Harga tiket pesawat dekat batas atas: Inikah akhir dari era tiket murah?

bandara Hak atas foto NurPhoto/Getty Images

Penurunan harga tiket pesawat domestik dari sejumlah maskapai tak berdampak signifikan dan harga tiket masih jauh di atas harga lama.

Salah seorang yang cukup sering bepergian adalah Victorio Catra. Ia masih memilih terbang dengan transit di Singapura atau Kuala Lumpur untuk bepergian dari kawasan Sumatera ke Jakarta atau Surabaya, maupun sebaliknya. Harganya lebih murah ketimbang terbang langsung.

"Kemarin saya carikan tiket untuk kakak saya untuk balik ke Pekanbaru dari Jakarta. Itu lebih murah via Kuala Lumpur, daripada dari Jakarta langsung ke Pekanbaru," ceritanya. kepada wartawan Arin Swandari yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Menurut Victo, meski sudah ada penurunan harga tiket dari berbagai maskapai, namun itu tidak signifikan.

"Terakhir (pekan ini) saya beli Jakarta-Surabaya 1,5 juta untuk Garuda sekali jalan, kalau maskapai lain, Citilink 1,3 dan Lion Air satu jutaan," tambahnya.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 72 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Kelas Ekonomi, batas atas tiket Jakarta (Soekarno Hatta)-Surabaya mencapai Rp1.857.000. Adapun batas bawah, Rp650.000.

Dari ukuran ini maskapai cenderung memilih memasang tarif mendekati batas atas.

Hak atas foto Getty Images

Bagaimana aturan tarif pesawat dari Kemenhub?

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan merilis dua aturan untuk menyikapi kenaikan harga tiket pesawat.

Selain Keputusan Menteri Nomor KM 72 tahun 2019 yang mencantumkan daftar atas dan bawah, ada juga Peraturan Menteri Nomor PM 20 Tahun 2019 tentang Tata Cara Formulasi Perhitungan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi.

Aturan mencoba untuk menyederhanakan komponen penentu harga yaitu terdiri dari dua kelompok, tarif dasar dan surcharge atau biaya tambahan.

Melalui aturan ini Kemenhub menaikkan batas bawah dari sebelumnya 30% menjadi 35% dari batas atas.

Batas atas-bawah tiket pesawat di beberapa rute padat berdasarkan Keputusan Menhub No 72 tahun 2019 untuk Jakarta (Soekarno Hatta)-Padang, Rp 2.608.000 - Rp913.000, Jakarta-Lombok Rp3.000.000- Rp1.050.000, Jakarta-Yogyakarta Rp1.342.000-Rp470.000, Jakarta (Halim Perdana Kusuma)- Pekanbaru Rp2.679.00-Rp938.000.

Aturan dikeluarkan pasca kenaikan harga tiket pesawat nyaris serentak oleh banyak maskapai dalam negeri dalam tiga bulan terakhir.

"Kami secara terus menerus telah melakukan pengamatan dan pembahasan sejak terjadinya kenaikan tarif tiket pesawat, dengan memperhatikan serta keberlangsungan industri penerbangan saat ini," kata Dirjen Perhubungan Udara, Polana B Pramesti.

Dalam keterangan persnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan akan mengevaluasi besaran tarif secara berkala, saban tiga bulan dan atau sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan yang mempengaruhi keberlangsungan kegiatan usaha angkutan udara.

Hak atas foto Antara/FIKRI YUSUF
Image caption Calon penumpang pesawat berada di kawasan Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, 6 Maret lalu.

Adakah perang tarif?

Menurut Tulus Abadi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, kenaikan batas bawah ini diharapkan direspons maskapai dengan menurunkan batas atas.

"Karena selama ini maskapai saling sikut, saling promosi yang tidak sehat, dengan memainkan harga di batas bawah. Mereka khawatir kehilangan penumpangnya, sehingga persaingan menjadi tidak sehat. Dengan batas bawah yang 35%, mereka tidak bisa lagi perang tarif."

Sayangnya harga yang didapat penumpang sejauh ini mendekati angka batas atas. Kata Tulus, sejauh masih dalam rentang batas bawah dan atas tidak melanggar aturan.

Menurut Tulus semua maskapai selama sekitar tujuh tahun telah dihantui perang tarif.

"Sekarang kena batunya, dan kalau dilanjutkan perang tarif, bukan hanya bleeding, tapi bisa tutup, dan kalau sampai tutup ini yang berbahaya," tambahnya.

Tulus menyebut pemerintah selama ini lemah dalam pengawasan dengan membiarkan perang tarif terjadi.

"Pemerintah membiarkan, sehingga pemerintah seolah-olah berhasil memberikan tarif yang murah bagi konsumen dari maskapai itu. Padahal itu tarif yang suatu saat menjadi bom waktu. Nah inilah saatnya memang, saya kira menjadi bom waktu itu," kata Tulus menyesalkan.

Di sisi lain masyarakat terlanjur meyakini harga harga wajar seperti yang terjadi selama ini. Karena itu, dia mendorong agar pemerintah memberi sosialisasi yang lebih masif terkait tarif pesawat itu.

"Selama ini kan tidak ada pemberitahuan secara detail bahwa sebenarnya tarif pesawat ada batas atas-ada batas bawah. Kemudian bagasi, bagasi sejak awal kan regulasinya berbayar untuk LCC (Low Cost Carrier), tapi karena persaingan itu, masyarakat tahunya bagasi itu tidak berbayar untuk yang LCC."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para pengamat mengatakan selama berpuluh tahun maskapai tidak mempermasalahkan "skiplagging".

Apakah harga tiket bisa kembali seperti harga lama?

Garuda Group menyatakan dua aturan Kemenhub merupakan dukungan terhadap keberlangsungan bisnis maskapai yang selama ini ditekan oleh perang tarif.

Vice President Corporate Secretary PT Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, mengatakan dalam tiga hingga empat tahun terakhir harga tiket pesawat yang berlaku adalah tarif promo, atau cenderung mendekat batas bawah.

"Karena terlalu lama diberi harga promo publik melihat itu harga riil dari penerbangan," katanya.

Kata Ikshan banyak perubahan ongkos operasional yang dipicu antara lain kenaikan harga aftur dan nilai kurs rupiah. Di sisi lain sejak 2016, harga tiket tidak banyak berubah.

"Maskapai melihat ini tidak bisa dibiarkan, karena kalau kita melihat pembukuan dari maskapai penerbangan sudah merah semua," lanjut Ikshan.

Karena itu kata Ikshan, Garuda memutuskan harus memasang harga riil. Artinya Garuda belum berencana menurunkan harga tiket lagi setelah pada pertengahan Februari lalu sempat memangkas harga tiket rata-rata 20%.

"Untuk tetap menjaga bisnis kita tetap berlangsung, kita harus membuat harga sesuai keekonomian karena kan tidak mungkin kita terbang dengan rugi, setiap penerbangan harus ada margin," paparnya.

Namun, menurut Ikshan Garuda Group akan tetap memberi harga promo, meskipun proporsinya dikurangi.

Sementara itu, Lion Air Grup yang mencakup Lion Air, Wings Air dan Batik Air telah memutuskan untuk menurunkan harga jual tiket pesawat untuk seluruh rute penerbangan, berlaku efektif sejak 30 Maret 2019.

Meski demikian dalam keterangan pers yang dirilis perusahaan, tidak dijelaskan besaran penurunan tarifnya.

"Penurunan harga jual merupakan kesungguhan Lion Air Grup untuk menjawab tantangan serta peluang dinamika bisnis/pasar traveling, mengakomodir permintaan jasa penerbangan sejalan meningkatkan aktivitas penerbangan," tulis perusahaan dalam keterangan pers tersebut.

Hak atas foto Getty Images

Apa saja komponen harga tiket?

Pengamat industri penerbangan, Ziva Narendra Arifin, mengatakan kondisi saat ini memang tidak memungkinkan untuk menurunkan harga tiket begitu saja.

"Memang keputusan pemerintah sudah cukup baik ya untuk membuat harga tiket pesawat bisa dijangkau kembali, tapi kita tidak bisa pungkiri, biaya yang ditanggung maskapai sangat tinggi, dan bukan hanya kendala harga avtur tinggi," jelasnya.

Bahkan, kata Ziva, sejumlah maskapai harus tutup, antara lain WOW Air di Islandia.

Ziva memaparkan beberapa komponen biaya operasional yang dianggap besar selain avtur, yaitu ongkos pengadaan suku cadang, biaya SDM yang meningkat, asuransi, leasing pesawat, dan biaya perawatan pesawat yang juga cukup tinggi.

Dari sisi penumpang Ziva mengingatkan tiket murah saja tidak cukup, tapij juga perlu memikirkan standar pelayanan dan keselamatan yang bagus.

"Penumpang perlu diedukasi bahwa industri airlines memang sangat kompleks," lanjutnya.

Dalam lima tahun terakhir, kata Ziva, daya beli kelas menengah meningkat, bahkan untuk mengakses tiket kelas premium.

Hak atas foto Getty Images

Penumpang ke luar negeri lebih banyak

Namun demikian kata Ziva, harga tiket pesawat yang tinggi bukan semata-mata karena faktor eksternal. Ia mencontohkan strategi Air Asia yang tetap bertahan dengan harga cukup murah.

"Mereka tidak banyak mengubah bisnis model mereka, mereka sudah inovesi dengan online ticketing dengan sangat efisien, low cost, dan efektif sejak awal bisnis," ucapnya.

Menurut Ziva salah satu strategi yang digunakan Air Asia untuk membuat biaya perawatan pesawat terkelola dengan baik, Air Asia konsisten menggunakan armada pesawat relatif sama. "Maskapai yang mempunyai armada pesawat yang berbeda-beda pasti beban operasionalnya lebih besar."

Hal serupa mestinya bisa dilakukan maskapai dalam negeri, kata Ziva.

"Taktik atau strategi tiap maskapai juga menentukan ke strategi penentuan harga, kalau maskapai tidak mau merugi langsung menaikan harga itu kan tidak tepat juga."

Meski demikian Ziva mengingatkan prinsip keselamatan yang menjadi paling pilar penting dalam industri penerbangan. Jadi, bukan efisiensi yang bisa berpengaruh pada keselamatan yang perlu dilakukan.

"Mestinya setiap maskapai punya tim yang khusus mendudukkan masalah pricing dan costing, perlu duduk bersama antara penentu harga dan strategic ,sampai dengan executive level dan CEO."

Hak atas foto Getty Images

Zilva khawatir jika tidak ada taktik baru, industri penerbangan akan lesu dalam satu hingga dua tahun.

"Akan banyak sekali bandara-bandara baru yang tidak terisi, kemudian maskapai-maskapai yang tidak terpenuhi. Rasio performance-nya. Kita sudah lihat sekarang, sebulan terakhir banyak jadwal pesawat yang di-cancel."

Vice Presiden Coroprate Secretary PT Garuda Indonesia Ikhsan Rosan membantah. Menurutnya okupansi penumpang di grup Garuda meningkat.

"Memang Garuda cenderung tidak meningkat, tapi untuk perusahaan misalnya Citilink meningkat. Jadi poinnya ketika Garuda menyesuaikan dengan harga keekonomian yang sesuai dengan cost Garuda, kecenderungannya orang beralih pada Citilink. Secara grup kita lihat tetap ada perkembangan, khususnya jumlah penumpang."

Namun, karena penumpang punya pilihan, kata Zivam risiko tergerusnya penumpang pesawat domestik tetap ada.

Penumpang akan mulai mempertimbangkan untuk pergi ke luar negeri ketimbang menikmati pariwisata lokal jika harga tiket pesawat domestik masih mahal.

"Misalnya saya mau ke Jayapura misalnya (harga tiketnya) Rp7 juta. Saya akan bandingkan dengan Rp7 juta yang saya dapatkan kalau saya terbang ke Jepang," katanya.

Topik terkait

Berita terkait