Evakuasi bayi lima bulan dari banjir Sentani: 'Mukanya tertutup tanah, kayu yang menindihnya digergaji'

Bayi di Sentani Hak atas foto AFP
Image caption Saat dilakukan penyisiran di lokasi bencana, personel militer berhasil menyelamatkan bayi laki-laki berusia lima bulan yang diduga terperangkap di reruntuhan di bawah rumahnya.

Seorang bayi berusia lima bulan berhasil diselamatkan dari banjir bandang yang menerjang kawasan Jayapura, Papua.

Juru bicara Kodam Cendrawasih, Muhammad Aidi, mengatakan bayi tersebut terperangkap di reruntuhan di bawah rumahnya selama kira-kira lima jam.

"Saat ditemukan ia tertindih balok-balok atau kayu-kayu. Kami selamatkan dan kami bawa ke rumah sakit," kata Aidi kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo, Minggu (17/03).

Bayi ini pertama kali ditemukan oleh anggota TNI bernama Syahrir Ramadan saat melakukan penyisiran untuk mencari warga di lokasi bencana pada Minggu pagi.

Ketika itulah Syahrir mendengar tangis bayi.

"Saya berjalan di pinggir-pinggir rumah ketika mendengar tangisan bayi. Saya masuk ke rumah, tapi bayinya tidak ada. Ternyata bayinya ada di bawah kolong," kata Syahrir kepada wartawan BBC News Indonesia, Ayomi Amindoni, di Jayapura, hari Senin (18/03).

"Bayi itu berada di bawah kayu-kayu. Kondisinya lemas ... saya langsung meminta tolong rekan-rekan yang lain untuk mengeluarkan bayi tersebut," katanya.

Evakuasi bayi ini diarahkan oleh anggota TNI lain bernama Hanafi.

Ia bersama beberapa anggota membongkar kayu-kayu papan yang ada di dekat bayi. Kayu-kayu ini harus dipotong agar si bayi bisa diambil.

"Bayi ini seperti tertutup oleh tanah. Kami ambil air satu gelas, kami siram dia, kami bersihkan matanya. Kemudian matanya kami tutup, dan kayu-kayu di atasnya kami gergaji. Matanya perlu ditutup agar serbuk kayu tak masuk ke matanya," ungkap Hanafi.

Proses ini memakan waktu cukup lama. Begitu bayi diambil, bayi ini langsung dibawa dengan sepeda motor untuk mendapatkan perawatan.

Banjir yang terjadi pada hari Sabtu (16/03) telah menyebabkan sedikitnya 79 orang meninggal dunia dan ribuan warga mengungsi.

Hak atas foto Antara
Image caption Hingga Minggu malam waktu setempat 73 warga meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kawasan Jayapura, Papua.

Jubir Kodam Cenderawasih Muhammad Aidi mengatakan saat bayi itu ditemukan, ayahnya datang dalam keadaan panik dan stres.

"Di rumah sakit diberi perawatan dan bayi ini kondisinya membaik dan sudah dijemput oleh pihak keluarga pada Minggu pagi," kata Aidi.

Terjang sembilan kelurahan

Banjir bandang ini menerjang sembilan kelurahan di Kabupaten Sentani.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, mengungkapkan lebih dari 1.000 warga Sentani dievakuasi ke kantor bupati dan rumah dinasnya.

Banjir bandang yang terjadi di malam hari membuat para warga tidak mempersiapkan diri, sehingga yang diperlukan saat ini adalah kebutuhan pokok.

"Karena tengah malam musibah ini, jadi ada yang dalam kondisi tidur, belum siap sama sekali, mereka hanya keluar membawa baju yang di badan," ujar Mathius kepada BBC News Indonesia.

Hak atas foto Relawan Squad PB Indonesia
Image caption Hingga Minggu (17/03) pukul 10.00 WIB, tercatat dampak banjir bandang yang menerjang sembilan kelurahan di Kabupaten Sentani, Papua, sebanyak 50 orang meninggal dunia dan 59 orang luka-luka.

Lebih jauh, Mathius menerangkan bahwa kebutuhan air juga terkendala karena sumber air berasal dari Gunung Cyclop, sehingga dibutuhkan tangki air bersih untuk kebutuhan warga dan keperluan rumah sakit yang menampung korban luka-luka.

Kepala Humas Polda Papua Ahmad Musthofa Kamal mengatakan tiga lokasi yang terdampak parah akibat terjangan banjir bandang ini adalah di sekitar bandara, perumahan Bintang Timur dan sekitar lapangan udara.

Sebagian besar wilayah yang terdampak hingga kini masih tertutup lumpur material banjir. Diperkirakan masih banyak korban yang terperangkap materi lumpur.

"Air masih mengalir cukup deras tapi perlu diwaspadai. Kita masih melakukan pencarian," kata dia.

Hak atas foto Antara
Image caption Kerusakan akibat banjir bandang di Sentani yang memaksa lebih dari 4.100 orang mengungsi.

Proses evakuasi masih berlangsung

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan dari 50 orang meninggal dunia, 38 jenasah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Papua, 7 jenasah di RS Marthin Indey, dan 5 jenasah di RS Yowari.

Sebanyak 49 korban sudah berhasil diidentifikasi sedangkan satu jenasah masih dalam proses identifikasi.Sementara 59 orang luka-luka yang dirujuk ke PKM Sentani, RS Bhayangkara dan RS Yowari. Dinas Kesehatan Jayapura dan Dinas Kesehatan Papua mengkoordinir penanganan tim medis bagi korban.

Namun, Sutopo menuturkan data korban ini masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

"Karena proses evakuasi masih berlangsung dan belum semua daerah yang terdampak di sembilan jelurahan bisa dijangkau tim SAR gabungan," ujar Sutopo, Minggu (17/03).

Hak atas foto BPBD
Image caption Warga yang selamat kemudian dievakuasi

Material lumpur dan kayu akibat banjir membuat akses jalan tertutup, membuat evakuasi korban sulit dilakukan.

"Fokus utama saat ini adalah proses evakuasi, penyelamatan korban mengingat luasnya wilayah terdampak banjir bandang," tegas Sutopo.

Adapun kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan.

Sementara itu, sekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani.

Hak atas foto Relawan Squad PB Indonesia
Image caption Pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani yang diterjang banjir bandang.

Seperti diberitakan, akibat dari intensitas hujan yang menguyur Kabupaten Jayapura dan sekitarnya mulai dari sore hari, Sabtu (16/03) hingga pukul 23:30 Wit mengakibatkan Banjir merendam perumahan warga di Kelurahan Hinekombe, Dobonsolo dan Sentani Kota, Kampung Yahim dan Kehiran.

Peringatan banjir bandang

Lebih lanjut, Sutopo mengatakan sejak september 2018, Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas) bersama BNPB telah memperingatkan tentang adanya banjir bandang.

Wilayah Sentani itu rawan banjir akibat kerusakan lingkungan dan pertambangan liar di lokasi situ.

Apalagi pada tahun 2007 lalu, di Sentani juga pernah diterjang banjir bandang.

Hak atas foto Relawan Squad PB Indonesia
Image caption Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang Sentani.

Kejadian banjir bandang yang menerjang pada Sabtu silam, menurut Sutopo, menunjukkan hujan deras yang terjadi pada sore hari membendung air di sungai ada. Namun air kemudian meluap dan menerjang wilayah di sekitarnya.

"Ini karakter banjir besar yang terjadi di Indonesia kita bisa melihat bagaimana kayu gelondongan yang begitu besar dan batu besar menerjang desa-desa,"

Untuk mengantisipasi banjir bandang, Wantanas dan BNPB sudah melakukan penanaman 20.000 bibit pohon untuk memperbaiki lingkungan, terutama hutan yang ada.

Berita terkait