krakatau aktif kembali dan memasuki fase erupsi mulai Juli 2018. Sebelumnya, sempat terjadi letusan strombolian pada 20 Juni 2016 dan 19 Februari 2017.

Pada tanggal 22 Desember lalu, Anak Krakatau kembali mengeluarkan letusan. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 - 1500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor dengan amplitudo overscale (58 mm).

Berdasarkan citra satelit, diketahui bahwa sebagian besar tubuh Gunung Anak Krakatau telah longsor, yang kemudian menyebabkan tsunami di beberapa wilayah di Provinsi Banten dan Lampung.

Lubang kawah membesar

Dan pada Rabu (26/12), menurut PVMBG, ada letusan berupa awan panas dan surtseyan.

"Awan panas ini mengakibatkan hujan abu termasuk yang terekam pada 26 Desember 2018 jam 17:15 WIB. Dari Pos Kalianda, jam 12 malam melaporkan suara gemuruh dengan intensitas tinggi," menurut keterangan tertulis dari PVMBG.

Aktivitas lava mengakibatkan lubang kawah membesar, Purbo menambahkan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Foto dari udara Gunung Anak Krakatau terlihat seperti pulau kecil.

Masyarakat diminta tenang

Dalam keterangannya, BNPB meminta masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaannya.

"Gunakan selalu informasi dari PVMBG untuk peringatan dini gunung api dan BMKG terkait peringatan dini tsunami selaku institusi yang resmi," ujar juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

"Jangan percaya dari informasi yang menyesatkan yang sumbernya tidak dapat dipertanggungjawabkan," katanya lagi.

Berita terkait