Kesaksian mahasiswa Indonesia setelah serangan masjid di Selandia Baru: 'Warga Christchurch menerima kami dan bersimpati'

Ibnu Sitompul Hak atas foto Ibnu Sitompul/Facebook
Image caption "Tetangga kanan-kiri saya datang ke rumah, dan memberi support (dukungan)," ungkap Ibnu Sitompul kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia, melalui sambungan telepon, Senin (18/03).

Setelah serangan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru, warga setempat menyampaikan simpati dan menyesalkan tindakan kekerasan tersebut, seperti dikisahkan seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di salah-satu perguruan tinggi di kota itu.

Di jalanan, masyarakat yang tidak saling mengenal saling menyampaikan simpati. Mereka juga berulang kali menyesalkan tragedi tersebut, kata Ibnu Sitompul, mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di Kota Christchurch.

"Tetangga kanan-kiri saya datang ke rumah, dan memberi support (dukungan)," ungkap Ibnu Sitompul kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia, melalui sambungan telepon, Senin (18/03).

Saat ini, Ibnu dipercaya sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di kota Christchurch, Selandia Baru. Dia tengah menyelesaikan program Doktor di Fakultas Hukum, Universitas Canterbury.

"Teman-teman kerja dan kuliah yang asli New Zealand semua menelpon dan menyatakan kalian diterima di sini," asal warga kota Bandung, Jawa Barat ini.

"Mereka seperti ingin bilang: Ini bukan New Zealand yang sebenarnya," lanjutnya.

Ibnu mengatakan, sebelum serangan tersebut, dia tidak pernah mendengar kabar tentang sikap rasial terhadap pada pendatang.

"Banyak yang menyesalkan ini terjadi karena (ulah) satu orang," tambah Ibnu.

Hak atas foto Ibnu Sitompul/Facebook/ University of Canterbury
Image caption Sebagian mahasiswa Universitas Canterbury berkumpul di pelataran kampus untuk bersimpati setelah serangan dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Sebanyak 50 orang tewas akibat serangan teror di masjid Al Noor di dekat Hagley Park, pusat Kota Christchurch, dan Masjid Linwood, di pinggiran kota.

Selain korban tewas, ada 50 orang mengalami cedera.

Seorang warga negara Indonesia atas nama Muhammad Abdul Hamid alias Lilik Abdul Hamid menjadi salah satu korban tewas di Christchurch

Sejauh ini dilaporkan terdapat sekitar tujuh WNI yang berada di kedua masjid saat terjadi peristiwa tersebut. Sebanyak empat orang telah dinyatakan selamat, dua orang luka yang saat ini masih dalam perawatan di rumah sakit, dan satu orang meninggal.

Hak atas foto Ibnu Sitompul/Facebook
Image caption Ratusan mahasiswa Universitas Canterburry, Selandia Baru, berkumpul untuk bersimpati atas kejadian kekerasan di dua masjid di kota Christchurch.

'WNI masih takut ke keluar rumah'

Bagaimanapun, Ibnu melanjutkan, kelompok pelajar Indonesia sejauh ini masih belum berani beraktivitas pasca-serangan di dua masjid di Christchurch.

Mereka, sambungnya, lebih banyak berkumpul di rumah-rumah sesama pelajar. "Para pelajar kita belum berani keluar malam," ungkapnya.

"Ada satu dua orang belum berani ke kampus, terutama teman-teman perempuan yang memakai jilbab, atau yang kelihatan, masih takut ke luar rumah," tambahnya.

Menurutnya, perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) datang ke Christchurch dan menyarankan agar WNI terus waspada.

Sebagai Ketua PPI, Ibu mengaku telah meminta agar anggotanya dan mahasiswa Indonesia lainnya tidak larut dalam 'ketakutan'. Dia juga meminta agar rekan-rekannya kembali aktif belajar di kampus.

Otoritas setempat, kata Ibnu, masih melarang semua orang mendekati masjid.

"Semua masjid di kota Christchurch masih ditutup sementara," katanya. "Dan masih akan berlangsung lama."

Dia menambahkan, di beberapa di kota lainnya, bangunan masjid dijaga ketat aparat. "

Menurut pengamatan Ibnu, sikap yang sama juga dilakukan sejumlah pendatang dari negara lain, terutama dari negara-negara berpenduduk Muslim.

Di mana Ibnu saat terjadi serangan?

Ibnu Sitompul mengaku berada di lahan parkir sekitar Masjid Al Noor, Christchurh, Selandia Baru, tatkala Brenton Tarrant, tersangka pelaku asal Australia, baru saja menembaki jemaah salat Jumat.

Menurutnya, saat itu aparat polisi sudah ada di berbagai sudut, tapi dia mengaku belum tahu apa yang terjadi.

Ia sempat dihentikan oleh polisi dan diminta menjauh dari masjid. Tapi Ibnu memutar dan berniat masuk ke masjid melalui jalan lain. "Saya pikir kejadian entah apa di luar masjid."

Hak atas foto Ibnu Sitompul/Facebook
Image caption Sebagian mahasiswa Universitas Canterbury berkumpul di pelataran kampus untuk bersimpati setelah serangan dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Di parkiran, Ibnu melihat beberapa orang berlarian keluar dari masjid, melompati pagar sembari berteriak. Sembari ketakutan, seorang di antaranya menyampaikan kabar, banyak orang meninggal di masjid.

Seketika Ibnu langsung ingat beberapa teman dan kerabat yang ia tahu sering datang ke masjid tersebut.

"Saya ketakutan, tapi saya ingat teman-teman, almarhum Pak Lilik yang jadi korban memang sering ada di masjid itu. Saya langsung telpon Pak Lilik, teleponnya tidak aktif, telpon teman saya Kevin juga tidak aktif," tutur Ibnu kepada Arin Swandari untuk BBC News Indonesia.

Hak atas foto Ibnu Sitompul/Facebook
Image caption Sebagian mahasiswa Universitas Canterbury berkumpul di pelataran kampus untuk bersimpati setelah serangan dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Tak berhasil menghubungi teman-temannya, Ibnu bergegas hendak memasuki masjid, tapi polisi keburu menarik tangannya dan melarang Ibnu masuk.

"Tapi di sana banyak teman-teman Indonesia saya," kata Ibnu berkeras.

"Tidak boleh, di sana ada penembakan…" jawab polisi seperti ditirukan oleh Ibnu.

Usai mendapatkan penjelasan dari polisi tentang serangan itu, Ibnu sempat dicekam ketakutan. "Kalau saya tahu ada penembakan, saya juga takut masuk ke masjid."

Bagaimanapun, Ibnu kini justru meminta teman-temannya agar tidak terus menerus dilanda ketakutan. Dia bahkan meminta agar rekan-rekannya kembali aktif belajar di kampus.

Topik terkait

Berita terkait