Dukungan ASN ke Jokowi 'naik', tapi 'masih kalah populer' dari Prabowo

Jokowi, Maruf, Sandiaga, Prabowo, Pilpres, surat suara Hak atas foto MUHAMMAD ADIMAJA/ANTARA
Image caption Survei Charta Politika menyebut sebanyak 44,4% ASN mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno sedangkan persentase yang menyokong Joko Widodo-Ma'ruf Amin mencapai 40,4%.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno lebih populer di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN), menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh Charta Politika.

Lembaga ini menyebut sebanyak 44,4% ASN mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno sedangkan persentase yang menyokong Joko Widodo-Ma'ruf Amin mencapai 40,4%.

Direktur eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengatakan dukungan terhadap Jokowi pada 2019 sebenarnya mengalami kenaikan jika dibandingkan lima tahun lalu.

"Dulu (2014) sebetulnya jauh lebih ekstrem perbedaannya, Jokowi hanya sekitar 30% lawan (Prabowo) 60%," ungkap Yunarto.

Kenaikan persentase dukungan ini menurut Yunarto "mungkin karena banyak ASN muda yang merasa diuntungkan oleh kebijakan Jokowi".

"Sebenarnya pada 2019, kita lihat ASN itu yang dari golongan muda dan baru, ada lelang jabatan ASN merasa dipuaskan, karier politik mereka juga bisa cepat berjalan dengan sistem punishment dan reward," tambah Yunarto.

Hak atas foto RODERICK ADRIAN MOZES/KOMPASCOM
Image caption "Dulu (2014) sebetulnya jauh lebih ekstrem perbedaannya, Jokowi hanya sekitar 30% lawan (Prabowo) 60%," kata Yunarto.

BBC News Indonesia, mencoba untuk mencari tahu opini ASN di sejumlah institusi Pemerintah Provinsi di Jakarta.

Salah satu ASN berusia 28 tahun mengaku akan mendukung Jokowi lantaran sistem yang lebih transparan.

"Apa-apa sekarang lebih terbuka, jadi kita bekerja lebih nyaman dan aman, karena semua sistem sudah tersentralisasi, merasa lebih enak dengan kondisi sekarang," katanya.

Di tempat lain, seorang ASN berusia 40 tahun menyatakan akan mendukung Prabowo.

"Saya tidak suka, karena selama ini, saya tidak melihat hasil kepemimpinannya," katanya.

Beberapa orang yang ditemui tidak ingin membahas masalah politik dalam lingkungan kerja mereka, namun seorang ASN yang terakhir bersedia diwawancara, mengaku masih galau karena debat pilpres Januari lalu.

'Tak terlalu berpengaruh'

Hak atas foto IRSAN MULYADI/ANTARA
Image caption Yunarto Wijaya mengatakan popularitas Prabowo-Sandiaga di kalangan ASN antara lain disebabkan oleh program kenaikan gaji.

Yunarto Wijaya mengatakan popularitas Prabowo-Sandiaga di kalangan ASN antara lain disebabkan oleh program kenaikan gaji.

Selain itu, langkah Jokowi menawarkan sistem rekrutmen dan penganggaran secara elektronik "membuat kebanyakan ASN tidak ingin keluar dari zona nyaman sehingga memilih Prabowo-Sandi".

Jumlah ASN di Indonesia sekitar 4,3 juta orang yang membuat mereka tidak menjadi penentu utama kemenangan calon presiden, kata ketua Komisi Aparatur Negara, Sofian Effendi.

"Jumlah ASN hanya sekitar 4,3 juta orang sementara jumlah pemilih lebih dari 190 juta jiwa. Katakanlah para ASN memiliki keluarga, dua kali lipat jumlahnya jadi delapan juta, tetap hanya 3% (dari total pemilih)," kata Sofian.

Meski demikian, ASN di sejumlah daerah diperkirakan berpotensi mempengaruhi pemilih lain, pandangan yang dibenarkan Kabid Humas Badan kepegawaian Negara (BKN) Muhamad Ridwan.

"Kalau di daerah PNS (ASN) sebagai panutan, tempat orang bertanya, tempat mencari referensi teman-teman sekitar dan keluarganya, itu menarik, sekaligus berbahaya kalau tidak hati-hati," kata Ridwan.

Dia menekankan ASN harus netral dan tidak menunjukkan pilihan politik secara terbuka di muka publik.

Berita terkait