Pemilu 2019: Dengan pesawat Hercules hingga gerobak sapi, surat suara tiba di tempat-tempat terpencil

Kuda Hak atas foto KPUD Jember
Image caption Di Kecamatan Tempurejo, Jember, pengiriman surat suara ke Desa Andongrejo dilakukan dengan menggunakan kuda.

Pengiriman surat suara ke daerah-daerah pedalaman Indonesia dilakukan dengan berbagai cara, seperti menggunakan pesawat Hercules, gerobak sapi, hingga kuda.

Menjelang hari pencoblosan Rabu (17/04), sejumlah Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) telah menyatakan kesiapan mereka untuk menggelar pemilihan umum.

KPUD Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sebelumnya mengabarkan mereka kekurangan sekitar 800.000 surat suara, menyatakan kebutuhan logistik mereka sudah terpenuhi dan mereka siap menggelar pemungutan suara.

Komisioner KPU NTT, Yosafat Koli, mengatakan logistik pemilu dikirim dengan pesawat Hercules milik TNI AU (15/01).

"Jumlahnya hampir 18 ton dengan dua kali penerbangan Hercules. Ada surat suara dan formulir-formulir lainnya," ujar Yosafat.

Yosafat mengatakan surat suara harus didistribusikan ke 22 kabupaten dan kota yang terletak di berbagai wilayah seperti daratan Timor, Flores, Sumba hingga Sabu.

"Kalau kemarin tidak didukung dengan Hercules yang turun langsung di Timor dan Flores, kami akan keteter. Sulit untuk mendistribusikan tepat waktu," kata Yosafat.

Sementara itu, surat suara juga sudah dikirimkan hingga ke TPS-TPS di berbagai daerah.

Di Lampung Barat, Bengkunat, petugas kepolisian setempat membantu petugas KPU untuk mengirimkan 95 kotak suara ke daerah-daerah pedalaman di Way Haru, Way Tiyas, Bandar Dalam dan Siring Gading, dengan gerobak-gerobak yang ditarik 15 sapi.

Hak atas foto Polsek Bengkunat
Image caption Kapolsek Bengkunat Iptu Ono Karyono mengatakan karena tanah berlumpur, jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan bermotor.

Kapolsek Bengkunat Iptu Ono Karyono mengatakan karena tanah berlumpur, jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan bermotor.

Ia menambahkan medan yang mereka lintasi begitu ekstrem hingga para petugas KPU dan anggota kepolisian tersebut perlu mendorong sapi-sapi itu untuk menyelesaikan perjalanan tersebut.

"Kami menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer selama lima jam," kata Ono.

Setelah itu, kata Ono, sapi-sapi itu juga digunakan untuk melewati jalur pantai.

Ono mengatakan keperluan logistik itu telah tiba dengan selamat di TPS-TPS yang dituju.

Hak atas foto Polsek Bengkunat
Image caption Surat-surat suara dikirimkan ke daerah pedalaman di Kecamatan Bengkunat, Lampung Barat, dengan gerobak sapi.

Sementara itu, di Kecamatan Tempurejo, Jember, pengiriman surat suara ke Desa Andongrejo dilakukan dengan menggunakan kuda.

"Kuda dipakai karena lokasi yang dituju terisolir, artinya tidak bisa dijangkau dengan kendaraan beroda," kata Ketua KPU Kabupaten Jember Achmad Anis

Anis, yang memastikan logistik telah terpenuhi 100 persen di wilayahnya, menambahkan petugas berkendara sekitar 30 kilometer mencapai tujuan.

Hak atas foto KPUD Jember
Image caption Di Kecamatan Tempurejo, Jember, pengiriman surat suara ke Desa Andongrejo dilakukan dengan menggunakan kuda.

Penyelenggara pemilu di Sulawesi Tengah juga menghadapi medan yang menantang.

Naharuddin, Komisioner KPU Sulawesti Tengah, mengatakan petugas KPU perlu berjalan kaki dua hari dua malam dari Kecamatan Pagimana, Banggai, menuju Desa Baloadoda.

Hak atas foto KPUD Sulawesi Tengah
Image caption Butuh waktu dua hari untuk mengantarkan surat suara ke Desa Baloadoda dengan berjalan kaki.

Sementara itu, daerah lain dijangkau dengan menggunakan sampan kayu, seperti dari Desa Moleono, Petasia Barat, Morowali Utara, ke Dusun Peilia.

"Jarak tempuhnya sehari dengan naik perahu sampan menyusuri sungai hingga sampai tujuan," ujar Naharuddin.

Hak atas foto KPUD Sulawesi Tenggara
Image caption Surat suara dikirim dengan kapal kayu dari Desa Moleono, Petasia Barat, Morowali Utara, ke Dusun Peilia.

Naharuddin mengatakan pengiriman surat suara memang terlebih dahulu difokuskan pada daerah-daerah terpencil. Hingga satu hari menjelang pemilihan umum, ia mengklaim, semua surat suara itu sudah tiba di daerah-daerah pelosok.

Ketiadaan beberapa formulir yang dibutuhkan

Meski mengklaim tersedianya surat suara, beberapa penyelenggara pemilu di tingkat daerah mengatakan hingga kini mereka belum mendapatkan C1 Plano Hologram atau kertas resmi yang digunakan untuk mencatat hasil pemungutan suara.

Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, Zulfikar Adun, mengatakan komite sudah melaporkan kekurangan ini ke KPU Pusat sejak awal April. Namun, katanya, hingga saat ini kebutuhan itu belum dipenuhi.

Hak atas foto KPUD NTT
Image caption Logistik Pemilu untuk NTT dikirim melalui pesawat Hercules.

Meski begitu, ujarnya, KPU telah memberikan arahan terkait ini.

"Dengan adanya surat KPU terkait kekurangan hologram, maka (plano) dapat diparaf oleh KPPS, saksi, dan pengawas TPS di tempat hologram tersebut," kata Zulfikar.

Naharuddin, Komisioner KPU Sulawesti Tengah, mengatakan wilayahnya juga tidak menerima C1 Plano Hologram.

Waspadai hujan

Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan mengatakan secara umum logistik pemilu 2019 siap untuk dipergunakan.

Ia menambahkan KPU telah mengarahkan jajaran KPU di tingkat daerah untuk memastikan logistik Pemilu tidak rusak terkena hujan.

Hak atas foto Engel Lenny/ANTARA
Image caption Komisioner KPU Wahyu Setiawan mengatakan secara umum logistik pemilu 2019 siap untuk dipergunakan.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa ada kotak-kotak suara yang basah karena hujan, seperti yang terjadi di Trenggalek. Namun, logistik yang rusak di Trenggalek itu, sudah diganti.

"Kita sudah menginstruksikan ini musim hujan, sehingga kita minta KPU Provinsi, Kabupaten/Kota melakukan monitoringsupervisi untuk memastikan bahwa logistik pemilu itu layak dan dapat dipergunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Wahyu.

Sementara itu, KPUD Cirebon, Jawa Barat, mengatakan mereka telah mengantisipasi turunnya hujan.

"Kotak suaranya sudah kita bungkus plastik untuk meminimalisir terkena hujan," kata Komisioner KPU Kota Cirebon Dedi Haerudi.

Berita terkait