Petugas KPPS yang meninggal dunia bertambah menjadi 91 orang, 374 jatuh sakit

Petugas KPPS Hak atas foto Getty Images
Image caption Ketua KPU mengakui bahwa tugas KPPS berat dan banyak. Sangat mungkin mereka kelelahan saat menjalankan tugas, kata ketua KPU.

Jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia hingga Senin (22/04) bertambah menjadi 91 orang.

"Jumlah update terakhir petugas penyelenggara pemilu yang tertimpa musibah itu sebanyak 91 orang meninggal dunia, kemudian 374 orang sakit, sakit ini bervariasi ya," kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman, seperti dikutip kantor berita Antara.

Insiden meninggalnya petugas KPPS ini terjadi di 19 provinsi.

Situs berita medcom.id menyebutkan bahwa sebagian besar yang meninggal sebelumnya jatuh sakit karena kelelahan.

Sebelumnya, Arief mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan evalusi terkait dengan personel KKPS yang meninggal dunia akibat tugas yang mereka emban.

"Memang pekerjaannya berat, memang pekerjaannya banyak, maka ya orang sangat mungkin kelelahan dalam menjalankan tugas," kata Arief pekan lalu kepada detik.com.

Untuk para petugas KPPS yang meninggal dunia saat menjalankan tugas ini, Arief telah mengusulkan agar mereka mendapat santunan.

Arief mengatakan sejak awal durasi kerja para petugas KPPS telah diprediksi bakal sangat panjang.

"Kalau dibikin kerjanya seperti kerja normal kantoran masuk jam 08.00 pagi pulang jam 04.00 sore, bisa nggak selesai pemilunya.

"Memang kerja penyelenggara Pemilu itu kerjanya overtime, makanya ketika kami memilih itu, memang nyari orang-orang yang sehat fisiknya, sehat mentalnya. Karena sehat fisiknya saja juga berisiko kalau orang ditekan kanan kiri gampang down, nggak bisa," jelasnya.

Hak atas foto Antara/ZABUR KARURU
Image caption Para petugas KPPS berpakaian ala pahlawan super saat menjalankan tugas pada 17 April 2019.

Durasi penghitungan suara jadi penyebab utama

Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Provinsi Jawa Barat, Rifqi Alimubarok, mengatakan, waktu penghitungan yang memakan waktu lama menjadi penyebab utama.

Menurut Rifqi, para petugas KPPS kelelahan lantaran rata-rata penghitungan suara baru selesai pukul 05.00 pagi. Apalagi satu hari sebelumnya, mereka harus menyiapkan tempat pemungutan suara dan logistik.

"Berdasarkan hasil pantauan di lapangan rata-rata itu selesai pukul 5 pagi, bahkan ada yang berlanjut sampai pukul 12 siang. Karena belum selesai menyalin hasil formulir yang cukup banyak. Dan itu kan tanpa jeda, apalagi kemudian mereka kebanyakan mempersiapkan TPS di H-1 jadi, otomatis kelelahan," ungkap Rifqi, Sabtu (20/4) kepada Kompas.com.

Faktor kelelahan itu, kata Rifqi, menyebabkan banyak petugas yang terbaring sakit setelah pemungutan suara.

"Kan ada lima jenis pemilihan, berarti lima jenis formulir C1. Itu banyak itemnya hampir 20-30 lembar. Kali saksi 16 partai, kali DPD, tambah pengawas TPS untuk Bawaslu. Jadi kalau komplet semua, ada 50 set manual," tambah Rifqi.

Hak atas foto Antara/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
Image caption Anggota Kelompok Panitia Pemungutan Suara membawa kotak surat suara dari tempat pemungutan suara (TPS) pedalaman Suku Baduy di Kampung Cisaban, Lebak, Banten, Kamis (18/04).

'Diminta disederhanakan'

Penuturan Ketua Komisi Pemilihan Umum ( KPU) Provinsi Jawa Barat, Rifqi Alimubarok, diamini Rudi Tauri dan Painen, petugas KPPS di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Kepada BBC News Indonesia, mereka mengaku harus menyiapkan TPS dan berbagai perangkat mencoblos pada Selasa, 16 April 2019.

Adapun pada hari-H, seluruh petugas KPPS mesti merekapitulasi suara untuk pilpres dan pileg dari pukul 13.00 hingga pukul 05.00 keesokan harinya.

"Banyak sekali yang harus kami isi pada formulirnya. Ditambah menghitung suara, jadinya ruwet sekali," kata Rudi.

"Untuk ke depannya mohon prosedurnya disederhanakan. Akan sangat memakan waktu," timpal Painen.

Setelah rampung merekapitulasi kertas suara yang dituangkan dalam formulir C1, seluruh kertas suara dibawa ke tempat penampungan sementara di kelurahan.

Setelah itu, surat suara dibawa ke tingkat kecamatan.

Berdasarkan informasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahapan rekapitulasi mulai dari tingkat TPS hingga nasional dibagi menjadi lima tahapan:

  1. 17 - 18 April : Penghitungan surat suara di TPS
  2. 18 April - 4 Mei : Penghitungan tingkat kecamatan
  3. 22 April - 7 Mei : Penghitungan tingkat kabupaten/kota
  4. 22 April - 12 Mei : Penghitungan tingkat provinsi
  5. 25 April - 22 Mei : Penghitungan dan pengumuman surat suara tingkat nasional

Berita terkait