Longsor Sukabumi: Rawan bencana dan 'tidak layak huni' tapi sulit pindahkan warga

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Longsor Sukabumi: Pencarian puluhan korban di daerah rawan bencana.

Masyarakat di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, tidak mengantisipasi bencana tanah longsor yang terjadi pada malam tahun baru meski mengetahui bahwa daerah tersebut rawan bencana, menurut perangkat daerah setempat.

Camat Cisolok, Asep Mauludin, mengatakan bahwa "tidak diprediksi ada gejala-gejala untuk longsor" di Kampung Cimapag, yang kini rata dengan tanah.

Seorang pejabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan daerah yang rawan dan "tidak layak untuk dihuni", tapi sulit meyakinkan warga untuk pindah.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Sukabumi rentan terhadap longsor, menurut data.

Bencana longsor pada Selasa (31/12) menjelang waktu salat Magrib itu dipicu oleh hujan deras selama beberapa jam. Warga Kampung Cimapag, Bohana, mengatakan peristiwa itu terjadi secara tiba-tiba.

"Mendengar suara itu ngahiung (mendengung), dari rumah langsung mau keluar nengok itu longsor. Begitu nengok longsor ternyata sudah terlihat, sudah sampai rumah," kata Bohana seperti dilaporkan wartawan di Sukabumi, Rizal, untuk BBC News Indonesia.

Laki-laki berusia 35 itu mengaku menyadari bahwa dirinya tinggal di daerah rawan longsor, tapi ia tidak pernah disuruh untuk pindah.

Kampung Cimapag terletak di bawah bukit terjal dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Daerah tersebut memiliki tanah gembur yang mudah longsor ketika curah hujan tinggi.

Hak atas foto Sutopo Purwo Nugroho/BNPB
Image caption Salah satu bagian di Kampung Cimapag, Kecamatan Cisolok, yang rata dengan tanah.

Namun Asep Mauludin mengatakan warga tak mengira longsor akan terjadi.

"Sebelumnya memang tidak diprediksi bahwa ini akan terjadi longsor karena mungkin sudah berpuluh-puluh tahun warga, masyarakat sudah menghuni," ujarnya kepada BBC News Indonesia lewat sambungan telepon.

Kini, puluhan rumah di Kampung Cimapag tertimbun oleh tanah. Sebanyak 15 warga ditemukan meninggal dunia sementara 20 lainnya dinyatakan hilang, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

'Tidak layak untuk dihuni'

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman, mengatakan bahwa Kecamatan Cisolok memang rawan banjir dan longsor. Tanah longsor terjadi di daerah tersebut setiap tahun sejak 2010.

"Dan memang yang terbesar pada tahun ini, akhir 2018," ungkapnya dalam jumpa pers di Posko Tanggap Darurat Bencana di Kampung Cimapag, Selasa (01/01).

Menurut Eka, berdasarkan pengamatan sementara, daerah tersebut sangat rentan terjadi pergerakan tanah dan tidak layak dihuni. Namun sulit meyakinkan warga untuk pindah.

Hak atas foto Rizal untuk BBC News Indonesia
Image caption Tim SAR gabungan terus mencari korban yang tertimbun.

"Kawasan ini merupakan suatu prioritas kita untuk melakukan mitigasi bencana dari awal. Hanya memang penduduk sini punya adat yang berbeda dari yang di kota. Jadi mereka itu menempati tempat-tempat yang memang mendekati ke area pertanian. Mereka tidak pernah memikirkan kondisi bangunan yang ada," ia menjelaskan.

Komandan Korem 061/Suryakancana, Kolonel (Inf) M Hasan, yang juga hadir dalam jumpa pers, menambahkan bahwa warga berladang dengan membuat terasering di lereng bukit.

"Dengan dijadikan sebagai ladang, dengan menanam tanaman-tanaman yang singkat dan tidak mempunyai akar yang kuat, itulah yang menjadi penyebab [longsor]," ujarnya.

Hak atas foto ESDM
Image caption Sebagian besar wilayah Kabupaten Sukabumi rawan longsor, menurut data Kementerian ESDM.

Apa penyebab longsor?

Pakar dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari, menjelaskan penyebab tanah longsor di Kampung Cimapag salah satunya adalah kondisi tanah yang gembur.

"Tanah gembur itu kan mempunyai kuat geser atau shear strength yang sangat rendah jadi mudah sekali kekuatannya hilang ketika terkena penetrasi air hujan," tuturnya.

Namun ia menilai kondisi air di kawasan tersebutlah yang menjadi faktor dominan. Terdapat aliran air di bawah permukaan tanah yang kemudian naik sehingga menyebabkan lereng di situ menjadi lebih labil dibandingkan lereng di sekitarnya.

"Air hujan itu akan mudah menjenuhi lereng itu karena di situ ada zona-zona air tanah yang terperangkap, yang mudah meningkatkan tekanan air pori dalam tanah," ia menambahkan.

Tapi Kecamatan Cisolok bukanlah kasus unik. Menurut Pusat Volkanologi dan Bencana Geologi, Kementerian ESDM, lebih dari 50% wilayah Kabupaten Sukabumi rentan terhadap longsor.

Hak atas foto M Agung Rajasa/Antarafoto
Image caption Seorang warga bernama Iyom menunggu kabar keluarganya yang menjadi korban tanah longsor di Kampung Cimapag.

Peta yang diterbitkan PVMBG pada Desember 2018 menunjukkan sebagian besar wilayah Kabupaten Sukabumi memiliki potensi tinggi untuk terjadinya gerakan tanah. Itu berarti di wilayah-wilayah tersebut dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal — meski tidak semuanya merupakan wilayah permukiman.

Menurut Adrin Tohari, hal itu karena banyak daerah di Kabupaten Sukabumi yang tersusun dari material gunung api muda. Batuan-batuannya belum mengalami pemadatan sehingga kekuatannya sangat rendah.

"Nah daerah-daerah yang terbentuk oleh endapan-endapan gunung api muda itu, di mana tanah hasil pelapukannya itu menjadi tanah yang gembur maka ia akan lebih rentan terhadap longsoran gerakan tanah dibandingkan daerah-daerah yang tersusun oleh batuan-batuan yang lebih padat."

"Kalau lerengnya di sana, rata-rata dari mulai agak terjal sampai terjal dan biasanya longsoran terjadi pada lereng-lereng seperti itu," ia menjelaskan.

Maka dari itu, menurut Adrin, pihak berwenang perlu meningkatkan kapasitas masyarakat yang sudah lama tinggal di daerah rawan bencana demi mengurangi risikonya. Harapannya, masyarakat punya kesadaran untuk evakuasi mandiri ketika terjadi hujan.

Adrin menilai upaya yang selama ini dilakukan BPBD belum menjangkau semua masyarakat di daerah rawan karena sulitnya akses.

"Biasanya hanya mencakup daerah-daerah kecamatan saja yang aksesnya sangat mudah. Untuk bisa mencapai daerah-daerah yang terpencil seperti kampung, dusun itu masih agak sulit yah," ujarnya.

Topik terkait

Berita terkait