'Dipangkas' menjadi tiga TPS, pencoblosan di Kuala Lumpur 'sempat membludak'

KBRI Kuala Lumpur Hak atas foto Detikcom/Ashri Fathan
Image caption Warga Negara Indonesia di Malaysia yang ingin menggunakan hak pilihnya di KBRI Kuala Lumpur, Minggu (14/04).

Pemungutan suara pemilu 2019 di Kuala Lumpur, Malaysia, sempat diwarnai antrean panjang, setelah KPU memangkas 255 TPS dari 89 lokasi menjadi tiga lokasi.

Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur menginformasikan perubahan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kuala Lumpur semula tersebar di 255 lokasi menjadi tiga lokasi yaitu KBRI Kuala Lumpur, Wisma Duta, dan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).

Perubahan jumlah lokasi ini diumumkan melalui akun resmi Facebook KBRI di Kuala Lumpur sehari sebelum pemungutan suara dilaksanakan, Minggu (14/04).

Kepada wartawan Muhammad Irham untuk BBC News Indonesia, anggota KPU, Evi Novida, mengatakan jumlah TPS di Kuala Lumpur dipersempit menjadi tiga lokasi karena persoalan izin.

"Pembuatan TPS di luar negeri itu tidak segampang di Indonesia. Di LN (luar negeri) kita membuat TPS di perwakilan Indonesia dan tempat lain yang bisa mendapatkan izin dari pemerintah setempat di LN," kata Evi dalam keterangan tertulis kepada BBC, Minggu (14/04).

Hak atas foto Facebook/KBRI Kuala Lumpur

Dari informasi yang diterima BBC News Indonesia, antrean WNI di tiga TPS ini "membludak", kata salah-seorang WNI di lokasi pencoblosan. Bahkan ada yang mengaku mengantre sejak pagi hari, tambahnya.

Dari pantauan WNI di Malaysia, Yusnita Poppyta, ratusan warga yang mengantre di Wisma Duta mencapai ratusan meter.

Semula Yusnita berencana mencoblos di Wisma Duta, namun dia batalkan karena antreannya dianggapnya terlalu panjang.

"Jadi saya tanya mereka yang sudah lama antre, saya lagi cari sela yang tidak terlalu ramai orang," ungkapnya katanya kepada BBC, Minggu (14/04) sore.

Dia kemudian memilih mencoblos di KBRI yang disebutnya antriannya tidak sepanjang di Wisma Duta.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Rafiuddin Abdul Rahman
Image caption Sejumlah warga negara Indonesia mengantre untuk menggunakan hak suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) KBRI Kuala Lumpur di Malaysia, Minggu (14/04).

BBC News Indonesia sudah mencoba menghubungi KBRI di Kuala Lumpur melalui sambungan telepon pada Minggu siang, tetapi belum mendapatkan tanggapan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, yang berada di lokasi, mengatakan, membludaknya antrean di tiga TPS akibat pengumuman dari Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Kuala Lumpur yang disebutnya mendadak.

"Antreannya luar biasa panjang, chaos, posisinya juga panas, ada beberapa ibu dan anak yang pingsan. Jadi luar biasa tantangannya besar sekali," katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (14/04).

Anis Hidayah menambahkan antrean panjang ini juga disebabkan oleh daftar pemilih khusus (DPK) yang diberikan akses sebelum TPS ditutup. Semula jam tiga sore, namun dibuka mulai pukul 12 siang waktu setempat.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Rafiuddin Abdul Rahman
Image caption Seorang warga negara Indonesia menunjukkan jari yang telah dicelup tinta usai mencoblos di KBRI, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (14/04).

Anis mengusulkan pemilu selanjutnya, KPU menyewa ruang publik seperti stadion untuk menampung WNI yang ingin menyalurkan hak pilihnya. "Sehingga dapat mengakomodasi lebih banyak pemilih, karena KBRI kita kecil sekali," katanya.

Sejumlah pemberitaan menyebutkan sampai pukul 18.00 waktu setempat, ada beberapa WNI yang masih diberi kesempatan untuk menyalurkan suaranya di KBRI Kuala Lumpur.

Pemungutan suara di luar negeri dilaksanakan lebih awal, yaitu 8 hingga 14 April 2019. Untuk proses penghitungan suaranya dilakukan bareng dengan pelaksanaan di Indonesia, 17 April mendatang.

Berdasarkan data KPU, jumlah pemilih luar negeri mencapai 2.058.191 jiwa, termasuk di Malaysia sebesar 558.873 pemilih.

Berita terkait