Dewan Pers: Tabloid Indonesia Barokah bukan produk jurnalistik, apa langkah polisi?

Indonesia Barokah Hak atas foto Detik.com
Image caption Salah satu artikel dalam Indonesia Barokah yang dianggap menyudutkan Prabowo-Sandiaga

Dewan Pers menyatakan tabloid Indonesia Barokah, yang isinya dianggap memojokkan kubu capres dan cawapres Prabowo-Sandiaga, bukanlah produk jurnalistik, sehingga penyelidikan selanjutnya diserahkan kepada polisi.

Hasil penyelidikan Dewan Pers menyebutkan isi tabloid tersebut memuat opini tanpa melakukan verifikasi, klarifikasi, maupun konfirmasi kepada pihak terkait.

"Pertama kita lihat dari konten, jadi kontennya dia lebih banyak menulis ulang dari media-media yang ada, di media lain," kata Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo kepada wartawan BBC New Indonesia, Callistasia Wijaya, Selasa (29/01).

"Padahal, wartawan harusnya melakukan konfirmasi, klarifikasi, verifikasi kalau ada isu-isu, itu tidak ada sama sekali," tambahnya.

Kedua, lanjutnya, di beberapa tulisan memang ada tone negative campaign, cenderung menghakimi dan seterusnya.

Hak atas foto Didik Suhartono/ANTARA
Image caption Kubu Prabowo dan Jokowi saling tuduh siapa dalang di balik Indonesia Barokah

Selain itu, alamat redaksi Indonesia Barokah, yang tertulis di Jalan Haji Kerenkemi, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, adalah fiktif, ujarnya.

Yosep menambahkan nama-nama struktur redaksi tidak dapat dipastikan kebenarannya.

"Kita sudah mengecek nama-nama redaksi, kita tidak menemukan satu nama pun yg ada di log book Dewan Pers sebagai wartawan yang pernah mengikuti ujian kompetensi. Di dalam syarat perusahaan pers untuk verifikasi kan minimal pemred-nya yang punya kompetensi utama," ujarnya.

Yosep menambahkan produk pers umumnya tidak dikirimkan melalui jasa pos, seperti ke pondok-pondok pesantren atau masjid, tapi dipasarkan.

"Oleh karena itu kami menyimpulkan ini bukan produk jurnalistik, ini lebih mirip tulisan atau selebaran gelap karena nggak tau siapa penulisnya," katanya.

Yosep mengatakan Dewan Pers akan segera mengirimkan surat rekomendasi resmi terkait kasus ini kepada pihak Bawaslu RI, Bawaslu Jateng, yang ikut melaporkan kasus ini, juga Bareskrim.

Bawaslu: bola di kepolisian

Sementara itu, komisioner Bawaslu RI Fritz Edward Siregar mengatakan proses penyelidikan kasus ini, yang dilakukan melalui sentra penegakan hukum terpadu (Gakkumdu) sudah selesai pada tanggal 24 Januari lalu.

Hak atas foto Detik.com
Image caption BPN melaporkan Indonesia Barokah ke Dewan Pers (25/1)

Sentra gakkumdu, lanjutnya, berkesimpulan bahwa tidak ada bentuk pidana pemilu pada kasus ini.

Indonesia Barokah, tambahnya, tidak memuat unsur kampanye.

"Kami serahkan ke pihak kepolisian untuk menindaklanjuti apakah ada dugaan pelanggaran pidana umum lainnya," ujar Fritz kepada BBC News Indonesia.

Fritz mengatakan, sampai saat ini sentra Gakkumdu belum berencana untuk menyelidiki ulang kasus ini.

"Bolanya kini berada di tangan kepolisian," katanya.

Polisi masih menunggu rekomendasi Dewan Pers

Kepala Biro PeneranganMasyarakat Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, mengatakan hingga saat ini pihak kepolisian belum menemukan unsur pidana dalam kasus ini.

Hak atas foto MUHAMMAD IQBAL/ANTARA
Image caption Bawaslu RI mengatakan tidak ada unsur kampanye pada tabloid Indonesia Barokah

"Belum (ditemukan unsur pidana). Dari Bawaslu kan dinyatakan tidak ada tindak pidana pemilu," katanya.

Dedi mengatakan kepolisan masih menunggu surat resmi dari Dewan Pers terkait kasus ini. Namun, Dedi, belum tahu terkait langkah apa yang akan dilakukan pihak kepolisian terkait kasus ini.

"Saya belum baca (isi surat Dewan Pers). Dibaca nanti apa (isi suratnya)," kata Dedi.

Ia menambahkan sampai sejauh ini, peredaran Indonesia Barokah sudah ditahan di PT Pos Indonesia, yang ditunjuk sebagai kurir oleh pihak pengirim, juga pondok pesantren dan masjid terkait untuk meredakan keresahan masyarakat.

Kubu Prabowo-Jokowi saling tuding

Bagaimanapun, peredaran tabloid Indonesia Barokah membuat kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo-Sandiaga dan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, saling tuding soal siapa dalang di balik tabloid tersebut.

Hak atas foto Detik.com
Image caption Salah satu artikel dalam Indonesia Barokah yang dianggap menyudutkan Prabowo-Sandiaga

Aksi saling tuding dimulai dari Juru Bicara (Jubir) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, yang menuding Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Irfan atau "Ipang" Wahid, sebagai sosok di balik peredaran tabloid Indonesia Barokah.

Andre mengatakan timnya menemukan rekam jejak digital Ipang di website Indonesiabarokah.com yang mempunyai logo yang sama dengan tabloid Indonesia Barokah.

"Untuk pendalaman pihak kepolisian yang punya wewenang untuk mendalami, menyelidiki," kata Andre kepada wartawan BBC Indonesia, Callistasia Wijaya, Selasa (29/01).

Ipang Wahid: 'Demi Allah... saya bukan pembuat tabloid Indonesia Barokah'

Tudingan ini dibantah oleh Ipang yang mengatakan website Indonesiabarokah.com tidak ada kaitannya dengan tabloid Indonesia Barokah - yang peredarannya sudah meluas, dari awalnya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, hingga kini ke Jakarta, NTT dan Kalimantan Selatan.

"Terkait Tabloid Indonesia Barokah, demi Allah saya tegaskan bahwa saya bukan pembuat tabloid Indonesia Barokah," katanya dalam akun Instagram pribadinya.

Hak atas foto Oky Lukmansyah/ANTARA
Image caption Tabloid Indonesia Barokah tersebar di sejumlah masjid di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur

Ipang mengatakan website Indonesia Barokah adalah gerakan yang sifatnya terbuka, di mana siapa pun boleh ikut berkontribusi untuk mendatangkan kebaikan bagi Indonesia.

"Indonesia Barokah bukan organisasi. Apalagi badan usaha. Itu lebih seperti kumpulan pemikiran dari banyak orang. Satu di antara dasarnya adalah kegelisahan terhadap maraknya fitnah dan hoax yang-alih-alih mendatangkan kebaikan bagi Indonesia- tapi justru dapat memecah belah bangsa."

"Karena terbuka, maka ada begitu banyak orang-orang baik sepemikiran, yang ingin ikut berkontribusi dalam membuat karya konten kreatif dengan segala bentuknya," ujar Ipang.

"Saya pribadi, bersama beberapa kawan, ikut terlibat dalam membuat setidaknya 3 konten video. 'Islam itu Indah', 'Deddy Mizwar' dan 'Parodi Bohemian. Monggo dicek 3 karya di atas," ujar Ipang.

Lebih lanjut, dalam keterangan tertulisnya, Ipang mengatakan salah seorang stafnya, Nizar, membeli server nizar@ipangwahid.com untuk pekerjaan kantor.

"Lantas, ada anak-anak volunteer yang ingin membuat website Indonesia Barokah. Terus kontak Nizar untuk meminjam server tersebut, dan oleh Nizar diizinkan karena memang tujuannya untuk dakwah. Jadi, pembelian server tidak serta merta dibeli untuk pembuatan website karena memang digunakan untuk kegiatan kantor secara general," ujarnya. "Website yg dibuat para volunteer itu sendiri pun hanya berumur sebulan karena nggak diurus lagi oleh anak-anak yang membuatnya," katanya.

Apa komentar Politikus Partai Demokrat Andi Arief?

Sementara itu, Wakil sekjen Partai Demokrat Andi Arief turut melancarkan tudingan terkait tabloid Indonesia Barokah.

Tudingan ini segera dibantah oleh pihak-pihak terkait.

Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Raja Juli Antoni, balik menuding Andi Arief terkait cuitannya itu.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, menyatakan dia bisa saja menuntut Andi Arief atas tudingannya itu.

"Bisa jadi (saya laporkan). Saya sedang lagi kampanye keliling Jatim dulu. Lihat perkembangan dulu," ujar Grace melalui pesan tertulis.

Berita terkait