Pelajar Makassar, pencipta komik yang siap disebarkan di seluruh dunia

komik, perempuan, unicef, rizka Hak atas foto UNICEF
Image caption Rizka Raisa Fatimah Ramli

Seorang remaja yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan memenangkan lomba komik dunia untuk mendorong anak-anak bersuara terhadap kekerasan yang dihadapi.

Rizka Raisa Fatimah Ramli, 18 tahun, memenangkan lomba komik dunia yang diselenggarakan oleh UNICEF dan Comics Uniting Nations. Komiknya mengungguli 3.600 karya dari 130 negara.

Dia menciptakan karakter "Cipta", pahlawan super yang bisa membuat benda yang digambar anak-anak menjadi nyata, demi menghentikan kekerasan.

Saat diberitahu bahwa dirinya memenangkan lomba komik UNICEF, bukannya senang tapi Rizka malah panik.

"Saya langsung kepikiran sekolah, nggak senang, bawaannya panik, takut tidak fokus sekolah karena ini," kata Rizka kepada BBC News Indonesia.

Pasalnya sebagai anak kelas tiga SMA Negeri 2 Makassar, beberapa bulan lagi Rizka akan segera menghadapi ujian kelulusan, dan seleksi masuk perguruan tinggi. Dia ingin masuk Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, atau Institut Teknologi Bandung jurusan DKV.

Menggambar menjadi cara Rizka untuk menyampaikan isi hatinya. Rizka menjelaskan bahwa dia sebenarnya adalah anak yang pemalu.

"Orang bilang saya pendiam, susah diajak ngomong, dingin, padahal saya sebenarnya pemalu dan takut ngomong sama orang," kata dia. Karena itulah sejak kecil dia menggambar. Beberapa komiknya, biasanya komedi, telah diunggahnya di berbagai platform, seperti Instagram, 1cak, atau DevianArt.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Ciptakan superhero anti-bullying, pelajar Indonesia menang lomba komik dunia

Komik-komik yang dibuat Rizka banyak berasal dari pengalamannya sehari-hari. Sebagai remaja perempuan, dia banyak menyaksikan perisakan dan tindakan kekerasan di sekitarnya.

"Saya pernah punya pengalaman jadi korban senioritas waktu kelas satu, waktu itu teman-teman seangkatan juga jadi korban," kata Rizka. Namun saat itu Rizka merasa tidak dapat berbuat apa-apa "karena itu sudah menjadi kebiasaan".

Rizka juga merasa bahwa di sekitarnya banyak perempuan yang kesulitan bersuara saat berhadapan dengan kekerasan, bullying maupun pelecehan seksual.

"Misalnya teman-teman saya yang perempuan biasa dicatcall, mereka disuit-suit sama orang di jalan, itu kan sexual harassment. Mereka merasa nggak enak, tapi kalau melapor respon orang-orang "ngapain gitu aja melapor". Jadi mereka bingung mau melapor ke mana," kata Rizka.

Hak atas foto Rizka Raisa Fatimah Ramli
Image caption Komik buatan Rizka.

Sebagai remaja perempuan Rizka pun pernah punya pengalaman serupa.

"Sebagai anak perempuan saya sering kena catcall waktu pergi atau pulang sekolah, dan walaupun pernah tegur pelakunya, mereka tidak mau dengar dan malah menganggap kita sebuah ancaman buat mereka. Saya resah kalau ada hal-hal semacam itu," kata dia.

Rizka menjelaskan bahwa ketika dia menegur pelaku pelecehan verbal tersebut, justru dia yang dihujat.

"Saya tegur pakai Bahasa Makassar, saya suruh berhenti. Saya bilang, "kalian pikir itu enak?" tapi malah saya yang diserang balik. Ya sudah," kata dia.

Berbagai pengalaman itu yang membuat dia menciptakan karakter Cipta.

Cipta adalah karakter anak perempuan berusia 15 tahun, masih SMP, yang punya kekuatan super untuk membuat gambar menjadi hidup dan mengendalikannya.

Cipta berusaha mengurangi kekerasan yang terjadi di sekitarnya. "Jadi misalnya dia membuat satu benda, dia kendalikan benda itu untuk melindungi orang di sekitarnya," kata Rizka.

Cipta menjadi kekuatan alternatif untuk membantu orang lain bicara tentang kekerasan yang menimpa dirinya atau di sekitarnya.

Hak atas foto Rizka Raisa Fatimah Ramli
Image caption Rizka bercerita tentang perisakan di komiknya.

Ide tentang kekuatan Cipta sebenarnya tercipta karena tekanan tenggat waktu. Rizka mengaku dipengaruhi oleh komik dan game yang pernah dibacanya selama ini. "Saya ambil kekuatan yang jarang ada dalam karakter tokoh lain, tapi juga yang sederhana dan tidak memberatkan anak SMP," kata dia.

"Dengan Cipta saya berharap menginspirasi setidaknya satu orang lain untuk berani speak up atas diri mereka sendiri atau orang lain, dengan caranya masing-masing. Seperti cipta dengan gambarnya," kata Rizka. Jika tak bisa menolong orang lain yang ada masalah, menurut Risca, setidaknya mereka bisa mendengarkan masalah orang lain.

Kini Rizka dibantu oleh tim komikus profesional akan menyiapkan buku komik tentang Cipta secara lengkap.

Hasilnya akan dipamerkan di Forum Politik Tingkat Tinggi yang akan dihadiri para pemimpin dunia di Markas PBB di New York, Juli 2019. Komik Risca juga akan disebarkan kepada anak-anak di sekolah-sekolah di seluruh dunia.

Topik terkait

Berita terkait