Tradisi Paskah Semana Santa di Larantuka dan Hikayat Tuan Ma

Larantuka, kota kecil di Flores Timur yang tenang, dibanjiri ribuan umat Katolik yang melakoni prosesi Paskah Semana Santa yang sudah berlangsung lima abad lamanya. Prosesi Jumat Agung berjalan khidmat dan syahdu, meski jumlah peziarah diklaim tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Raja Larantuka Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka. Tradisi itu terus langgeng lebih dari 500 tahun lamanya.

Tradisi Semana Santa yang merupakan warisan Portugis dan tradisi adat, tak bisa lepas dari kehadiran Tuan Ma yang melegenda.

Kisahnya menjulur-julur hingga puluhan generasi, bercampur legenda dan mitos. Sekitar 500 tahun silam di pantai Larantuka, angin tenang, ombak pun pelan, saat itu laut sedang surut. Seorang bocah dari suku Resiona bermain di pinggir laut untuk mencari ikan dan siput di sela-sela karang.

Tradisi Semana Santa di Larantuka dalam rangkaian foto

Saat itulah dia menemukan patung seorang perempuan di tepi laut. Patung itu kemudian dibawa pulang, untuk diserahkan kepada neneknya.

Mulai saat itu, warga Larantuka yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, menganggap patung itu sebagai 'benda keramat'.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Dalam prosesi Jumat Agung (19/04) patung Tuan Ma yang mengenakan jubah berwarna biru tua, diarak mengelilingi Kota Reina.

Cerita itulah yang diturunkan kepada Wilhelmus Resiona, keturunan kesembilan dari penemu pertama patung itu.

"Setelah nenek menerima itu, lalu ditahtakan di korke (rumah adat). Mereka melihat bahwa dia sebagai benda halus yang dihormati secara kekafiran," ujar pria yang akrab disapa Wempi ini kepada BBC News Indonesia.

Hikayat lain menyebut, pemuda Resiona itu melihat seorang dewi yang berjalan di atas air. Takjub dengan apa yang dilihatnya, pemuda itu kemudian bertanya kepada perempuan yang ditemuinya itu, namun sang dewi menjawab dengan bahasa yang tidak dia pahami.

Dia lalu melaporkan apa yang dilihatnya kepada tetua Suku, namun ketika dia dan pembesar suku datang kembali, sang dewi sudah berubah menjadi patung yang cantik dengan raut wajah yang syahdu.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Peziarah mengunjungi Kapela Tuan Ma di Larantuka untuk melakukan prosesi Buka Tuan Ma, atau mencium Tuan Ma, yang dianggap sebagai perwujudan Bunda Maria.

Di dekat patung itu berdiri, kerang-kerang tersusun membentuk simbol-simbol yang tidak mereka pahami - baru kemudian setelah kedatangan misionaris, mereka mengetahui bahwa tulisan itu berbunyi 'Santa Maria Reinha Rosari'. Kemudian, Raja Larantuka saat itu menjadikan patung itu sebagai dewi yang mereka sembah.

"Ketika perang, mereka melakukan seremonial adat di depan patung dan berhasil mengalahkan musuh," ujar keturunan Raja Larantuka, Don Andre Martinus Diaz Viera de Godinho (DVG).

Orang-orang Lamaholot yang mendiami pesisir Flores pun selalu berdoa di depan patung itu ketika sedang membuka lahan untuk bercocok tanam dan ketika sakit agar segera disembuhkan. Menurut Don Martinus, permohonan mereka selalu dikabulkan.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Wilhemus Resiona adalah keturunan ke-9 dari pemuda yang menemukan patung Tuan Ma. Keluarganya kini bertugas sebagai pemegang Kapela Tuan Ma.

"Raja Larantuka saat itu menganggap bahwa patung tersebut sebagai pemberian 'rera wulan', atau sang khalik, sang pencipta, bahwa masyarakatnya selalu ditolong, dilindungi dan dibimbing oleh sang dewi," tutur pria yang merupakan generasi ke-23 Kerajaan Larantuka ini.

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harafiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Sementara masyarakat Lamaholot menyebutnya Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewa Bumi.

Membuka jalan penyebaran Katolik

Pada abad ke-16, bersamaan dengan kedatangan bangsa Portugis yang mencari rempah-rempah di Flores, datanglah misionaris yang menyebarkan agama Katolik.

Don Tinus menuturkan, raja lalu membawa sang misionaris ke korke tempat pentahtaan sang dewi. Ketika membaca tulisan yang tertera di dekat sang dewi dan menyadari bahwa perempuan itu adalah Bunda Maria, sang misionaris langsung berlutut.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Raja Larantuka Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka. Tradisi itu terus langgeng lebih dari 500 tahun lamanya.

"Dia mengatakan Bunda Maria membuka jalan pada tanah ini dimana untuk menyebarkan agama putranya."

"Sehingga Raja berkesimpulan bahwa Bunda Maria sebagai pembuka jalan bagi penyebaran agama Katolik di wilayah ini," papar Don Tinus.

Kisah ini dibenarkan oleh Uskup Larantuka, Fransiskus Kopong Kung, yang mengatakan penyebaran agama Katolik di wilayah itu mendapat kemudahan karena keterkaitan patung itu dengan kekatolikan.

"Dan setelah raja di sini dibaptis menjadi Katolik, anggota keluarga kerajaan mulai masuk katolik, dengan sendirinya rakyatnya ikut dan saat itulah mulai berkembang kekatolikan di sini, ketika Portugis mulai datang, tapi patungnya sudah ada dulu di sini," ujar Uskup Kopong.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Uskup Larantuka Fransiskus Kopong Kung mengatakan patung Tuan Ma membuka jalan penyebaran agama Katolik di Flores pada abad 16.

Lantas, mengapa patung itu bisa datang lebih dulu daripada bangsa Portugis yang kemudian menjadikan Solor, pulau di sebelah timur Larantuka sebagai basis pertahanannya?

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Keuskupan Larantuka berdasar sumber tertulis dari Portugis dan Belanda, pada tahun 1510 ada kapal Portugis yang melakukan pelayaran dagang ke timur dan karam di kampung yang disebut sebagai kampung 'penyu', yang dalam bahasa Larantuka disebut Lokea.

"Kalau kapal dagang Portugis atau Spanyol yang berdagang pada masa itu pada umumnya bawa barang-barang kudus, seperti patung dan banyak sekali barang-barang kudus untuk mereka hadiahkan." ujar Uskup Kopong.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Suara jernih seorang perempuan pembawa ratapan (Ovos Omnes) menyeruak dari kesunyian malam melantunkan ratapan dukacita (ovos) Bunda Maria.

"Kami memperkirakan, kalau kapal karang bisa saja ada patung yang hanyut dari kapal itu dan terdampar di sini dan kami menduga bisa saja itu patung Tuan Ma," lanjutnya.

Sementara merujuk pada kultur masyarakat Lamaholot yang agraris, mereka mempercayai sosok ibu kehidupan yang memberi hidup kepada masyarakat. Karena begitu dekat, kehadiran Tuan Ma atau Bunda Maria tidak asing bagi kehidupan orang Lamaholot sebagai figur baru dalam kultur kehidupan mereka.

"Dan ketika itu masuk dalam dunia kekatolikan ketika Portugis masuk, dan hadirnya patung ini dalam tradisi ini sudah sangat lekat dengan hati orang, maka penghormatan kepada dia pun tidak asing bagi mereka karena mereka sudah dekat dengan seorang ibu yang ada dalam budaya Lamaholot dan dia hadir sebagai ibu baru di dalam kehidupan ini," ungkap Kopong.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Lilin-lilin ini diinyalakan sebagai wujud pernghormatan kepada anggota keluarga dan leluhur yang sudah meninggal. Selain di makam, lilin juga mereka nyalakan di depan rumah mereka.

Tahun 1650, Raja Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan kerajaan Larantuka kepada Tuan Ma yang kini dianggap sebagai perwujudan Bunda Maria.

Sejak saat itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria

Setelah itu putranya, Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Tuan Ma keliling Larantuka.

Tradisi lima abad

Hingga kini, tradisi itu sudah berjalan selama lima abad lamanya. Setiap kali prosesi Jumat Agung, atau Sesta Vera, dua patung suci Tuan Ma dan Tuan Ana, begitu orang Larantuka menyebut patung Yesus, diarak berkeliling jantung kota Larantuka, dengan jutaan lilin dinyalakan sepanjang jalan.

Sesta Vera menjadi puncak perayaan Semana Santa, atau pekan suci Paskah, yang memperlihatkan tautan budaya Portugis dan budaya orang Lamaholot yang erat.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Ini kali pertama Eni Kelen melantunkan ovos, setelah perjalanan panjang selama 14 tahun.

Don Tinus menjelaskan selama lebih dari 500 tahun, keluarga kerajaan Larantuka dan suku-suku Semana bersama dengan Confreria de Rosari, atau perkumpulan Laskar Maria, bahu membahu dengan pihak gereja untuk melestarikan tradisi ini.

"Jadi selama ini kami sebagai pelaksana devosi dengan pihak liturgi Gereja tetap bekerja sama. Kami saling mengisi sehingga tidak terjadi saling mengaku yang lebih penting," jelas Don Tinus.

"Dari gereja hanya melaksanakan liturgi, kami melaksanakan devosi. Jadi devosi dan liturgi ini berjalan bersama-sama," imbuhnya.

Pertautan antara tradisi adat dan ajaran Katolik peninggalan Portugis ini yang membuat Anne Marie, tertarik mengikuti prosesi Semana Santa.

Larantuka Hak atas foto Larantuka
Image caption Ziarah makam menjadi ritual sekali setahun menjelang prosesi puncak Semana Santa, atau pekan suci Paskah.

Perempuan asal Prancis ini sudah 30 tahun tinggal di Indonesia, namun baru pertama kali mengikuti prosesi Semana Santa di Larantuka, Flores Timur.

Dia menuturkan, tradisi Paskah yang khas juga dilakoni penduduk Prancis yang tinggal di Lourdes, kota kecil di selatan Prancis, yang menjadi tempat ziarah terbesar bagi umat Katolik di negara itu, namun menurutnya, tradisi Semana Santa di Larantuka, sangat "menarik".

"Menarik karena upacara keagamaan banyak di Indonesia, beraneka ragam, dan saya rasa ini untuk orang Katolik itu yang paling besar, itu yang menarik."

"Kedua, ada latar belakang khusus masuknya agama Katolik di Pulau Flores dengan patung Tuan Ma yang berhubungan dengan sejarah itu," jelas perempuan yang sudah fasih berbahasa Indonesia ini.

Aura Magis Tuan Ma

Tuan Ma, begitu orang Larantuka menyebut patung Mater Dolorosa atau Bunda Maria Berdukacita yang menjadi pusat ritual tradisi Semana Santa, memang disakralkan oleh warga Larantuka.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Tuan Ma hanya bisa ditemui setahun sekali pada saat prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera, itu yang kemudian membuat kehadiran Tuan Ma begitu dinanti oleh umat dan peziarah.

Kehadiran Tuan Ma dan patung Tuan Ana, sebutan warga Larantuka bagi Yesus dan prosesi Jumat Agung, ditunggu umat dan peziarah yang membanjiri dari seluruh penjuru negeri.

Seorang warga Larantuka, Nus de Rosari menuturkan Tuan Ma cuma bisa ditemui setahun sekali sejak Kamis Putih hingga Jumat Agung, atau Sesta Vera, itu yang kemudian membuat kehadiran Tuan Ma begitu ditunggu oleh umat dan peziarah.

Uniknya, masing-masing orang memiliki intepretasi yang berbeda-beda ketika melihat raut 'sang bunda'.

"Wajah bunda itu kita melihat sesuai dengan iman kita yang mana kepercayaan orang Larantuka, kalau bunda itu berwajah suram, artinya kita susah. Tapi ketika berwajah berseri-seri, itu artinya tahun ini peroleh berkah," ujar Nus.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Warga peziarah memercayai raut wajah Tuan Ma yang dilihatnya merepresentasikan apa yang mereka rasakan pada saat itu.

Pengalaman itu, yang membuat Dewi Sumarnitia selalu merasa haru tiap kali bertemu dengan Tuan pada prosesi cium Tuan Ma, dimana umat dan peziarah bersujud di depan Tuan Ma sambil menyampaikan wujud, atau permohonan mereka.

Aura magis Tuan Ma yang membuat perempuan yang berasal dari Maumere ini terus melakukan prosesi Semana Santa tiap tahunnya. Ini adalah tahun kelimanya mengikuti tradisi ini.

"Saat suasana hati kita sedang sedih, pasti kita juga melihat Bunda Maria kelihatannya seperti sedih, tergantung pada penglihatan masing-masing, kalau kita bahagia dia pasti kelihatan bahagia juga," katanya.

"Itu yang membuat kita tersentuh sekali," ujarnya.

Perjalanan panjang perempuan pembawa ratapan

Prosesi Jumat Agung (19/04) adalah puncak dari acara Semana Santa. Dalam prosesi ini, Patung Tuan Ma yang mengenakan busana jubah berwarna biru tua, diarak mengelilingi Kota Reina.

Dalam prosesi ini, para peziarah bersama pasukan pengiring Patung Tuan Ma serta para rohaniawan menyinggahi delapan tempat perhentian atau armida.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Sebelum melakukan prosesi puncak Jumat Agung, warga Larantuka berziarah ke makam keluarga.

Sambil berarak keliling kota, ribuan peziarah mengambil bagian dalam penderitaan Yesus dan dukacita Bunda Maria sambil merapal doa-doa dan permohonan.

Lagu-lagu ratapan yang dibawakan confreria, signor deo, dan barisan perempuan berkabung membangkitkan rasa seakan-akan jalan salib Yesus dari ruang pengadilan hingga wafat di Golgota hadir di kota Larantuka.

Pada tiap perhentian, suara jernih seorang perempuan pembawa ratapan (Ovos Omnes) menyeruak dari kesunyian malam melantunkan ratapan dukacita (ovos) Bunda Maria.

Sebuah perjalanan panjang bagi Eni Kellen hingga akhirnya menjadi ovos omnes. Sebagai warga asli Larantuka, sejak kecil dia selalu terkesima dengan ratapan yang dinyanyikan di setiap armida.

"Waktu kecil saya selalu ikut prosesi malam jadi pada saat mendengar ovos dari hati saya ingin belajar tentang ovos dan suatu saat saya mau menyanyikan ovos ini," ujar perempuan berusia 26 tahun ini.

Ketika menginjak 12 tahun, dia bermimpi untuk menjadi perempuan yang melantunkan lagu ratapan.

Larantuka Hak atas foto BBC News Indonesia
Image caption Ziarah makam menjadi ritual sekali setahun menjelang prosesi puncak Semana Santa, atau pekan suci Paskah.

Namun, dia terpaksa meninggalkan Larantuka selama beberapa tahun karena meneruskan studi di Makassar. Baru tahun lalu, setelah menuntaskan pendidikan keperawatannya, dia kembali ke Larantuka.

Bulan lalu dia lantas mendaftarkan diri di Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka. Dari 36 yang mendaftar, diseleksi dan akhirnya masuk ke 15 besar hingga akhirnya terpilih 10 orang yang akan menyanyikan ovos saat di gereja dan di tiap armida.

Eni menuturkan, tidak lah mudah melantunkan ovos, yang terpenting dari tugas itu bukanlah suara yang merdu, namun bagaimana menjiwai ratapan itu sehingga membuat pendengarnya terbawa suasana duka.

"Bagi saya dan semua orang, menjadi ovos tidak lah mudah. Butuh orang-orang terpilih untuk menjadi ovos," tutur Eni.

"Saya punya wujud yang besar bahwa saya akan bertobat dan saya akan lebih mengikuti tuhan. Karena ketika saya dipilih, berarti memang Tuhan memang pilih saya Tuhan kasih saya kesempatan untuk melantukan ovos itu," cetusnya.

BBC News Indonesia

Berita terkait