Prosesi Jumat Agung: Tradisi cium 'Tuan Ma' di Larantuka, Flores

Patung Bunda Maria berduka dalam tradisi Semana Santa, yang telah berusia sekitar 500 tahun.
Image caption Patung Bunda Maria berduka dalam tradisi Semana Santa, yang telah berusia sekitar 500 tahun.

Tradisi Muda Tuan Ma mengawali Kamis Putih sebelum prosesi Jumat Agung di Larantuka, Flores Timur, tempat digelarnya prosesi paskah Semana Santa yang sudah berjalan selama 500 tahun.

Selain menggeliatkan ekonomi dan pariwisata tradisi ini juga menjadi wujud toleransi antar umat beragama di Flores Timur dengan terlibatnya para pemuda masjid dalam mengamankan prosesi.

Dewi Sumarnitia tidak dapat menyembunyikan haru usai bertemu kembali dengan Tuan Ma, patung Bunda Maria yang selama setahun penuh ditaruh di Kapela Tuan Ma di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Pemilu 'mengusik' Semana Santa di Larantuka

"Setiap tahun saya memang harus ke sini karena saya sudah merasakan menyatu sama Bunda Tuan Ma, dan dia kan baru setahun sekali keluar," ujar Dewi ketika ditemui di Kapela Tuan Ma, Kamis (18/07).

Memang, peziarah hanya dapat bertemu dengan Tuan Ma setahun sekali pada saat Kamis Putih pada perayaan Paskah menjelang Jumat Agung.Momen ini digunakan oleh para peziarah untuk menyampaikan permohonan, atau ujud, agar dikabulkan.

Image caption Dewi Sumarnitia sudah lima kali mengikuti Semana Santa di Larantuka, namun mengaku selalu merindukan sosok Tuan Ma

Salah satunya, Endang Dewiju yang baru pertama kali melakukan ziarah Semana Santa.

"Karena ini baru pertama kali, saya merasa merinding akan wujud nyata Bunda Maria itu ada dan tanpa terasa air mata saya mengalir karena saya menyampaikan doa-doa untuk kesehatan dan tugas-tugas suami," tutur Endang.

Dibukanya pintu Kapela Tuan Ma oleh keturunan Raja Larantuka, Don Andreas Martinus DVG pada Kamis Putih (18/04), menandai dimulainya prosesi Muda Tuan Ma, yaitu Buka Pintu Kapela Tuan Ma.

Peti tempat menyimpan patung yang selama setahun tertutup rapat kini dibuka.

Patung Tuan Ma, begitu warga menyebut patung Bunda Maria itu, dimandikan dan dilengkapi dengan busana perkabungan berwarna biru tua.

Di Kapela Tuan Ana, juga dilakukan pemandian patung Yesus, yang serupa dengan Tuan Ma, disimpan selama setahun penuh.

Kedua patung itu menjadi tokoh sentral dalam tradisi paskah Semana Santa di Larantuka.

Pendapatan berlipat selama Semana Santa

Image caption Selama setahun, Patung Tuan Ma disimpan di Kapela Tuan Ma dan khalayak umum hanya dapat melihatnya setahun sekali.

Tradisi Muda Tuan Ma mengawali hari Kamis Putih, menjelang Jumat Agung dalam tradisi Semana Santa.

Setiap tahun, ribuan umat Katolik dari seluruh penjuru tanah air, bahkan dari negara lain, membanjiri Larantuka.

Ketika umat Katolik tengah menjalani masa perkabungan, warga muslim Larantuka mendulang untung dari menjajakan makanan dan minuman bagi peziarah.

Siti Hapsa adalah salah satunya. Dia berjualan makanan tak jauh dari jalur utama prosesi Jumat Agung. Dia mengaku tiap kali Paskah, pendapatannya menjadi dua kali lipat dari hari biasanya.

"Kalau pas Paskah, mungkin bisa sampai Rp1 juta, itu sehari. Sehari-hari bisa dapat Rp800.000 pemasukan, tergantung rezekinya," ujar Hapsa. Perempuan berusia 28 tahun ini sudah lima tahun pindah dari Adonara, pulau yang terletak di seberang Larantuka.

Image caption Ketika mencium Tuan Ma, peziarah juga menyampaikan doa supaya permohonannya terkabul

Dia mengaku, lapangan kerja di Larantuka jauh lebih baik ketimbang di daerah asalnya itu.

Kepala Dinas Pariwisata Flores Timur, Apolonia Corebima mengungkapkan tradisi paskah warisan Portugis yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya memang menggeliatkan pariwisata di kota Reinha Rosari itu.

"Dampaknya ada ekonomi masyarakat, khususnya hotel, kuliner dan juga suvenir-suvenir dari pengrajin dan penenun mulai bergeliat, meskipun belum terlalu nampak," kata dia.

Bukit Maria Fatima

Tetapi tahun ini, lanjut Apolonia, pemerintah daerah Flores Timur juga sudah melakukan pembinaan kepada hotel, restoran, usaha kecil menengah, untuk siap dan bisa mendukung kebutuhan para peziarah.

Menilik sejarah, Larantuka memiliki hubungan erat dengan Portugis yang pada saat itu berjasa dalam penyebaran agama Katolik di wilayah tersebut. Bahkan hingga kini, hubungan keduanya masih terjalin.

Pada 2012 lalu, Larantuka resmi sebagai kota kembar, atau sister city, dengan Ourem di Lisbon, Portugal.

Selain mengubah tata kota supaya menyerupai kembarannya di Portugal, pemerintah juga membangun Kapel Santa Maria Fatima di puncak bukit Sandominggo Larantuka, yang kini bernama Bukit Maria Fatima.

Apolonia menuturkan bukit itu ditata sebagai salah salah satu pusat doa dan devosi kepada Bunda Maria, seperti kota Fatima di Portugal.

Namun, dengan jumlah penginapan yang masih terbatas, permasalahan penginapan selalu dihadapi para peziarah setiap tahunnya.

Pemuda masjid amankan prosesi Semana Santa

Warga pun menyediakan kamar di rumahnya sebagai penginapan alternatif, termasuk salah satu warga Muslim, Kalsum.

"Saya tidak keberatan karena memang kita di lingkungan sini juga sudah biasa itu, apalagi antara kawin-mawin. Jadi kami sudah anggap Muslim sebagai saudara," kata Kalsum.

Setidaknya ada 120 rumah warga di Larantuka yang disediakan sebagai penginapan alternatif untuk peziarah yang akan melakukan prosesi Jumat Agung. Tak cuma itu saja wujud toleransi antar umat beragama di Larantuka.

Uskup Larantuka Feansiskus Kopong Kung mengatakan pada saat prosesi Jumat Agung, banyak pemuda masjid yang ikut berpartisipasi mengamankan jalannya prosesi ini.

"Mereka mengawal proses ini untuk berjalan baik dengan orang muda Katolik, mereka berbaur," kata Kopong.

Image caption Peziarah mengunjungi Kapela Tuan Ma di Larantuka untuk melakukan prosesi Buka Tuan Ma, atau mencium Tuan Ma, yang dianggap sebagai perwujudan Bunda Maria.

"Bunda yang berduka"

Prosesi Jumat Agung yang digelar Jumat (19/04) menjadi puncak agenda tahunan wisata religi di Larantuka.

Pada Jumat Agung patung Bunda Maria diarak dari kapela Tuan Ma menuju kapela Tuan Ana untuk menjemput Patung Yesus sesuai rute Tikam Turo, yaitu tiang-tiang lilin berjarak sekitar 5 kilometer.

Uskup Larantuka Fransiskus Kopong Kung menjelaskan kedua patung lalu diarak mengitari Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka ke delapan armida, atau penghentian dalam jalan salib.

"Maria sebagai bunda yang berduka harus mengantar putranya tapi dia juga sebagai seorang Reinha, seorang ibu yang berjalan untuk keliling bersama masyarakat dan umat di sini," kata Kopong.

"Ketika dia berduka, semua ikut berduka. Berjalan dengan dia dari armida ke armida di delapan penghentian itu," ujarnya.

Merujuk data Dinas Pariwisata Flores Timur, ada sekitar 5.800 peziarah yang merayakan Paskah di Larantuka pada tahun lalu.

Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah sekitar seperti Kupang dan Maumere. Ada juga dari luar seperti Timor Leste di beberapa negara Eropa.

Sayangnya untuk tahun ini, jumlah peziarah diperkirakan akan menurun karena penyelenggaraan pemilu serentak yang berbarengan dengan pekan suci Semana Santa

Topik terkait

Berita terkait