Darurat rabies di dua kabupaten, Nusa Tenggara Barat cegah perpindahan anjing antarpulau

anjing liar Hak atas foto Sayoga/Getty Images

Pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) melakukan penjagaan di pelabuhan untuk mencegah perpindahan anjing ke daerah lain di wilayah itu, seiring ditetapkannya Kabupaten Dompu dan Sumbawa, sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies.

Pejabat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Budi Septiani, mengatakan 825 warga di Dompu, Sumbawa, Mataram, dan Lombok Utara, melaporkan bahwa mereka sudah digigit anjing liar dalam beberapa waktu belakangan ini.

Dari jumlah tersebut, kata Budi, 26 warga Dompu dan empat warga Sumbawa sudah dinyatakan positif terjangkit virus rabies.

Sebelumnya, enam warga Dompu meninggal dunia, diduga karena terkena penyakit ini.

NTB terdiri dari dua pulau yaitu Sumbawa dan Lombok.

Budi mengatakan oleh karena penyakit rabies sudah menyebar di Sumbawa, pemerintah daerah akan memastikan virus itu tidak "menyeberang" pulau dengan melarang perpindahan anjing dari pulau itu ke Pulau Lombok.

"Kami mencegah masuknya Hewan Pembawa Rabies (HPR) ke Pulau Lombok. Kita melakukan pengawasan di karantina pelabuhan-pelabuhan dan penyeberangan," kata Budi kepada BBC News Indonesia, Senin (25/02).

Budi mengatakan kasus KLB rabies di NTB baru terjadi tahun ini karena secara historis NTB bebas dari rabies.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, lanjutnya, sedang menyelidiki kemungkinan virus ini berasal dari anjing daerah lain yang masuk NTB meski sebelumnya provinsi ini sudah melarang masuknya anjing dari daerah sekitar, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali, yang belum bebas rabies.

Untuk jaga kebun

Keberadaan anjing liar di Dompu, di mana kasus rabies paling banyak terjadi, memang tidak terlepas dari aktivitas masyarakat setempat, kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu Zainal Arifin.

Hak atas foto Sayoga/Getty Images
Image caption KLB rabies di NTB baru terjadi tahun ini karena secara historis NTB bebas dari rabies.

"Kebiasaan orang di sini kan pada musim tanam, masyarakat itu untuk menjaga kebun ladangnya mereka menangkap anjing liar," kata Zainal.

Selain itu, tambahnya, warga sering membawa anjing untuk menemani mereka berburu.

Ia mengatakan telah mendengar kabar bahwa banyak warga digigit anjing liar dalam kurun waktu Oktober hingga Desember tahun lalu.

Namun, ujarnya, saat itu warga memandang digigit anjing adalah hal lumrah.

Di awal Januari tahun ini, seorang pemilik anjing melaporkan bahwa ia telah digigit oleh hewan peliharaannya sendiri. Dinas pun mengambil sampel dari anjing itu dan mengujinya di Balai Besar Veteriner (BB-Vet) Denpasar dan menemukan anjing itu terinveksi rabies.

Saat itulah, katanya, Dompu menetapkan status KLB rabies.

Vaksinasi hingga eksekusi anjing

Zainal mengestimasi bahwa terdapat sekitar 22.200 anjing bertuan dan liar di wilayah Dompu. Untuk mencegah penyebaran rabies, pemerintah kabupaten Dompu melakukan vaksinasi antirabies ke anjing-anjing yang bertuan.

Sementara itu, tambahnya, anjing-anjing liar dieksekusi dengan cara ditembak.

"Penembakan tidak kami lakukan dengan sembarangan, tapi di daerah-daerah yang kita anggap rawan (rabies)," kata Zainal.

Hak atas foto Sayoga/Getty Images
Image caption Untuk memitigasi penyebaran rabies, pemerintah Kabupaten Dompu melakukan vaksinasi antirabies ke anjing-anjing peliharaan.

Sementara itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Budi Septiani, mengatakan terdapat sekitar 75.000 anjing di NTB dengan 60% di antaranya adalah anjing liar.

Pemerintah daerah, ujar Budi, sedang melakukan upaya untuk mengendalikan populasi hewan penular rabies dengan mendata kepemilikan hewan.

Meski jumlah anjing liar sangat banyak, Budi mengatakan dinas belum bisa melakukan sterilisasi hewan.

Apa yang harus dilakukan ketika tergigit anjing?

Zainal mengatakan warga NTB yang digigit anjing perlu melakukan langkah pertolongan pertama dengan mencuci bagian tubuh yang tergigit dengan air dan sabun selama 10 hingga 15 menit.

Setelah itu, Zainal menyarankan warga untuk langsung pergi ke puskesmas untuk mendapatkan vaksin anti rabies.

Nasrullah, warga Woja, Dompu, menceritakan keponakannya, Safira, adalah salah satu warga yang digigit anjing liar dan dirawat di puskesmas.

Ia mengatakan Safira, yang duduk di bangku kelas 4 SD, digigit oleh anjing liar di dekat sawah di Kecamatan Kempo, Dompu, pada bulan November tahun lalu. Sampai sekarang, katanya, ia belum sehat.

"Dia mengalami demam, sakit kepala, dan pegal-pegal," kata Nasrullah.

Nasrullah mengatakan warga cemas atas KLB rabies yang sedang terjadi ini.

Maka, katanya, ia mendukung kebijakan pemerintah untuk mengeliminasi anjing-anjing liar yang ada.

Berita terkait