Black box CVR Lion Air ditemukan: Laporan awal dalam sebulan, keluarga 'lega'

CVR Lion Air JT 610 Hak atas foto Reuters
Image caption Perekam suara kokpit (CVR) pesawat Lion Air JT 610 ditemukan Senin (14/01), sekitar 2,5 bulan setelah pesawat jatuh di Laut Jawa.

Laporan awal analisis data perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR) pesawat Lion Air JT610 akan dikeluarkan dalam kurun satu bulan, kata Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

"Laporan awal itu sesuai dengan aturan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan peraturan perundang-undangan kita, itu satu bulan. Setelah itu kami akan mengeluarkan rilis kalau sudah menjadi laporan akhir," kata ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono.

"Mudah-mudahan, tidak sampai satu tahun, kami harapkan akan diketahui sebab-sebab kecelakaan," tambah Soerjanto.

Bagian kotak hitam berupa CVR ditemukan hari Senin (14/01), sekitar 2,5 bulan setelah pesawat Boeing 737 MAX yang dioperasikan Lion Air atuh di perairan di Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018.

Komponen kotak hitam lain, flight data recorder (FDR) atau perekam data penerbangan ditemukan pada 1 November 2018.

Menurut Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), CVR ditemukan sekitar 50 meter dari lokasi penemuan FDR.

Penemuan CVR disambut lega oleh Murtado Kurniawan yang kehilangan istri dalam kecelakaan ini.

"Semoga CVR-nya tidak rusak, bisa diunduh data yang ada di dalamnya. Agar bisa segera dianalisis apa penyebab jatuhnya pesawat. Agar bisa diambil pelajaran, ke depan kita bisa mencegah insiden seperti ini," kata Murtado.

Senada dengan Murtado, Vini Wulandari, yang kakaknya adalah kopilot Lion Air yang mengalami kecelakaan, berharap sebab-sebab kecelakaan bisa segera diungkap.

Menemukan tulang belulang manusia

Hak atas foto Dokumentasi Pushidrosal
Image caption CVR tidak hanya merekam percakapan pilot dan kopilot, namun juga beragam suara yang bisa merupakan petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika awak kabin bergerak.

Ia juga berharap jatuhnya Lion Air JT 610 adalah kecelakaan serius pesawat terbang yang terakhir di Indonesia.

"Cukup kami yang menjadi korban. Ke depan, kami berharap regulator dan produsen pesawat bisa lebih memperbaiki diri, sehingga tidak terjadi kecelakaan seperti ini," kata Vini.

Selain CVR pesawat, penyelam juga menemukan tulang belulang tak jauh dari penemuan CVR.

CVR tidak hanya merekam percakapan pilot dan kopilot, namun juga beragam suara yang bisa merupakan petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika awak kabin bergerak.

Menurut Kadispen Koarmada I Letkol Laut (P) Agung Nugroho saat dihubungi detikcom, Senin (14/01), tim Komando Armada (Koarmada) I berhasil menemukan CVR dan sudah diangkat ke kapal milik TNI AL.

Lebih lanjut Agung mengatakan, CVR berhasil ditemukan oleh penyelam komando pasukan katak (Kopaska) dan Dinas penyelam bawah air (Dislambair) I.

Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Karawang pada Senin, 29 Oktober lalu, dan menewaskan 189 penumpang dan awak pesawat.

Dalam laporan awal KNKT menyebutkan pilot kesulitan mengontrol apa yang biasa disebut anti-stalling system sebelum pesawat jatuh ke laut. Diketahui pula pesawat tersebut mengalami masalah teknis dalam penerbangan sebelumnya.

Boeing 737 MAX adalah salah satu pesawat komersial terbaru dan paling canggih di dunia.

Setelah penyelidik mengatakan bahwa pesawat mengalami gangguan pada indikator kecepatan udara dan sensor angle of attack (AoA), Boeing mengeluarkan buletin khusus tentang apa yang perlu dilakukan jika ada gangguan ini.

Hak atas foto DOKUMENTASI PUSHIDROSAL

Ada dua kotak hitam

Di dalam setiap pesawat ada dua peranti kotak hitam: FDR (Flight Data Recorder) atau perekam data penerbangan dan CVR (Cockpit Voice Recorder) atau perekam percakapan pilot.

FDR ini mencatat informasi 88 parameter penerbangan, mulai dari kompas, arah, ketinggian, hingga kecepatan pesawat di udara, dan sebagainya, yang bersifat teknis.

Apa yang terjadi selama penerbangan dalam kurun 25 jam terakhir akan direkam oleh alat ini.

CVR yang merekam seluruh pembicaraan yang dalam kokpit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kotak hitam Saratov Airlines Antonov An-148 yang jatuh pada Februari 2018.

CVR tidak hanya merekam percakapan pilot dan kopilot, namun juga beragam suara yang bisa merupakan petunjuk penting, seperti suara mesin, suara alarm, bahkan suara kursi yang digeser jika awak kabin bergerak.

Perusahaan pembuat kotak hitam asal Amerika Serikat, Honeywell, mengatakan rekaman yang tercatat disetel untuk hanya berdurasi dua jam dari posisi terakhir pesawat.

"Perekam data penerbangan akan memberi tahu kita bagaimana kecelakaan terjadi," kata Greg Marshall, wakil presiden Flight Safety Foundation, organisasi nirlaba di AS yang menyediakan panduan keselamatan udara.

"Sementara itu, perekam suara di kokpit akan memberi informasi mengapa terjadi kecelakaan," jelas Marshall.

Misalnya dalam kasus Germanwings nomor penerbangan 9525 yang jatuh di kawasan Alpen Prancis pada Maret 2015.

Perekam penerbangan mengungkap bahwa kru yang mengendalikan pesawat secara sengaja menurunkan ketinggian pesawat dan menambah kecepatan sebelum menabrak pegunungan.

Rekaman suara di kokpit juga menunjukkan pilot menggedor pintu kokpit dan berteriak, "Buka pintunya!". Di latar belakang terdengar para penumpang menjerit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Contoh FDR: kotak hitam perekam data penerbangan.

Dari berbagai data ini, tim penyelidik menyimpulkan bahwa kopilot Andreas Lubitz mengunci pintu kokpit dan sengaja menabrakkan pesawat.

FDR dan CVR dipasang di bagian pesawat yang biasanya paling tahan menghadapi kecelakaan, yaitu bagian ekor.

Tidak berwarna hitam

Ukurannya kira-kira sama dengan kotak sepatu, memiliki berat sekitar 4,5 kg dengan harga sekitar $50.000 atau Rp750 juta per unit. Dan tidak berwarna hitam, melainkan oranye.

Biasanya FDR diletakkan di bagian ekor pesawat, dengan pertimbangan ketika kecelakaan, bagian pesawat ini mengalami dampak yang relatif lebih kecil dibandingkan bagian lain, sehingga diharapan kotak hitam tak mengalami kerusakan parah.

Perekam data penerbangan mendapatkan informasi melalui alat perantara yang biasa disebut unit pengumpul atau flight data acquisition unit. Unit ini menerima semua data dari sensor yang ditempatkan di badan pesawat.

Informasinya kemudian disimpan di keping-keping memori yang memiliki kapasitas simpan sangat besar, hingga beberapa terabita. Perekam suara kokpit memiliki sistem kerja yang sama.

Tetapi mengapa dua peranti yang berwarna oranye terang itu disebut kotak hitam? Mungkin karena alat ini warnanya menjadi kusam akibat terbakar ketika ditemukan.

Nyaris tak mungkin hancur

Kotak hitam dirancang sedemikian rupa sehingga bisa menyimpan dan menyelamatkan data penting tersebut.

Kotak pembungkusnya terbuat dari aluminium, lalu ada lapisan insulasi yang berfungsi melindungi peranti dari suhu tinggi, dan di bagian terluar ada pembungkus dari bahan titanium atau baja.

Sebelum dipasang di jet komersial, kotak hitam berulang kali diuji untuk memastikan benda itu tidak mudah rusak atau hancur.

Jarang sekali kotak hitam pesawat hancur atau tak bisa ditemukan.

Dalam sejarah penerbangan modern kasus seperti itu hanya terjadi beberapa kali.

Berita terkait