Milenial 'mudah' terpapar radikalisme karena situs organisasi Islam moderat 'kalah renyah'?

radikalisme Hak atas foto ANTARA FOTO/Maulana Surya
Image caption Perempuan berhijab dan cadar menggelar aksi eksperimen sosial untuk menepis isu radikalisme di Solo, Jawa Tengah, Minggu (06/01).

Sebanyak 10% kelompok muda setuju menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan boleh menggunakan kekerasan untuk membela agama.

Kecenderungan itu terjadi karena mereka terpapar situs atau akun di sosial media beraliran intoleransi maupun radikalisme, yang diklaim cukup menarik dari segi konten.

Hasil penelitian yang dilakukan lembaga survei dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu dilakukan tahun lalu dengan menyaring 2.300 responden di seluruh Indonesia.

"Yang sangat signifikan, siswa dan mahasiswa itu banyak beraktivitas di media sosial cenderung lebih intoleran dibanding yang tidak mengakses internet. Ini menunjukkan ada korelasi tentang cara keberagamaan generasi milenial dengan sosial media," ujar Guru Besar UIN Jakarta, Jamhari, kepada wartawan, Rabu (20/02).

Berdasarkan penelitian itu pula, situs atau akun milik kelompok intoleran atau radikal memenuhi dunia maya dan menyasar kalangan muda.

Sementara, situs yang dipunyai organisasi Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah dianggap tidak menarik.

"Mengapa website-website besar seperti NU dan Muhammdiyah kurang diminati? Karena terlalu berat. Generasi milenial itu mau belajar agama semudah mengakses informasi makanan. Mereka maunya cepat dan ready," jelasnya.

Karena itu pihaknya menggelar Convey Festival yang dikhususkan kepada pemuda dengan tujuan mengenalkan agama dalam gaya baru melalui e-book dan permainan online.

Salah satu anak muda, Khaira Dhania, sempat terpapar konten-konten intoleransi dan radikalisme lewat media sosial.

Pada tahun 2015, ia bersama keluarganya pergi ke Suriah untuk mewujudkan keyakinannya tentang kekhalifahan. Ia mengaku kerap mendapat dan menyebarkan konten berita mengenai propaganda ISIS tanpa mengecek kebenarannya.

"Saya dulu itu termasuk orang yang kalau ada berita tidak di-cross-check. Saya telan bulat-bulat. Seiring waktu, saya sadar apa yang saya lakukan salah," tukas pelajar SMA di Jakarta ini.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan dengan Pimpinan Pusat dan Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor se-Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (11/01). Pertemuan itu membahas sejumlah kasus-kasus radikalisme yang ada di Indonesia.

Berdasarkan pengalamannya saat itu, tidak banyak situs keagamaan Islam moderat yang ia peroleh dan kalaupun ada, kontennya tak menarik. Bagi perempuan 19 tahun ini, situs keagamaan untuk generasi muda sebaiknya sederhana dan tidak bertele-tele.

"Anak-anak muda itu pengennya simpel belajar agama. Di media sosial misalnya video durasi satu menit," imbuhnya.

Perang situs

Direktur NU Online, Savic Ali, mengakui situs nu.or.id belum menjangkau anak muda milenial perkotaan.

Sebab lahirnya website tersebut hanya untuk melayani pembaca nahdliyin. Tapi keterbatasan itu, menurutnya, menjadi pemicu membuat konten-konten yang bisa menyasar kalangan milenial.

"Kami sudah mulai mempersiapkan bahwa banyak pengguna online dan kelompok rentan itu yang justru kelompok milenial kota yang punya basis agama yang tidak punya orang untuk ditanya untuk soal keagamaan. Kami melangkah ke situ," ujar Savic Ali kepada BBC News Indonesia, Rabu (20/02).

Kendati begitu, situs milik NU sudah bisa menempati posisi pertama dalam populasi situs Islam yang didominasi kelompok intoleran seperti eramuslim.com, voa.islam, dan nahimunkar.org.

Ia mengklaim, dalam sehari, kunjungan ke nu.or.id mencapai 150 ribu. Hal itu, kata Savic, menunjukkan situs-situs berisi intoleransi dan radikalisme sudah tak terlalu diminati.

Yang ia khawatirkan, tak banyak situs seperti NU Online hadir, sehingga potensi penyebaran intoleransi dan radikalisme akan tetap ada.

"Masalahnya website keislaman moderat yang menerima demokrasi dan Pancasila itu jumlahnya sedikit. Ibaratnya NU Onlone sendirian di 10 besar, selebihnya isinya yang politis intoleran sama yang ulta-konservatif atau wahabi," tukasnya.

Hak atas foto DELIL SOULEIMAN/AFP/Getty Images
Image caption Pejuang Pasukan Demokratik Suriah (SDF) melawan kelompok ISIS di Suriah timur.

Pengamat terorisme, Ridlwan Habib, mengatakan sulitnya situs NU dan Muhamadiyah mencuri perhatian kaum milenial disebabkan nihilnya tokoh muda. Selain itu, narasi dan kemasan yang disuguhkan di situs atau akun media sosial mereka kalah renyah.

"NU punya orang besar seperti Gus Mus, tapi maaf mereka generasi tua. Sepuh. Mereka tidak menjembatani pada generasi muda yang siap menghadapi era milenial ini. Kalau mau disuruh pilih Felix Siauw atau Gus Mus, ya pasti pilih Felix," jelas Ridlwan Habib kepada BBC News Indonesia, Rabu (20/02).

"Narasi yang ditulis mereka juga mudah masuk ke generasi muda, apalagi yang masih mencari jati diri. Ketika mereka mencari panutan di YouTube yang muncul ustaz-ustaz medsos, 'keilmuannya kosong' tapi bahasanya renyah, heroik. Orang jadi gandrung dan share," sambungnya.

Karena itu, ia menyarankan NU dan Muhammadiyah memperbanyak konten-konten yang disukai anak muda seperti tentang percintaan dan pencarian jati diri.

Sementara pemerintah diharapkan bisa mendorong tokoh muda dari dua organisasi tersebut agar lebih sering tampil di televisi maupun kegiatan anak muda.

"Ibaratnya kita masuk restoran dalam kondisi lapar dan kita akan lihat menu yang ada. Masyarakat Indonesia dan milenial muda dalam kondisi lapar tentang Islam. Kalau di media sosial hanya tersedia menu-menu begitu, pasti akan dimakan. Makanya NU dan Muhamadiyah harus bikin menu-menu baru dan disajikan di medsos," kata Ridlwan.

Topik terkait

Berita terkait