Dengue fever mewabah: Pencegahan dengan jaga kebersihan dan tanam serai

DBD Hak atas foto CHOO YOUN-KONG/AFP/Getty Images
Image caption Kementerian Kesehatan menerima laporan sebanyak 12.240 orang terjangkit DBD di sejumlah daerah, 115 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

Sejumlah daerah ditetapkan sebagai wilayah kejadian luar biasa dengue fever atau demam berdarah dengue setelah 115 orang meninggal dunia.

Sejak awal Januari 2019, Kementerian Kesehatan menerima laporan sebanyak 12.240 orang terjangkit DBD di sejumlah daerah, meningkat bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menurut Kepala Biro Humas Kementerian Kesehatan, Widyawati Rokom.

"Ada kenaikan, tapi kita berharap kenaikan itu tidak sampai melonjak sekali," ujar Widyawati kepada BBC News Indonesia, Selasa (29/09).

Ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Padjajaran Bandung, Ridad Agoes memandang kasus demam berdarah ini belum akan mereda.

"Karena memang di seluruh Asia Tenggara ini Indonesia masih merupakan daerah yang hyper endemic," ujar Ridad.

"Selama ini pemerintah selalu berupaya agar kasus mereda tapi tampaknya belum adanya solusi yang baik untuk mengatasi permasalahan," ujarnya.

Di ibu kota Jakarta yang merupakan daerah endemis DBD, angka kasus terus mengalami pelonjakan dalam beberapa pekan terakhir.

Hak atas foto ANTARA FOTO/PRASETIA FAUZANI
Image caption Kementerian Kesehatan menerima laporan sebanyak 12.240 orang terjangkit DBD di sejumlah daerah, 115 orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.

"Mulai bergerak naik mulai Akhir Desember. Beberapa rumah sakit mulai melaporkan dan Januari trennya semakin meningkat," ujar Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti.

Dari 613 kasus di ibu kota, paling banyak terjadi di Jakarta Selatan, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Dengan kondisi sekarang, Widyastuti memprediksi pada Februari dan Maret 2019, seluruh wilayah DKI Jakarta akan berpotensi masuk dalam kategori waspada Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD).

Kejadian luar biasa

Kepala Biro Humas Kementerian Kesehatan, Widyawati Rokom menjelaskan kasus DBD tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Ratusan kabupaten dan kota di 34 provinsi melapor mendeteksi kasus DBD.

Beberapa wilayah sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) DBD termasuk Sulawesi Utara, juga Kabupaten Manggarai Barat dan Kota Kupang di Nusa Tenggara Timur.

"Sebelumnya, Kabupaten Kapuas di Kalimantan Tengah juga ditetapkan sebagai KLB DBD, namun karena sudah bisa diatasi tanggal 2 Januari lalu pemerintah daerah mencabut KLB itu," ujar Widyawati.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Image caption Pemerintah Kota Kupang menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di Kota Kupang menyusul sampai dengan Kamis (24/1) jumlah penderita DBD di kota itu mencapai 127 kasus. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/aww.

Ponorogo menjadi daerah terbaru yang ditetapkan menjadi KLB DBD dan disampaikan langsung oleh Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, Senin (28/01), setelah tiga orang warganya meninggal karena penyakit ini.

"Penyebaran DBD dalam taraf mengkhawatirkan karena jumlahnya terus naik, maka rapat memutuskan agar ditetapkan kejadian luar biasa biar bisa melakukan tindakan," ujar Ipong seperti dikutip dari detik.com.

Tindakan yang ditempuh, lanjut Ipong, adalah dengan menambah alat fogging yang dimiliki pemerintah daerah, dari yang sebelumnya hanya lima menjadi 12 alat fogging.

Selain itu, pemerintah juga mengimbau puskesmas dan RSUD Ponorogo untuk menerima pasien DBD tanpa menarik biaya apapun alias gratis.

Apa penyebabnya?

Keberadaan kasus DBD identik dengan musim hujan karena pada saat musim tersebut menimbulkan banyak genangan air. Namun demikian, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai DBD tidak hanya di musim hujan, tapi juga musim kemarau terutama di tempat-tempat genangan air atau barang bekas.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti menyebut udara lembab akibat musim hujan panjang membuat nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue penyebab penyakit DBD mudah berkembang biak, sementara genangan air dapat menjadi sarang nyamuk aedes aegypti.

Virus kemudian menyebar melalui gigitan nyamuk di tubuh manusia.

Widyastuti menjelaskan gejala yang dialami pasien DBD antara lain suhu tubuh yang tinggi secara mendadak selama tujuh hari.

Hak atas foto EPA
Image caption Nyamuk Aedes aegypti

Tiga kali kena DBD

Theo Brahmana, warga Jakarta Selatan yang baru saja dirawat di rumah sakit selama enam hari mengatakan dia telah tiga kali terkena demam berdarah.

"Badan lemas banget, tulang semua linu, lalu kepala pusing, badan meriang dan kalau makan selalu muntah," ujar Theo.

Hasil tes darahnya menunjukkan trombosit atau keping sel darah -salah satu komponen darah yang mempunyai fungsi utama dalam pembekuan darah- mengalami penurunan, dari level normal 150.000, menjadi 136.000.

Hal yang sama terulang ketika dia cek darah untuk kedua kalinya, trombositnya turun menjadi 126.000.

"Setelah cek darah kedua kalinya trombosit benar turun, ternyata sudah positif DBD," kata dia.

Jaga kebersihan, tanam serai

Ahli ilmu kesehatan masyarakat yang juga Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung, Ridad Agoes memandang, solusi paling efektif untuk mengatasi wabah DBD adalah dengan vaksin.

Namun sayangnya, hasil uji coba vaksin ini belum 100% memuaskan karena ketika dilakukan percobaan di beberapa kota di seluruh Indonesia, coveragenya dibawah 60%

"Sedangkan untuk melindungi masyarakat dengan imunisasi ini, harus di angka 80%-90%," kata dia.

Tahun lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menginstruksikan para dokter anak dan masyarakat untuk tidak melakukan pemberian vaksin dengvaxia kepada anak-anak.

Hal ini menyusul hasil penelitian terbaru dari Sanofi Pasteur, perusahaan asal Prancis yang memproduksi vaksin tersebut, yang menyebut vaksin itu justru berbahaya bagi mereka yang belum pernah terjangkit virus dengue.

Hak atas foto TED ALJIBE/AFP/Getty Images
Image caption Setelah penelitian puluhan tahun, vaksin dengue Dengvaxia akhirnya mulai beredar mulai tahun lalu

Dengan belum efektifnya vaksin, upaya pencegahan diimbau dengan partisipasi masyarakat dengan menjaga kebersihan tempat tinggalnya.

Widyawati dari Dinas Kesehatan DKI menjelaskan hal ini perlu dilakukan untuk mengendalikan vektor penyebar virus dengue. Upaya yang dilakukan adalah dengan program pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M.

"Menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali, dan mendaur ulang atau memusnahkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air," jelas Widi.

Hak atas foto Nurphoto/Getty Images
Image caption Selama ini masyarakat Indonesia berupaya menekan perkembangbiakkan nyamuk aedes aegypti dengan melakukan pengasapan atau fogging.

Bila fogging atau pengasapan dilakukan untuk memberantas nyamuk dewasa, untuk memberantas jentik-jentik nyamuk warga dianjurkan untuk melakukan larvasidasi, atau pemberantasan jentik dengan menaburkan bubuk larvasida di tempat penampungan air.

"Sehingga telur yang sempat menetas di situ tidak berkembang menjadi nyamuk dewasa," ujar Widi.

Warga juga diimbau melakukan penanaman tanaman yang tidak disukai nyamuk, seperti zodia dan serai

"Tanaman itu mengeluarkan aroma yang tidak disukai nyamuk," cetus Widi.

Selain kedua tanaman di atas, lavender, bawang putih dan geranium juga merupakan tanaman pengusir nyamuk yang bisa ditanam di rumah.

Hak atas foto Dimas Ardian/Getty Images
Image caption Indonesia dilaporkan sebagai negara kedua dengan kasus DBD terparah di 30 negara wilayah endemis. Kebanyakan korban adalah anak-anak

Untuk warga yang memiliki kolam, Widi mengimbau agar kolam itu diisi dengan ikan yang akan memakan jentik-jentik nyamuk.

"Nggak perlu ikan yang mahal, seperti ikan cupang," kata dia.

Kepala Biro Humas Kementerian Kesehatan, Widyawati Rokom menambahkan masing-masing wilayah juga memiliki kader juru pemantau jentik (jumantik) yang tersebar di tiap rukun warga.

Tugasnya adalah mengedukasi, memotivasi, mengajarkan dan memantau gerakan pemberantasan sarang nyamuk ini, tambahnya.

Berita terkait