Aktivis Indonesia gelar solidaritas untuk Venezuela, bagaimana sebenarnya relasi kedua negara?

venezuela Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Sejumlah pelajar berkumpul di salah satu kawasan di Caracas, 16 Januari lalu, dengan latar belakang mantan Presiden Hugo Chavez.

Venezuela yang kini sedang dilanda krisis ternyata memiliki kedekatan emosional secara historis dengan Indonesia. Faktor itu yang kemudian mendorong para aktivis membuat gerakan solidaritas untuk Venezuela.

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Venezuela mulai terjalin sejak 1959 pada masa pemerintahan Soekarno. Sejak itu, kerjasama dalam sektor perdagangan dan pariwisata terus terjalin.

Pada tahun 1960-an, Soekarno begitu populer di Venezuela, dan negara-negara Amerika Latin umumnya, atas usahanya menginisiasi Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia Afrika. Dia dikenal sebagai tokoh sosialis dan anti imperialisme.

Foto-foto Soekarno banyak ditemukan di sekolah-sekolah di Venezuela, kata Surya Anta, inisiator Solidaritas untuk Venezuela.

"Bagi mereka [Soekarno] dipandang disejajarkan dengan Simon Bolivar yang membebaskan Venezuela dari penjajahan, sebagai tokoh anti-kolonialisme mereka memandangnya," ujar Surya kepada BBC News Indonesia, Jumat (08/02).

Menurut pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Suzie Sudarman hal ini tak lepas dari politik luar negeri Indonesia pada saat itu yang berusaha "memupuk hubungan dengan negara-negara non-sekutu."

"Terutama negara-negara yang berpaham sama-sama sosialis. Tapi dalam kenyataannya pendekatan-pendekatan yang semacam ini dianggap tidak netral," jelas Suzie.

Sempat merenggang pada saat pemerintahan Soeharto, hubungan erat kedua negara kembali terjalin pada Agustus 2000 saat presiden Venezuela pada saat itu, Hugo Chavez berkunjung ke Indonesia atas undangan presiden Indonesia kala itu, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Tak lama kemudian, Gus Dur berkunjung ke Venezuela untuk menghadiri pertemuan negara-negara produsen minyak, KTT OPEC di Caracas pada Oktober 2000.

Hak atas foto Reuters
Image caption Presiden ke-empat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan presiden Venezuela, Hugo Chavez ketika bertemu dalam KTT OPEC pada Oktober 2000 di Caracas, Venezuela

Solidaritas untuk Venezuela

Kedekatan emosional itu yang kemudian mendorong kelompok aktivis Indonesia untuk membuat gerakan solidaritas untuk Venezuela, atas krisis yang terjadi di negara itu.

Menurut Surya, ketegangan politik di Venezuela disebabkan ada campur tangan Amerika. Semestinya, Amerika "membiarkan pertentangan dalam negeri antara satu kubu dan satu kubu lain diselesaikan secara demokratis dan beradab".

Mereka juga menuntut Amerika untuk mencabut sanksi dan blokade yang ditujukan untuk Venezuela.

"Sanksi dan blokade terhadap Venezuela itu yang menyakiti kehidupan ekonomi rakyat Venezuela," tegasnya.

Venezuela mengalami krisis ekonomi selama beberapa tahun terakhir yang ditandai dengan hiperinflasi dan kekurangan pasokan makanan serta obat-obatan. Jutaan warga Venezuela pun melarikan diri ke negara-negara tetangga.

Krisis semakin parah ketika terjadi ketegangan politik pasca-pemilu pada akhir tahun lalu.

Pada Januari lalu, Nicolas Maduro dilantik untuk menjabat sebagai presiden untuk kedua kalinya menyusul pemilihan umum yang dipertanyakan mengingat sejumlah figur oposisi tidak dapat berpartisipasi akibat dipenjara atau diboikot.

Beberapa pekan kemudian, Juan Guaido – yang menjabat sebagai ketua Majelis Nasional Venezuela – memproklamirkan dirinya sebagai presiden.

AS dan lebih dari 20 negara lainnya telah mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara.

Hak atas foto FEDERICO PARRA/AFP
Image caption Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido, yang berusia 35 tahun, menyatakan dirinya sebagai presiden sementara negara tersebut.

Di sisi lain, Rusia, Cina, Meksiko, dan Turki menyokong Maduro.

Indonesia, sebagaimana dipaparkan juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, "mengikuti dari dekat dan prihatin dengan perkembangan situasi di Venezuela".

Indonesia menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan yang dapat memperburuk situasi.

"Dengan tetap menghormati kedaulatan dan tanpa bermaksud untuk mencampuri urusan dalam negeri Venezuela, penting agar suara rakyat Venezuela untuk didengarkan," sebut Armanatha.

Meski hubungan kedua negara sangat erat di masa lalu, Suzie Sudarman yang juga Direktur Pusat Kajian Wilayah Amerika di Universitas Indonesia mengatakan sulit memulihkan hubungan dengan Venezuela.

"Selama kita masih membutuhkan dana-dana pembangunan, kita lebih takut dengan Amerika Serikat dibandingkan mencoba memulihkan persahabatan dengan Venezuela," kata Suzie.

Dia mengungkapkan, pada masa pemerintahan Hugo Chavez – presiden sebelum Maduro – Venezuela menawarkan minyak mentah dengan harga murah kepada Indonesia. Namun, Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono menampiknya.

Hak atas foto AFP
Image caption Hugo Chavez meninggal karena kanker pada tahun 2013 dan kemudian digantikan oleh Nicolas Maduro

"Kebutuhan pembangunan di Indonesia lebih berat ke arah membuka investasi dari negara-negara adikuasa, dibandingkan Venezuela."

"Jadi sementara hati masih terayu oleh gagasan sosialisme dan anti imperialisme, tetapi pada akhirnya kita harus melihat kenyataan bahwa kita tidak berkemampuan, sehingga terpaksa harus patuh pada negara-negara yang lebih kuat," jelas Suzie.

Tahun ini, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Venezuela genap berusia 60 tahun. Namun, meski hubungan politik kedua negara tak seerat dulu, kedua negara tetap menjalin hubungan perdagangan dan kerjasama sektor pariwisata.

Venezuela mengimpor karet, pakaian, katun, furnitur, beras dan makanan hewan dari Indonesia. Sebaliknya, Venezuela mensuplai kebutuhan energi untuk Indonesia.

Di bidang pariwisata pun, belum banyak turis Venezuela yang plesiran ke Indonesia. Pada 2017, tercatat hanya 76 orang warga negara Venezuela yang berwisata ke Indonesia. Jarak dan biaya merupakan kendala untuk mendongkrak sektor pariwisata.

Topik terkait

Berita terkait