Buntut cerpen soal lesbian, pengurus persma USU 'sempat diancam akan dipidana'

Kampus USU Hak atas foto Suara USU
Image caption Tampak kampus Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Akibat menerbitkan cerita pendek tentang lesbian, seluruh pengurus pers mahasiswa (persma) "Suara USU" di Universitas Sumatra Utara (USU), Medan, diberhentikan dari organisasi mereka dan sempat pula diancam akan dipidanakan atas tuduhan melanggar UU ITE dan Pornografi, ujar pemimpin redaksi Suara USU, Widiya Hastuti.

Widiya mengatakan Surat Keputusan resmi pemecatan 18 orang pengurus itu telah diterbitkan (25/03).

Dalam lampiran SK itu, tertulis bahwa Rektor USU, Runtung Sitepu, menyebut dasar keputusan itu adalah ditemukannya unsur-unsur pornografi dalam cerita yang diangkat oleh Suara USU.

Ada pun cerpen tersebut berjudul "Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku Di Dekatnya" yang ditulis oleh mahasiswi USU dan diunggah di website persma https://suarausu.co/.

Cerpen itu berkisah tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada sesama jenis dan kerap mengalami diskriminasi di masyarakat.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Runtung mengatakan cerita itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut USU.

"Di mana beberapa konten yang dipublikasikan oleh Suara USU tersebut mengandung unsur pornografi, yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bingkai kebhinnekaan sebagai salah satu nilai dalam BINTANG, yang diamanahkan kepada saya sebagai Rektor USU untuk dijunjung tinggi di USU," kata Runtung dalam pesan tertulisnya.

Yang dia maksudkan dengan BINTANG adalah nilai yang dianut USU yaitu Bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dalam bingkai kebhinnekaan; Inovatif yang Berintregitas; Tangguh dan Arif.

Namun, Runtung tidak menjawab kala ditanya bagian mana dari cerpen yang dianggapnya berbau pornografi. Runtung dan Kepala Humas USU Elvi Sumanti tidak menjawab saat dihubungi oleh BBC Indonesia.

Sebut kata "Sperma dan Rahim"

Widiya mengatakan saat pengurus persma diundang untuk audiensi, pihak rektorat mempermasalahkan soal penggunaan kata "Sperma"dan"Rahim"dalam cerpen itu.

Cerpen itu memuat sebagai berikut : Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percayalah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu. Begitulah hujatan tanpa henti yang kurasakan saat itu. Semenjak aku ketahuan memiliki perasaan yang lebih kepada Laras. Apa yang salah? Bedanya aku tidak menyukai laki-laki tapi aku menyukai perempuan walau diriku sebenarnya juga perempuan."

Widiya mempertanyakan sikap kampus tersebut.

"Konten porno, aku nggak nemu yang mana di dalam cerpennya. Yang dipermasalahin kan kata 'sperma' dan 'rahim'. Menurut aku itu bahasa ilmiah bahkan di buku biologi SMP pun ada. Kalau dilihat karya sastra lain bahkan banyak yang lebih vulgar," kata Widiya.

Hak atas foto Suara USU
Image caption Rektor USU, Runtung, mengatakan cerita itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut USU.

Pemimpin umum Suara USU dan juga penulis cerpen itu, Yael Stefani Sinaga, mengatakan penggunaan kata sperma dan rahim dalam karya sastra adalah hal biasa.

Ia menambahkan saat audiensi pihak rektorat mempermasalahkan tema LGBT yang diangkat di cerpen itu.

"Mereka sayangkan kenapa harus mengambil tema LGBT. Aku menyayangkan sikap rektorat yang mengintervensi dan melarang kebebasan ekspresi persma. Ini kan karya sastra, fiksi, bukan opini atau pemberitaan," ujar Yael.

Dia menambahkan dia menulis cerpen itu bukan untuk mengampanyekan LGBT, tapi untuk memperlihatkan bahwa ada golongan minoritas yang sering didiskriminasi.

"Secara kita manusia, kita harus menghargai semua orang... Mereka nggak pantas didiskriminasi atau dijauhi. Intinya toleransi dan saling menghargai," kata Yael.

'Diminta tidak galang dukungan'

Widiya mengatakan saat audiensi pihak kampus meminta para anggota USU untuk tidak menggalang massa atau mencari dukungan terkait dengan kasus ini.

Jika mereka melakukan itu, kata Widiya, pihak rektorat mengatakan para pengurus bisa dipidana lewat UU ITE dan Pornografi.

Saat dikonfirmasi soal hal ini melalui pesan tertulis, Rektor USU Runtung Sitepu tidak menanggapi.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption . Ketua AJI Medan Liston Damanik mengkritik langkah yang diambil pihak rektorat USU dalam menanggapi cerpen tersebut.

Meski begitu, Widiya mengatakan aksi solidaritas dari kelompok mahasiwa kian dilakukan untuk mendukung Suara USU. Ke depannya, kata Widiya, kelompok mahasiwa akan mengadakan aksi untuk membela USU.

Tak hanya dari dalam kampus, dukungan berbagai organisasi luar kampus pun terus mengalir, seperti dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Ketua AJI Medan Liston Damanik mengkritik langkah yang diambil pihak rektorat USU dalam menanggapi cerpen tersebut.

"Kami menentang cara rektor dalam menangani persma, kami anggap ini semena-mena. Kenapa sih sebuah lembaga pendidikan yang punya fakultas Ilmu Budaya begitu sembarangan dalam memperlakukan mahasiswanya yang sedang berkreasi?" kata Liston.

Ia mengatakan pihak kampus harusnya berdiskusi dengan anggota persma terkait hal ini, bukannya mengeluarkan mereka dari persma.

Berita terkait