Teka-teki penemuan jasad dengan kepala terpenggal di Sausu, dekat Poso

Ilustrasi Hak atas foto Barcroft Media / Getty

Warga dusun Salubose, desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Mautong (Parimo), digegerkan dengan penemuan jasad dengan kepala terpenggal di sebuah jembatan di dusun Salubanga.

Awalnya ditemukan kepalanya saja, tanpa badan, oleh seorang warga pada Minggu (30/12) sekitar pukul 15.10 Wita (14:30 WIB). Korban diidentifikasi sebagai Ronal Batau alias Anang (36), warga Taliabo, Kecamatan Sausu Desa Salubanga dusun Manggalapi.

Kepada wartawan, Wakapolda Sulteng Kombes Setyo Boedi Moempoeni Harso, membenarkan penemuan itu.

"Benar, ada penemuan kepala manusia, yang diduga korban mutilasi, hanya saja saat ini masih dalam penyelidikan, Polres Parimo. Saat ini kepala itu sudah berada di Rumah Sakit Anuntalako Parigi Mautong," kata Wakapolda.

Kapolres Parigi Moutong, AKBP Zulham Efendi Lubis kemudian mengatakan bahwa badan korban sudah pula ditemukan.

"Badan korban yang terpisah dari kepala, sudah ditemukan tak jauh dari penemuan kepala. Dan sudah dievakuasi ke RS Anuntalako Parigi. Saat ini serang dilakukan penyatuan badan dan kepala korban," jelasnya.

Ia menyebutkan, saat meninggalkan lokasi penemuan jasad itu, petugas ditembaki oleh sejumlah orang tak dikenal, dan dua petugas polisi tertembak.

"Sekarang masih dilakukan pengejaran," katanya.

Hak atas foto Eddy Djunaedi untuk BBC News Indonesia
Image caption Polisi korban penembakan tiba di RS Bhayangkara, Palu.

Kepala tanpa badan itu ditemukan pertama kali oleh Acok, warga dusun Salubose, desa Salubangga, saat hendak turun ke kecamatan Sausu, untuk menjual cokelat hasil kebun, kata Eddy Djunaedi, seorang wartawan di Palu, Sulawesi Tengah, yang meliput kasus ini.

"Namun saat melintasi jembatan Kayu Dusun Salubose, desa Salubanga, Acok menyebut bahwa ia melihat benda yang tergeletak di jembatan itu, yang setelah dilihat lebih dekat, dipastikan bahwa yang ditemukannya itu memang kepala manusia yang masih berlumur darah," lanjut Eddy.

Acok kemudian kembali ke dusun Manggalapi, desa Salubanga dan melaporkan kejadian tersebut kepada warga desa Salubose, lalu bersama didampingi kawannya ia melaporkannya ke petugas kecamatan Sausu, yang lalu meneruskannya ke aparat polsek Sausu.

"Sekitar pukul 18:55 Wita, pasukan gabungan yang terdiri dari Polres Parimo, BIN, Babinsa, berangkat bersama dan tiba di lokasi sekitar pukul 23:00 Wita. Namun karena sudah gelap, evakuasi kepala itu dilanjutkan Senin (31/12) pagi ini," lanjut Eddy.

Motif pembunuhan dan mengapa kepalanya diletakkan di jalanan di atas jembatan itu, masih gelap, kata Wakapolda Sulteng Setyo Boedi Moempoeni Harso.

Ia juga menolak untuk berspekulasi tentang kemungkinan kepala itu merupakan korban dari kelompok terduga teroris Ali Kalora, kendati dugaan itu muncul setelah petugas ditembaki saat meningalkan lokasi penemuan jenazah.

"Masih belum diketahui motifnya, dan apakah ada sangkut pautnya dengan kelompok teroris Ali Kalora atau tidak, masih pendalaman," tegasnya.

"Jumlah anggota kelompok Ali Kalora, diperkirakan tinggal 10 Orang. Namun, kami belum bisa memastikan apakah pelaku penembakan di lokasi yang jaraknya kurang lebih satu setengah kilometer dari Polsek Sausu itu, merupakan kelompok Ali Kalora. Kami masih melakukan pendalaman terhadap aksi penembakan tersebut," jelasnya.

Kombes Pol Setyo Budi Moempoeni Harso menambahkan, kepolisian telah memperkuat pengamanan dan melakukan pengejaran.

"Kami telah mengerahkan sebanyak 60 personil, untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan tersebut," tegasnya.

Hak atas foto Eddy Djunaedi untuk BBC News Indonesia.
Image caption Wakapolda Sulteng Kombes Setyo Boedi Moempoeni Harso, menolak berspekulasi tentang kaitan mayat dengan kepala terpenggal itu dengan kelompok teroris.

Ali Kalora disebut-sebut sebagai tangan kanan Santoso, pemimpin terduga kelompok teroris di Poso yang tewas 2016 lalu.

Menurut Kapolri Jenderal tito Karniawan beberapa waktu lalu, setelah terduga tangan kanan Santoso lainnya, Basri, ditangkap bersama istrinya maka Ali Kalora merupakan tokoh paling senior di kelompok yang menurutnya jumlahnya kurang dari 20 orang.

"Tapi berdasarkan pengamatan saya selama bertugas beberapa tahun di Poso, saya menyimpulkan Ali Kalora ini kelasnya jauh di bawah Santoso dan Basri," papar Kapolri waktu itu.

Topik terkait

Berita terkait