Terduga teroris ditangkap di Sibolga: Berkaitan dengan pemilu?

sibolga Hak atas foto Antara/Damai Mendrofa
Image caption Personel kepolisian berjaga di lokasi terjadinya ledakan yang diduga bom saat penggerebekan terduga teroris di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/3).

Dua pengamat menyebut peristiwa ledakan yang menyertai penangkapan terduga teroris bernama Husain alias Abu Hamzah di Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/3), berkaitan dengan pemilihan umum, walau Kapolri Jenderal Tito Karnavian maupun Presiden Joko Widodo sudah membantahnya.

Rakyan Adi Brata, peneliti International Association For Counter Terrorism and Security Professionals Center For Security Studies (IACSP), memperkirakan serangan yang akan dilakukan Abu Hamzah terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden pada 17 April mendatang.

Dia menyebut, dalam grup Telegram ISIS di Indonesia, pada pertengahan Februari lalu, beredar fatwa yang dipakai ISIS di Irak terkait dengan mengamalkan "Amaliyah" saat proses pemilu di Irak. Pesan itu, ujarnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

"Penerjemahan itu bukan tanpa tujuan, mengingat Indonesia juga sedang dalam rangka pemilu, saya melihatnya sebagai sebuah potensi untuk justifikasi untuk copy-paste fatwa yang dipakai oleh Daulah Islam di Irak untuk dipergunakan juga di Indonesia," kata Rakyan kepada wartawan BBC News Indonesia Callistasia Wijaya.

Rakyan mengatakan kelompok terduga teroris paham bahwa mereka tidak dapat menggagalkan pemilu.

Namun, ujarnya, mereka tetap akan melancarkan serangan untuk menunjukkan eksistensi dan memperlihatkan bahwa mereka masih kuat.

Hak atas foto Antara/Damai Mendrofa
Image caption Personel kepolisian berjaga di lokasi terjadinya ledakan saat penggerebekan terduga teroris di kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan, Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Kota Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/3).

Senada dengan Rakyan, pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan rencana serangan itu terkait dengan pemilu serentak 2019.

Menurut Chaidar, kelompok terduga teroris melihat pemilu sebagai momentum yang cukup menguras perhatian orang, maka mereka menganggap momen itu penting untuk melakukan serangan.

"Mereka menganggap demokrasi, pilpres, itu adalah sebuah kebatilan dan mereka akan menyerang upacara atau kampanye-kampanye kebatilan tersebut," kata Chaidar.

Chaidar mengatakan otoritas keamanan perlu mengantisipasi eskalasi gerakan terorisme menjelang Pilpres, khususnya di Medan, Riau, Lampung, dan beberapa daerah di Pulau Jawa seperti Surabaya, Jawa Tengah, juga Bekasi dan Tangerang.

Sementara itu, baik Kapolri Jenderal Tito Karnavian maupun Presiden Joko Widodo sudah membantah bahwa kasus ini terkait dengan pilpres mendatang.

"Tidak (terkait dengan Pilpres), ini sebenarnya dimulai dari pengungkapan teroris yang ada di Lampung jadi tidak ada kaitannya dengan pilpres," kata Jokowi di JI-EXPO Kemayoran, Jakarta (13/3), seperti diberitakan Kompas.com.

Karakteristik ISIS

Lepas dari dugaan motif Abu Hamzah, Rakyan memperkirakan pria tersebut adalah anggota JAD yang terafiliasi dengan ISIS.

Hal itu, katanya, bisa dilihat dari jenis bahan peledak low-explosive yang mereka gunakan.

Rakyan menyebut kelompok terafiliasi ISIS biasanya merakit bahan peledak dengan cara yang tidak terlalu canggih, berbeda dengan kelompok Jamaah Islamiyah, kelompok afiliasi Al Qaeda, yang merakit senjata berdaya ledak tinggi.

Selain itu, lanjutnya, bom bunuh diri yang dilakukan istri Abu Hamzah dengan mengajak anak-anaknya, sesuai dengan karakter Daulah Islamiyah.

"Ada satu buah krakteristik di Daulah Islamiyah, semua itu adalah Anshorut Daulah (pembela daulah), semua jadi tentara, nggak ada batasan, anak atau istri ikut terlibat," kata Rakyan.

Dia menduga serangan yang direncanakan terkait dengan kondisi ISIS yang terdesak.

"Saya melihat ini sebagai sebuah kelompok yang terpancing juga dengan kasus-kasus di Timur Tengah di mana ISIS sudah semakin terdesak dan wilayah kantong terkuatnya juga sudah jatuh," ujar Rakyan.

Ia mengatakan Abu Hamzah adalah "pemain lama" yang berkecimpung dalam JAD sejak tahun 2016, sementara jaringannya, Rinto, yang ditangkap di Lampung pekan lalu, adalah pemain baru.

Hak atas foto Antara/SEPTIANDA PERDANA
Image caption Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memberikan keterangan terkait penangkapan terduga teroris kepada wartawan usai menghadiri acara silaturahmi di Pondok Pesantren Al Kautsar Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/3) malam.

'Istri meledakkan diri'

Pasca-penangkapan seorang terduga teroris bernama Husain alias Abu Hamzah di Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (12/3) kemarin, setidaknya terjadi tiga ledakan bom terdengar dari arah rumah pelaku.

Dua ledakan berlangsung pada Rabu (13/3) sekitar pukul 02.00 WIB. Polisi lantas menyatakan bahwa sang istri meledakkan diri dalam kejadian tersebut.

"Info dari lapangan, istri meledakkan diri sekitar pukul 02.00 WIB," ungkap Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Rabu (13/3), yang dikutip Detik.com

Hingga Rabu pagi, polisi masih mensterilisasi lokasi. Warga dievakuasi untuk menghindari potensi ledakan bom susulan pasca ledakan Rabu dini hari tersebut.

Husain alias Abu Hamzah ditangkap Densus 88 Antiteror di luar rumahnya Selasa, 12 Maret 2019, sekitar pukul 14.23 WIB. Ia merupakan anggota jaringan terduga teroris RIN alias Putra Syuhada (PS) yang ditangkap di Lampung hari Sabtu (9/3) lalu. Jaringan tersebut diduga berafiliasi dengan ISIS.

Saat polisi akan menggeledah rumah Husain, sekitar pukul 14.40 WIB, sebuah bom meledak dan melukai petugas. Belum diketahui apakah bom tersebut sengaja diledakkan atau tidak.

"Ini yang sedang kita dalami, yang paling penting kita melakukan negosisasi. Dari situ langkah-langkah ke depan melakukan penyelidikan, termasuk melakukan pendalaman yang diduga bom," tutur Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal kepada wartawan, Selasa (12/3), seperti dikutip dari Detikcom.

Di dalam rumah yang terletak di Jl. KH Ahmad Dahlan, Gang Sekuntum, Pancuran Bambu, Sibolga, Sumatera Utara, polisi mengatakan masih terdapat istri dan anaknya.

Sejak ledakan bom pertama, polisi terus bernegosiasi dengan istri Husain alias Abu Hamzah agar menyerahkan diri.

"Istrinya itu tidak mau keluar dan bersama tiga anaknya," ujar Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, saat berkunjung ke salah satu pesantren di Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (12/3/2019) malam.

Dia menyebutkan, tim kepolisian sudah berupaya untuk memasuki rumah pelaku. Diketahui, terdapat bom yang telah dirakit tersimpan di dalam rumah.

Berita terkait