Ahok segera bebas: Apakah imbauan 'jangan golput' didengar Ahokers?

Ahok saat pemilihan gubernur DKI Jakarta, 15 Februari 2017. Hak atas foto Getty Images
Image caption Ahok dijadwalkan bebas pada Kamis (24/01).

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan segera bebas dari tahanan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, pada hari Kamis (24/01), dan para pendukungnya yang disebut "Ahokers" tidak sabar menanti arahan Ahok terkait Pilpres 2019.

Ahok menulis surat di balik jeruji tahanan dan meminta pendukungnya untuk tidak golput pada pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) pada tanggal 17 April 2019 mendatang.

"Saya mengimbau seluruh Ahokers jangan ada yang golput, kita perlu menegakkan empat pilar bernegara kita, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI dengan cara memiliki partai politik yang mau menegakkan empat pilar di atas di seluruh Indonesia," tulis Ahok.

"Kita harus mendukung agar di DPRD-DPRD, dan DPR RI maupun DPD RI memiliki jumlah kursi yang mencapai di atas 30% untuk partai yang teruji dan berkomitmen pada Pancasila," ujar Ahok, yang juga meminta untuk dipanggil dengan sebutan BTP, bukan Ahok, dalam suratnya.

Sebelumnya, beberapa Ahokers kecewa dan berniat golput saat Joko Widodo memutuskan untuk menggandeng Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden dalam Pilpres 2019. Hal ini terkait dengan peran Ma'ruf dalam kasus penistaan agama Ahok.

Pada bulan Oktober 2016, Ma'ruf mengeluarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan ucapan Ahok telah menghina Al-Quran dan ulama.

Fatwa ini kemudian digunakan sebagai basis untuk menuntut Ahok atas kasus penistaan agama. Pada bulan Mei 2017, Ahok diputuskan bersalah dan dihukum dua tahun penjara.

"Suara Ahok masih penting untuk Ahokers"

Susy Rizky, seorang Ahokers yang pada tahun 2017 silam menginisiasi pengumpulan KTP warga sebagai penjamin penangguhan penahanan Ahok, mengatakan suara Ahok masih sangat didengar oleh para pendukungnya.

Hak atas foto Anadolu Agency
Image caption Pendukung Ahok menanti himbauan Ahok terkait Pilpres 2019

Susy, yang kini mencalonkan diri sebagai anggota legislatif melalui PSI, mengatakan Ahokers menanti Ahok mengeluarkan pesan terkait Pilpres 2019.

Terutama, kata Susy, terkait arah dukungan ke pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.

"Mungkin satu-dua pernyataan (Ahok) diperlukan karena kita dengar kan banyak Ahokers ini yang masih menunggu pesannya Ahok soal Pak Maaruf Amin. Orang masih inget dulu bahwa Maaruf ini ikut membuat Fatwa buat Ahok. Jadi, seandainya Ahok bikin pernyataan, ya mungkin tidak secara langsung menyebut nama Pak Maaruf, tapi Ahok bilang kita sudah memaafkan, atau bagaimanalah, supaya Ahokers mau kembali ikut pemilu," kata Susy.

Pendukung Ahok lainnya, Yayong Waryono, yang pada dua tahun silam aktif menggelar aksi untuk membela Ahok, mengatakan hal senada.

"Saya pikir Ahokers itu akan mendengarkan apa yang diminta sama Pak Ahok untuk tidak golput. Keyakinan saya itu adalah bahwa selama ini para Ahokers ini memang sangat loyal terhadap figur atau sosok Ahok," katanya.

"Penawar" bagi para pendukung loyal

Direktur Populi Center Usep S Ahyar mengatakan Ahok memiliki basis pendukung yang sangat loyal. Hingga kini, katanya, nama Ahok masih sering muncul dalam survei dengan pertanyaan terbuka yang diajukan lembaganya.

Usep mengatakan loyalitas itu akan membuat mereka mendengar arahan Ahok.

"Saya kira (himbauan) itu penting dan Pak Ahok mengambil posisi lebih umum ya, lebih normatif, misalnya mengajak tidak golput karena itu tidak menghasilkan apa-apa," katanya.

Hak atas foto Anadolu Agency
Image caption Ma'ruf Amin menerbitkan Fatwa MUI yang mengatakan Ahok menghina Islam. Fatwa ini kemudian digunakan sebagai basis untuk membawa kasus Ahok ke meja hijau

Himbauan itu, kata Usep, juga merupakan "penawar" untuk para pendukung Ahok yang kecewa saat Jokowi menggandeng Maaruf.

Meski himbauan Ahok penting, Usep mengatakan, sebenarnya para loyalis Ahok kebanyakan sudah mantap untuk memilih Jokowi karena kubu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, sering tidak sejalan dengan prinsip-prinsip Ahok.

"Agak sulit juga membayangkan loyalis Ahok pindah ke (pasangan calon) nomor 02," kata Usep.

Dia menambahkan dibandingkan dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah sekitar 193 juta jiwa, sebetulnya massa Ahokers tidak signifikan. Namun, lanjutnya, Ahokers memiliki pengaruh yang besar di masyarakat.

"Kalau dibanding dengan DPT yang 193 juta, tentu (jumlah Ahokers) tidak terlalu banyak. Namun, mereka juga kelompok berpengaruh karena lumayan menguasai media dan mempunyai pengalaman menggerakan massa pada pencalonan Ahok. Kalau bergerak tentu gemanya akan terasa," ujar Usep.

Tidak akan aktif politik dalam waktu dekat

Meski dinanti-nanti oleh para pendukungnya, Ahok tidak berencana untuk ikut dalam kegiatan politik apa pun dalam waktu dekat, ujar salah satu staf pribadi Ahok, Natanael Ompusunggu.

"Nggak ada kegiatan. (Ahok akan) menikmati masa bebas dengan berlibur," kata Natanael dalam pesan tertulisnya.

Hak atas foto Barcroft Media/Getty
Image caption Salah satu sahabat Ahok, Djarot Saiful Hidayat, mengatakan Ahok akan "menikmati hidup" selepas bebas dari penjara

Selain itu, Ahok, katanya akan bersiap untuk menjadi pembicara dalam beberapa acara yang digelar di beberapa negara.

Hal ini sejalan dengan perkataan Ahok sebelum dia dibui pada Mei 2017. Saat itu, Ahok, yang kalah pada pemilihan gubernur, mengatakan dia tertarik untuk menjadi pembicara dan membuat talkshow-nya sendiri yang bertajuk "Ahok Show".

Namun, Natanael. belum memastikan kapan Ahok akan berangkat ke luar negeri.

"Ya nanti dibahas setelah beliau keluar... Nanti diinfokan lagi setelah kita rapat besar dengan Bapak (Ahok)," kata Natanael.

Hak atas foto AFP
Image caption Ahok akan berlibur setelah bebas dari penjara.

Salah satu sahabat dekat Ahok, Djarot Saiful Hidayat, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang merupakan mantan gubernur DKI Jakarta, mengungkapkan hal senada.

"Jalan-jalan beliau kemana-mana, menikmati hidup. (Jadi) pembicara termasuk, di beberapa tempat," kata Djarot.

"Ahok Show tuh nanti (ditayangkan) setelah (Ahok) menikmati hidup, disusun materinya nanti."

Mungkin akan gabung PDIP di masa mendatang

Djarot mengatakan andai Ahok mau berkecimpung di dunia politik, ia akan bergabung dengan PDI-P. Namun, lanjutnya, hal itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat, karena Ahok berniat untuk terlebih dahulu menikmati hidupnya.

"Kalau dia nanti ada niat untuk masuk partai politik, dia pasti ke PDI-P lah. Kan dia menganggap PDI-P yang paling lempeng ya untuk menjalankan ideologi Pancasila, PDI-P sebagai partai nasionalis yang beragama," kata Djarot.

Kemungkinan Ahok bergabung dengan PDI-P dinilai tercermin dalam surat terakhir yang ditulisnya.

Pada suratnya yang terakhir, misalnya, Ahok menyinggung soal konsep empat pilar bernegara, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Konsep itu diperkenalkan oleh mantan Ketua MPR Almarhum Taufiq Kiemas, yang juga merupakan suami Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Staf Ahok lainnya, Ima Mahdiah, yang merupakan calon legislatif dari PDIP, menyiratkan kecondongan Ahok pada partai di mana dia bernaung dalam cuitan di Twitternya.

Sebelumnya, Ahok juga pernah mendukung Ima dalam suratnya.

Ahokers berharap Ahok kembali terjun ke dunia politik

Susy Rizky, seorang pendukung Ahok, mengatakan dia sangat berharap Ahok dapat kembali berkecimpung di dunia politik, meski saat ini kelihatannya Ahok lebih tertarik menjadi pembicara pada sejumlah seminar.

Hak atas foto TIMUR MATAHARI/Getty
Image caption Pendukung Ahok berharap Ahok kembali ke dunia politik

"Harapan orang ke dia masih besar. Kita hormati keinginan Pak Ahok kalau nggak mau ke politik. Tapi, kita masih berharap beliau mau kembali karena sosok seperti beliau ini kita belum ketemu penggantinya. Barangkali satu-dua orang yang mirip ada, tapi ya yang seperti dia ini masih jarang," kata Susy.

"Saya percaya satu hari (keinginannya untuk menjadi pembicara saja) akan berubah karena passion-nya kan di politik. Perhatian dia ke orang kecil kan besar, apakah dia tahan untuk nggak berpolitik?"

Sementara itu, Direktur Populi Center, Usep S Ahyar, meyakini bahwa Ahok tidak akan lepas dari kegiatan politik.

"Ahok adalah orang politik maka kecenderungan politiknya pasti akan muncul," katanya.

Berita terkait