Diprotes, Pemkot Solo mengecat jalan di depan balai kota yang 'mirip salib'

Sebagian paving blok dicat abu-abu Hak atas foto FAJAR SODIQ UNTUK BBC NEWS INDONESIA
Image caption Sebagian paving blok dicat abu-abu untuk membuat desain jalan tak lagi menyerupai salib, namun menjadi delapan penjuru mata angin.

Setelah sebelumnya Pemerintah Kota Solo mengatakan tidak akan mengubah desain mosaik koridor di depan balai kota Solo yang disebut berbentuk salib, akhirnya Pemkot pun 'mengalah' dan memutuskan untuk mengecat sebagian mosaik itu.

"Cagak (tiang) yang berwarna merah dan bentuknya seperti salib itu diganti warnanya sudah selesai. Ditutup dengan cat," kata Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo usai meninjau bagian mosaik yang kini telah dicat warna abu-abu pada Jumat (18/01).

Dengan ditutup cat abu-abu, menurut Achmad, gambarnya kini tidak lagi menyerupai salib, namun seperti "bunga atau delapan penjuru mata angin."

Solusi sementara ini -- karena paving blok berwarna yang aslinya belum diganti sedang cat dapat luntur- dibuat setelah ratusan orang dari berbagai organisasi Islam yang tergabung dalam Dewan Syariah Kota Surakarta menggelar aksi demo pada hari yang sama.

Massa yang berdemo membawa poster penolakan mosaik yang disebut mirip salib di Jalan Jenderal Sudirman, Solo, dan membawa foto jalan yang dipotret dari atas untuk menegaskan bentuk mosaik itu menyerupai salib.

"Tidak boleh ada salib di depan Balai Kota Solo yang menjadi tempat publik. Di mana secara nyata simbol itu sangat nyata terlihat," kata Koordinator aksi demo, Muhammad Sigit kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia.

Hak atas foto DISKOMINFO SURAKARTA
Image caption Pemkot menyatakan mosaik yang mengelilingi Tugu Pemandengan itu berbentuk delapan arah mata angin, dan bukan berbentuk salib - simbol umat Nasrani.

Pemkot Solo kemudian menggelar pertemuan dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Solo, FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), yang hasilnya disampaikan pada saat aksi masih berlangsung:

"Kami usul supaya betul-betul menjurus menjadi bentuk mata angin. Bagian yang papak itu dibuat lancip atau runcing. Karena filosofi gambar itu delapan penjuru mata angin, hanya saja yang digambar tebal itu empat dan empat lainnya kecil," kata Ketua MUI Solo, Subari.

"Dari Gusti Puger (Keraton Solo) minta delapan penjuru mata angin itu dibuat sama. Tidak yang empat besar dan empat kecil," tambahnya.

Subari sebelumnya menyayangkan cara pandang yang cuma melihat mosaik itu dari atas yang seolah-olah mirip salib. Padahal, jika dilihat dari sisi samping, terlihat jelas jika yang ada di tengah itu adalah Tugu Pemandengan.

"Marilah kita berpandangan secara jernih. Jangan digothak-gathuke, otak atik jadi mathuk istilah Jawanya," katanya pada Kamis (17/01).

Hak atas foto FAJAR SODIQ UNTUK BBC NEWS INDONESIA
Image caption "Tidak boleh ada salib di depan Balai Kota Solo yang menjadi tempat publik. Di mana secara nyata simbol itu sangat nyata terlihat," kata Koordinator aksi demo, Muhammad Sigit
Hak atas foto FAJAR SODIQ UNTUK BBC NEWS INDONESIA
Image caption Massa yang berdemo membawa foto jalan yang dipotret dari atas untuk menegaskan bentuk mosaik itu menyerupai salib.

Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo, juga menegaskan bahwa Wali kota FX Hadi Massa yang berdemo membawa poster penolakan mosaik yang disebut mirip salib di Jalan Jenderal Sudirman, Solo, dan membawa foto jalan yang dipotret dari atas untuk menegaskan bentuk mosaik itu menyerupai salib.Rudyatmo, yang beragama Katolik, tidak ikut merencanakan dan merancang mosaik paving blok di depan balai kota Solo.

"Ini direncanakan oleh perencana yang sudah teken kontrak," kata Achmad.

Berita terkait