Dugaan pelecehan seksual di kampus: Kesaksian 'Zahra' dan 'Sandra', dua mahasiswi di Bandung

Setelah terungkap dugaan kasus pelecehan seksual di kampus UIN SGD Bandung, dua mahasiswi di kota itu mengungkapkan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh dosennya.

Zahra

Zahra—bukan nama sebenarnya—berada sejengkal dari kelulusannya dari sebuah universitas ketika dugaan pelecehan seksual terjadi padanya.

Beberapa hari seusai sidang akhir, Zahra menemui seorang dosen pengujinya, Robi—bukan nama sebenarnya—untuk tanda tangan revisi skripsi.

Namun, alih-alih membahas revisi skripsi, Robi mengajak Zahra berbincang ngalor-ngidul.

Demi menjaga kesopanan, Zahra menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan baik, meski ia risih Robi terus memegang-megang tangannya sepanjang pembicaraan.

Tak diduga, tangan Robi tak hanya menggerayangi tangan Zahra, tapi juga memeluknya dan memegang paha dan dadanya.

Zahra, yang sangat terkejut dan terpukul, melepaskan diri dari Robi dan berlari ke luar ruangan, menangis sejadi-jadinya.

Dengan dukungan teman-teman dekatnya, Zahra melaporkan kasus itu ke pihak dekanat. Namun, respons pihak dekanat di luar dugaannya.

"Dia (dekannya) minta maaf karena sudah menunjuk Robi sebagai dosen penguji saya. Dia minta saya memaafkan," kata Zahra.

Setelah melapor, beberapa mahasiswi lain, yang merupakan seniornya, mengatakan kepada Zahra bahwa mereka pernah mengalami hal serupa.

"Bukan aku menyalahkan kakak tingkat aku. Setelah aku pikir-pikir kenapa mereka keep masalah ini untuk mereka sendiri? Dampaknya kan aku merasakan apa yang mereka rasakan," kata Zahra.

Meski kondisi psikologisnya terganggu setelah kejadian itu, Zahra memberanikan diri untuk mencari keadilan ke tingkat fakultas.

Harapannya hanya satu, ia ingin Robi dikeluarkan dan tidak ada korban berjatuhan lagi di kampus itu.

Pihak kampus kemudian mengadakan mediasi di mana Zahra dihadapkan dengan Robi. Saat itu, Zahra mengatakan Robi berulang kali mengelak telah melecehkan Zahra.

Setelah didesak beberapa mahasiswa untuk mengaku, Robi meminta maaf setelah menantang Zahra untuk membawa kasus itu ke meja hijau.

Hari berlalu tanpa Robi diberi sanksi oleh pihak kampus.

Zahra dan kawan-kawannya pun mengejar penuntasan kasus itu hingga ke tingkat rektorat dan yayasan.

Desakan itu membuat Robi mengundurkan diri. Kampus mengabulkan pengunduran diri itu dengan mengeluarkan surat pemberhentian terhadap Robi.

Meski Robi sudah hengkang dari kampus, proses panjang Zahra mencari keadilan belum tuntas.

Ia masih diundang untuk menjelaskan kasusnya dengan pihak jajaran atas kampus, di mana dia mengaku kerap menghadapi tudingan-tudingan dari tim pemeriksa atas apa yang dihadapinya.

"Aku dipojokin, dibilang 'Kamu dong yang ngasih peluang? Kenapa kamu nggak langsung keluar dari ruangan setelah tanda tangan? Kenapa kamu nggak melawan?'" kata Zahra mengingat pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan seorang pemeriksa kepadanya.

Tanpa jasa konseling yang disediakan kampus, Zahra mengatakan ia mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri dan melupakan apa yang terjadi dengan menyibukan diri dengan berbagai aktivitas.

Respons pihak kampus:

Seorang juru bicara kampus mengatakan kasus telah selesai dengan Robi berhenti bekerja di kampus itu.

Sementara itu, seorang staf rektorat kampus mengatakan kampus membentuk komisi etik untuk memeriksa kasus ini. Namun, ke depannya, ia mengatakan belum memastikan apa langkah kampus jika hal serupa terjadi di waktu mendatang.

"Dilihat dulu kasusnya, gimana kebenarannya. Ada penyelidikan dulu," katanya.

Sandra

Seorang mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sandra—bukan nama sebenarnya—menceritakan pengalamannya saat mengalami dugaan pelecehan seksual verbal oleh seorang dosen.

Sandra mengaku bahwa dosen itu, Jon—bukan nama sebenarnya—memanggilnya ke ruangannya, satu hari sebelum kegiatan pengabdian masyarakat di sebuah desa.

Saat itu Sandra tergabung dalam tim di mana dia adalah satu-satunya perempuan di sana. Jon mempermasalahkan keanggotaannya di tim itu.

"Dia mengajukan pertanyaan kamu suka ngerokok ya? Kamu suka ngebir ya. Pertanyaan ketiga 'Kamu suka tidur sama banyak cowok ya?' Saya membela diri, saya bilang 'Pak iya saya merokok, saya ngebir jarang-jarang, tapi bapak nggak bisa bilang saya tidur sama banyak cowok," kata Sandra.

BBC

"Dia bilang 'Ya, karena kamu masuk kelompok yang mayoritas cowok semua'. Saya berusaha tenang, tapi saya semakin nggak enak," ujarnya.

Sandra menambahkan beberapa waktu lalu, ia pernah mendapatkan chat-chat tidak pantas dari seorang dosen lain yang mengajar di UIN.

Namun, Sandra mengatakan ia sudah menegurnya dan dosen itu sudah minta maaf. Maaf itu cukup untuk tidak menindak lanjuti kasus ini, kata Sandra.

"Itu sudah selesai dan nggak ada apa-apa lagi," katanya.

Respons pihak kampus

Jon menolak ketika akan diwawancara terkait hal ini.

"Yang ini sudah selesai. Nggak perlu dibesar-besarkan," ujarnya dalam pesan tertulis.

Sementara itu, ketua tim Pemeriksaan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Dosen UIN Sunan Gunung Djati, Ahmad Sarbini, mengatakan dia tidak tahu menahu tentang percakapan tersebut.

Saat ini, Ahmad mengatakan tim yang dipimpinnya hanya fokus ke dua kasus pelecehan seksual sebagaimana diberitakan sebuah media daring nasional.

Di luar kasus ini, Ahmad mengatakan kampus menunggu laporan dari mahasiswi yang mengaku mengalami pelecehan.

Faktor relasi kuasa

Dindin Syaripudin, dari divisi komunitas Sapa Institut, badan nirlaba yang fokus pada isu perlindungan hak perempuan di Bandung, mengatakan kebanyakan kasus dugaan pelecehan dilaporkan terjadi karena faktor relasi kuasa, di mana dosen diduga memanfaatkan posisi mahasiswa yang lebih lemah.

Beberapa kasus, katanya, bermodus akademik, seperti bimbingan skripsi dan perbaikan nilai.

Keengganan untuk melaporkan kasus itu, menurut Dindin, membuat para terduga pelaku merasa aman melancarkan tindakannya.

Ia mengajak para penyintas pelecehan seksual untuk berani membuka kasusnya agar dugaan praktik pelecehan seksual di lembaga pendidikan dapat diusut tuntas dan pelakunya dikenakan sanksi.

"Kesaksian penyintas bisa jadi bukti bahwa kasus (pelecehan) itu ada. Saya mengajak para korban untuk berani bersuara," kata Dindin.

Naskah: Callistasia Wijaya. Ilustrasi dan elemen interaktif: Davies Surya.

Berita terkait