Tsunami Selat Sunda: Bagaimana kesiapan warga jika kembali terjadi tsunami?

Gunung Anak Krakatau Hak atas foto Reuters
Image caption Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau 'terus meningkat', status dinaikkan menjadi 'Siaga'.

Dengan aktivitas gunung Anak Krakatau yang semakin meningkat, statusnya pun dinaikkan dari waspada menjadi siaga mulai Kamis (27/12).

Erupsi Anak Krakatau telah mulai sejak Juli lalu dan apa yang terjadi kali ini masih belum dipastikan sebagai puncak erupsi.

Namun ahli vulkanologi Abdul Muhari mengatakan dampak erupsi kali ini tidak akan sehebat seperti yang terjadi pada induk gunung berapi itu pada 1883.

"Tahun 1883, gunungnya sangat besar sehingga kolapsnya kaldera membangkitkan tsunami sampai 23 atau 26 meter. Kalau yang sekarang posisi Anak Krakatau belum sampai 30% dari besar ibunya yang dahulu," papar Abdul Muhari.

"Jadi kalau kita ambil analogi linier, meski secara ilmiah tidak bisa demikian, paling tidak kalau kalderanya (Anak Krakatau) kolaps seluruhnya seharusnya tsunaminya tidak akan sedahysat yang dahulu."

Namun, peluang terjadinya tsunami kembali masih terbuka, dan ini yang harus diwaspadai.

"Yang kita lihat sekarang dari video amatir yang ada bagian dari gunung yang berada di atas permukaan air itu ada yang hilang. Artinya ada yang kolaps. Tapi juga ada potensi tidak hanya bagian yang di atas permukaan air saja yang kolaps tapi juga bagian yang di bawah permukaan air. Nah ini kita belum tahu karena kita belum punya datanya," ungkap Abdul.

"Kalau sekiranya itu juga mengalami kolaps, artinya ada underwater landslide(longsor bawah laut), itu mungkin juga tsunaminya bisa terantisipasi. Tetapi berapa antisipasi tsunaminya, kita harus menghitung ulang dengan detil berapa volume gunung yang berada di bawah air dan juga mengalami kelongsoran."

Para ahli vulkanologi memprediksi tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu disebabkan oleh longsornya badan Anak Krakatau yang mendorong air saat bergerak. Longsor itu sendiri disebabkan terdorongnya magma panas akibat letusan gunung berapi itu.

Bagaiamana kesiapan warga?

Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan yang membantu kesiapsiagaan warga khususnya di ujung Jawa, mengatakan selain menetapkan titik-titik pengungsian, masyarakat mendapat penjelasan soal peringatan yang perlu mereka ketahui.

"Kabupaten Serang dan Pandeglang ini sudah terbentuk posko. Informasi yang datang dari pihak-pihak yang selama ini memang menangani dari BMKG, BNPB, PVMBG, kita sebarkan melalui posko-posko tersebut dan sebagian langsung melalui masyarakat. Masyarakat sendiri mematuhi peringatan-peringatan yang disampaikan pihak-pihak terkait tadi," ujar Lilik.

Lilik menjelaskan bahwa saat ini sudah ada sekitar 150 titik pengungsian, yang lokasinya ditentukan oleh masing-masing kabupaten.

"Memang ada syarat-syarat untuk titik pengungsian. Yang mutlak harus aman. Yang kedua ada sarana dan prasarana untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya memudahkan untuk dapur umum, sanitasi air bersih, ada listrik," jelas Lilik.

Definisi aman sendiri tak harus 500 meter atau satu kilometer dari bibir pantai seperti yang diperingatkan BNPB ketika menaikkan status gunung api Anak Krakatau. Lilik mengatakan bahwa jika datarannya tinggi, lebih tinggi dari terjangan tsunami Sabtu (22/12) lalu, makan area itu dapat dikategorikan "aman".

Di Lampung Selatan, para warga juga sudah mengungsi ke posko-posko penampungan, termasuk warga dari Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.

"Mereka ada yang tinggal di atas (bukit), kita bikin juga kamp-kamp, mereka tidak mau keluar dari wilayah itu, dia naik ke atas kita bikinin posko-posko sendiri juga. Dan mereka sendiri sekarang sudah banyak yang tidak di lokasi-lokasi di pinggir pantai" seperti dijabarkan Pelaksana tugas Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto.

Sejauh ini, sekitar 1300 warga pulau Sebesi telah dievakuasi ke gedung olahraga di Kalianda, Lampung, dan 500 lainnya masih dalam proses keluar dari pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau itu.

Namun masih ada puluhan lainnya yang masih tetap bertahan dengan alasan menjaga harta benda.

Berita terkait