Tradisi paskah Semana Santa: Golput bayangi pemilu di Larantuka

larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Warga Larantuka diimbau supaya tidak golput, meski gelaran pemilu presiden bertepatan dengan tradisi pekan suci Paskah Semana Santa.

Untuk pertama kali dalam 500 tahun, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden digelar secara bersamaan dengan ritual paskah di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kekhawatiran akan rendahnya partisipasi pemilih pun membayangi. KPU setempat dan pemuka agama kemudian mengupayakan agar tidak terjadi gesekan pada dua hajatan besar itu.

Warga Larantuka berbondong-bondong ke jantung ibu kota Kabupaten Flores Timur untuk melakoni tradisi tikam turo, atau pemancangan tiang-tiang lilin sepanjang jalur utama prosesi Jumat Agung yang merupakan bagian dari perayaan Paskah Semana Santa oleh umat Katolik pada Senin (15/04) pagi.

Padahal, tradisi tikam turo ini biasanya dilaksanakan setiap Rabu atau Kamis, yang dalam tradisi Semana Santa disebut Rabu Trewa atau Kamis Putih.

Tapi tahun ini, tikam turo dimajukan pada Senin (15/4) karena Rabu (17/04) bertepatan dengan pemilihan umum serentak untuk memilih presiden dan anggota legislatif.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Tradisi tikam turo yang biasanya dilakukan pada hari Rabu terpaksa dimajukan pada hari Senin (15/06) agar tidak mengganggu pelaksanaan pemungutan suara

Umat dan suku-suku Semana bergotong royong memancangkan tiang-tiang dari kayu kukung dan belahan bambu diikat menggunakan tali gebang. Pada titik jalur utama prosesi juga mulai dibangun Armida, atau titik perhentian dalam Jalan Salib.

Salah satu warga Larantuka, Dionisius Fernandus, menjelaskan alasan pemajuan tradisi tikam turo ini.

"Karena bertepatan dengan pemilu, dari pihak gereja mungkin berpikir kalau orang di sini pikir ke tempat TPS atau tikam turo begini, pasti lebih banyak memilih ke tikam turo, TPS kosong, pasti golput banyak itu," ujar pria yang akrab disapa Dion ini.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Salah satu warga Larantuka, Dionisius Fernandus khawatir akan banyak pemilih yang golput di Larantuka.

Kekhawatiran akan rendahnya partisipasi pemilih dalam pemilu kali ini juga diungkapkan oleh Uskup Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr. Menurutnya, peristiwa politik dan perayaan keagamaan yang terjadi berbarengan ini bisa membuat fokus umat terbelah.

Dia menyebut perayaan pekan suci Paskah, atau apa yang orang Larantuka sebut sebagai Semana Santa, bukan perayaan khusus warga Larantuka saja, melainkan perayaan umat Kristiani sedunia.

"Maka kalau perayaan ini terjadi bersamaan dengan pemilu, kami melihat bahwa ini mengganggu. Mengganggu pelaksanaan ibadah, mengganggu penghayatan iman, devosi dari umat itu akan terganggu karena dia juga harus berpikir bagaimana mensukseskan pemilu," jelas Uskup Larantuka.

Untuk menghindari hal itu, pihaknya bersama dengan penyelenggara pemilu daerah dan pemerintah daerah sempat meminta kepada Komisi Pemilihan Umum untuk menunda gelaran pesta demokrasi di Flores Timur, seperti yang terjadi pada pemilihan legislatif 2009 lalu.

"Memang benar Larantuka punya tradisi khusus Semana Santa ini yang sangat kental, maka kesulitan lebih besar di sini ketika pemilu diadakan pada waktu yang bersamaan," ujar Frans Kopong beralasan.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Tiang-tiang lilin dari kayu kukung dan belahan bambu yang diikat menggunakan tali gebang ini dipasang sepanjang jalur utama prosesi Jumat Agung dalam tradisi perayaan Paskah Semana Santa.

Pada akhir Maret lalu, KPU mengundang Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bupati Flores Timur, KPU Flores Timur, Uskup Larantuka, dan pihak terkait lainnya untuk membahas penyelenggaraan pemilu di kabupaten di Nusa Tenggara Timur itu.

Namun, KPU tetap mengharuskan pemilu digelar secara serentak, bersamaan dengan hari Rabu Trewa. Alasannya jika ditunda, potensi manipulasi dan kecurangan pemilu kemungkinan besar terjadi.

Kendati begitu, Ketua KPU, Arief Budiman, membolehkan proses rekapitulasi bisa ditunda hingga pekan suci Paskah selesai.

Arief menambahkan Nusa Tenggara Timur adalah satu-satunya daerah yang proses rekapitulasi suaranya mengalami penundaan.

"Ini tidak berlaku untuk yang lain, karena ada situasi yang memang kita ambil kebijakan yang khusus untuk daerah ini," tegas Arief usai pertemuan itu.

Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hadjon, mengimbau pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan waktu pelaksanaan pemilu, supaya tidak bertabrakan dengan pelaksanaan upacara keagamaan dan tradisi.

"Saya juga mengingatkan kepada mereka bahwa ini juga harus menjadi perhatian ke depan supaya tidak terulang lagi," ujar Anton.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon.

'Pekerjaan berat'

Mau tidak mau, harus ada solusi untuk menyiasati dua pesta besar ini supaya berjalan dengan lancar.

"Dan pekerjaan berat adalah KPUD di sini, bagaimana mereka mengatur sedemikian supaya pemilu berjalan dengan baik, tapi tradisi tidak bisa juga ditunda," jelas Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung.

Ketua KPU Flores Timur, Kornelis Abon, mengaku pihaknya harus memutar otak menyiapkan skenario-skenario penyelenggaran pemilu supaya tidak mengganggu gelaran tradisi.

Salah satunya adalah mengggeser rekapitulasi suara yang semestinya dilakukan pada 18 April, menjadi 22 April.

"Untuk menghormati pemilih yang sekaligus umat nasrani yang sedang beribadah, maka hasil rekapilutasi yang semula dilakukan tanggal 18 April hingga 4 Mei kami geser ke 22 April sehingga warga tidak terganggu aktivitas pemilu dan penyelenggara kami bisa beribadah sejak Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah," jelas Kornel.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Ketua KPU Flores Timur Kornelis Arung.

Kemudian, pihaknya juga melibatkan para pihak untuk menyampaikan kampanye-kampanye ajakan lagi kepada masyarakat dengan menggunakan corong-corong di kelurahan, di rumah-rumah ibadah, baik di gereja bagi umat Nasrani dan di masjid bagi umat Muslim, terkait penyesuaian ini.

"Kita ajak mereka lebih cepat, lebih pagi untuk menggunakan hak pilih baru melaksanakan ibadah," paparnya.

Diakui Kornel, beberapa lokasi TPS beririsan dengan rute jalur utama prosesi Jumat Agung yang sudah dipasangi tiang-tiang lilin. Namun, menurutnya, itu tidak akan menyulitkan akses warga yang akan menggunakan hak pilihnya.

"Ada dari mereka yang tinggal di sebelah jalan, TPS-nya berada di seberang jalan, dan beliau ke TPS harus melalui area tikam turo, tapi itu sudah terkomunikasi, meskipun sedikit sulit, tapi dia punya akses ke TPS itu," kata Kornel.

Sedangkan penghitungan suara tetap dilakukan pada 17 April, setelah pemungutan suara selesai.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Confraria da Rainha Rosari, sebuah persekutuan umat Katolik beranggotakan para lelaki kepala keluarga yang membawakan doa pembukaan kegiatan prosesi Jumat Agung, sedang melakukan latihan.

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) baru-baru ini yang memperpanjang durasi penghitungan suara hingga Kamis (18/04) pukul 12.00 menurut Kornelis, memberikan ruang bagi pihaknya jika proses penghitungan suara di TPS belum selesai pada tanggal itu.

Don Andreas Martinus DVG, Keturunan Raja Larantuka yang juga Ketua Confraria da Rainha Rosari, sebuah persekutuan umat Katolik beranggotakan para lelaki kepala keluarga yang membawakan doa pembukaan kegiatan prosesi Jumat Agung, mempersilakan anggotanya yang menjadi petugas pengawas pemilu untuk mengemban tugas selama pemilu berlangsung.

"Jadi tidak ada pertentangan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai anggota confraria," kata dia.

Sementara itu, Bupati Flores Timur mengatakan keamanan selama pelaksanaan dua pesta besar di Larantuka menjadi perhatian pemerintah daerah. Tambahan 200 personel dari TNI dan Polri dikerahkan untuk mengamankan dua hajatan besar itu.

"Kita memperkuat linmas di semua desa dan koordinasi dengan pihak kepolisian dan tentara TNI supaya bisa menjaga ini dengan baik, sehingga ada tambahan dari pihak kepolisian dan TNI ketika pelaksanaan Semana Santa dan pemilu," jelas Anton.

Kapolres Flores Timur, AKBP Deny Abrahams, mengatakan pihaknya mengerahkan 357 personel untuk melakukan pengamanan pemilu serentak dan perayaan Semana Santa. Pengamanan ini mencakup Larantuka, Pulau Adonara dan Pulau Solor.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Persiapan pemilu di kantor KPU Flores Timur.

Kemungkinan golput bertambah?

Meski sudah dilakukan penyesuaian, namun Ketua KPU Flores Timur Kornelis Arung mengaku bahwa pihaknya mencemaskan partisipasi pemilih dalam pemilu 2017, khususnya di 92 TPS di Larantuka.

Karena berdasar survei yang dilakukan KPU Flores Timur, lebih banyak pemilih yang memilih untuk beribadah ketimbang menggunakan hak pilih.

"Untuk mengantisipasi itu, kami sebarkan 50 relawan kami yang menyasar komunitas-komunitas untuk mengajak warga meluangkan waktu sekejab untuk ke TPS dulu, baru kemudian melanjutkan aktivitas ibadah," ujar Kornel.

Dia menargetkan partisipasi pemilih sesuai dengan target yang ditetapkan nasional, yakni 77,5%.

"Kami optimis mencapai itu karena daftar pemilih relatif lebih bersih dari pemilu-pemilu sebelumnya," kata dia.

Adapun jumlah DPT di Kabupaten Flores Timur mencapai 158.680, sementara jumlah pemilih di Larantuka sekitar 23.000 orang.

Imbauan untuk menggunakan hak pilih juga digaungkan oleh Romo Edi Saban, pemimpin misa Minggu Palma (14/04), yang mengawali pekan suci Paskah. Dia mewajibkan umat untuk pergi ke TPS pada hari pencoblosan.

"Wajib pergi ke TPS. Suara kita adalah suara Tuhan. Suara kita adalah membawa keselamatan. Keselamatan bangsa, keselamatan negeri, keselamatan kita masing-masing di dunia ini tergantung pada suara kita yang kita berikan di TPS pada hari itu," ujar Romo Edy.

Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Uskup Larantuka Fransiskus Kopong Kung menganggap dua peristiwa penting, yakni peristiwa politik dan perisitwa iman, yang terjadi bebarengan ini bisa membuat fokus umat terbelah.

Uskup Larantuka Fransiskus Kopong Kung pun mengajak seluruh umat untuk menyukseskan pelaksanaan pilpres dan pileg sebagai warga negara dan bangsa yang baik, sekaligus menjalankan iman dengan baik.

"Tidak boleh ada yang golput, karena suara anda menentukan nasib bangsa ini. Suara Anda berharga, suara Anda penting," tegasnya.

"Laksanakan hak pilih dengan baik,sudah itu sore hari datanglah ke gereja," imbaunya.

Betapapun, tidak semua warga gamang dengan pemilu yang digelar bersamaan dengan tradisi agama.

Salah satu warga Larantuka yang juga umat Katolik, Elizabeth Penidan berkukuh dirinya akan menggunakan hak pilihnya.

"Saya merasa suara saya juga berharga jadi saya harus menggunakan suara saya. Tidak boleh golput, karena kalau nanti golput suara torang akan disalahgunakan," cetus Elizabeth.

Berita terkait