Pemkot Solo tidak akan ubah rancangan jalan di depan balai kota yang 'mirip salib'

Tugu Pemandengan Hak atas foto Diskominfo Surakarta
Image caption Pemkot menyatakan mosaik yang mengelilingi Tugu Pemandengan itu berbentuk delapan arah mata angin, dan bukan berbentuk salib - simbol umat Nasrani.

Pemerintah Kota Solo tidak akan mengubah desain penataan koridor di depan balai kota di Jalan Jenderal Sudirman, walaupun muncul kontroversi terkait keberadaan mosaik yang disebut mirip salib.

Pemkot menyatakan mosaik yang mengelilingi Tugu Pemandengan itu berbentuk delapan arah mata angin, dan bukan berbentuk salib - simbol umat Nasrani.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengatakan, pembangunan penataan koridor Jalan Jenderal Sudirman - yang menggunakan andesit - tetap akan dilanjutkan, kendati diprotes sebuah ormas karena dianggap mirip salib jika dilihat dari atas.

Menurut Hadi Rudyatmo, penataan kawasan itu sejak awal tidak direncanakan untuk membuat simbol salib di tengah jalan.

"Yang jelas, kita tidak punya pemikiran dan perencanan membuat salib di tengah jalan," kata FX Hadi saat ditemui di Balai Kota Solo, Kamis (17/1), seperti dilaporkan wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia.

"Karena perencanaannya seperti itu dan spesifikasinya seperti itu, jadi tetap dilanjutkan," ujarnya.

Hak atas foto BBC News Indonesia/Fajar Sodiq
Image caption Pemerintah Kota Solo tidak akan mengubah desain penataan koridor di depan balai kota di Jalan Jenderal Sudirman, walaupun muncul kontroversi terkait keberadaan mosaik yang disebut mirip salib

Lagipula, menurutnya, perencanaan kawasan itu sepenuhnya dilakukan Dinas Pekerjaan Umum.

"Jadi yang jelas perencananya bukan saya dan saya tidak pernah pesan seperti itu," tegasnya.

Menurut Rudy, apabila mosaik itu merupakan simbol salib, maka seharusnya pihaknya yang pertama kali melakukan protes.

Alasannya, sebagai umat Katolik, dia tidak bisa menerima salib - sebagai simbol agama Nasrani - diletakkan di tengah jalan dan diinjak-injak oleh kendaraan yang melintasi kawasan itu.

"Kalau saya tahu itu salib harusnya saya yang protes," katanya.

Untuk itulah, Rudy meyakini sepenuhnya bahwa mosaik itu bukanlah simbol salib. "Wong itu ada filosofinya sendiri terkait desain itu."

'Tidak ada simbol agama manapun'

Sementara itu, pejabat pembuat komitmen (PPK) Proyek Penataan Koridor Jenderal Sudirman tahap pertama, Taufan Basuki mengatakan, desain penataan di kawasan itu mengusung tema budaya dan kearifan lokal.

"Itu adalah konsep Jawa, delapan arah mata angin yang mengelilingi Tugu Pemandengan. Ini jelas tidak ada yang menggambarkan adanya salib," tegas Taufan.

"Melihatnya jangan hanya secara parsial tetapi secara keseluruhan. Kalau ada beberapa persepsi, apapun bisa dipersepsikan dengan yang lain tergantung dari mana melihatnya. Tetapi dasar desainnya tidak ada simbol agama manapun," ungkapnya.

Ditanya tentang kehadiran sejumlah pekerja yang melakukan aktivitas pekerjaan di kawasan itu, Taufan mengatakan mereka tidak melakukan perubahan apapun, namun hanya melakukan pemeliharaan karena ada kerusakan.

Apa komentar Laskar umat Islam Surakarta?

Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) melalui juru bicaranya, Endro Sudarsono langsung mengirimkan surat terbuka kepada Wali Kota Solo terkait polemik munculya mosaik mirip salib.

Dia mengklaim, keberadaan mosaik itu juga dipertanyakan oleh sejumlah komunitas Muslim di kota Solo, karena dianggap mirip salib.

"Kami meminta kepada Pemerintah Kota Solo untuk mengevaluasi dan mengganti mosaik mirip salib dengan motif lainnya, yang sebisa mungkin tidak menimbulkan keresahan warga," kata dia.

Sikap Majelis Ulama Indonesia Solo

Sementara itu, Ketua MUI Solo, Sobari mengatakan ramainya berita terkait mosaik yang menyerupai salib itu muncul setelah terdapat foto dari atas.

Hanya saja, dia menyayangkan cara pandang yang cuma melihat mosaik itu dari atas yang seolah-olah mirip salib. Padahal, jika dilihat dari sisi samping, terlihat jelas jika yang ada di tengah itu adalah Tugu Pemandengan.

"Marilah kita berpandangan secara jernih. Jangan digothak-gathuke, otak atik jadi mathuk istilah Jawanya.

"Kalau itu salib yang marah pertama kali harusnya umat Nasrani, 'kok salib diinjak-injak'. Salib itu diletakkan ditempat yang terhormat, di atas, bukan diletakkan di jalan," ungkapnya.

Apa tanggapan kepolisian Solo?

Kapolres Solo, Kombes Polisi Ribut Hari Wibowo meminta warga kota Solo tidak terprovokasi atas persoalan tersebut.

"Energi kita jangan dihabiskan untuk yang menuju ke arah SARA. Saya himbau masyarakat tidak terprovokasi dan masyarakat lebih bijak untuk melihat suatu permasalahan," kata dia.

Berita terkait