Enam bulan pascagempa dan tsunami, para pelajar peserta UNBK di Kota Palu 'tak lagi belajar di tenda'

palu Hak atas foto Erna Dwi Lidiawati
Image caption Para pelajar SMA Negeri 3 Kota Palu tengah mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Senin (1/4).

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) secara serentak berlangsung mulai Senin (1/4) di seluruh daerah di Indonesia, termasuk di tiga lokasi yang terpapar bencana di Sulawesi Tengah pada September 2018 lalu.

Tiga lokasi terpapar bencana, adalah Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.

Di Kota Palu, misalnya, sejumlah siswa dari lokasi terdampak bencana mengaku bersyukur karena dapat mempersiapkan diri untuk menyelesaikan semua soal yang diberikan.

Hal ini tidak lepas dari perjuangan para siswa pascabencana.

Salah satunya adalah Nanda Lenan. Bersama rekan-rekannya, pelajar SMA Negeri 3 Palu ini sempat belajar di lapangan terbuka lantaran Kota Palu dan sekitarnya diguncang sejumlah gempa susulan selama beberapa pekan setelah tsunami melanda.

Hak atas foto AFP/ADEK BERRY
Image caption Sisa-sisa bangunan sekolah di kawasan Balaroa, Kota Palu, pada Oktober 2018, beberapa hari setelah gempa melanda daerah itu.

Belajar di lapangan terbuka

Nanda mengisahkan dirinya tengah mengikuti bimbingan belajar ketika gempa dengan magnitudo 7,7 pada skala Richter terjadi 28 September 2018 lalu.

Setelah gempa terjadi, aliran listrik di Kota Palu mati total. Untuk belajar dalam persiapan ujian akhir, Nanda pun kesulitan.

Dia bersyukur karena seminggu setelah gempa, semua fasilitas kembali normal.

"Bersyukur di rumah saya kebetulan ada wifi, jadi saya belajar dari internet untuk mencari informasi. Jadi tidak harus dari sekolah. Apalagi saat kejadian, sekolah diliburkan.

"Namun saya bersyukur karena tidak dalam waktu lama sekolah saya akhirnya dibuka kembali, walau kita saat itu belajar tidak di dalam kelas dan hanya belajar di lapangan terbuka," kenang Nanda saat diwawancarai wartawan di Palu, Erna Dwi Lidiawati.

Rasa syukur juga diucapkan Avivah yang tinggal tidak jauh dari lokasi likuifaksi di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan.

Meski demikian, dia merasa prihatin terhadap kawan-kawannya yang kehilangan rumah dan sanak keluarga saat gempa terjadi.

"Sedih kalau ingat kejadian di Petobo. Ada beberapa kawan saya yang tinggal di Petobo dan kehilangan rumah dan bahkan keluarganya. Tapi setelah enam bulan pasca bencana, saya lihat mereka sudah bisa beraktivitas seperti semula. Mereka hanya sedih kalau ditanya saat bencana terjadi," kata Avivah.

Menurut Wakil Kepala Sekolah Kurikulum SMA Negeri 3 Palu , Halima Tang, para siswa yang kehilangan orang tua dan rumah tinggal dibebaskan dari biaya apapun.

"Jumlah siswa kita saat ini mencapai 397 orang. Dari jumlah itu, kurang lebih 100-an siswa terdampak bencana, kehilangan orang tua maupun rumah tinggal," kata Halima.

Hak atas foto NurPhoto/Getty Images
Image caption Para pelajar SD Negeri 2 Talise, Kota Palu, belajar di tenda darurat pada Februari 2019. Sebanyak 1.299 gedung sekolah rusak di wilayah terdampak bencana, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Donggala.

Tidak lagi belajar di tenda

Terkait dengan UNBK, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Irwan Lahace, mengatakan semua siswa SMA kelas 12 dapat mengikuti ujian akhir.

"Pascabencana, Sulawesi Tengah ini termasuk cepat dalam rangka mengembalikan anak-anak untuk masuk sekolah. Anak-anak ini sempat belajar di tenda-tenda, namun saat UNBK tidak ada lagi ujiannya di tenda. Semua sudah masuk di ruangan kelas," kata Irwan.

Berdasarkan data pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, sebanyak 1.299 gedung sekolah rusak di wilayah terdampak bencana, yakni Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Donggala.

Adapun jumlah siswa terdampak di empat wilayah tersebut mencapai 262.579 orang, dengan rincian 231 meninggal dunia, 173 hilang, 126 luka berat, dan 428 rawat inap.

Berita terkait