Kasus pelecehan seksual di transportasi online: Mulai dikirimi foto porno hingga diperkosa

pelecehan seksual Hak atas foto Getty Images
Image caption Foto ilustrasi: Kampanye mencegah pelecehan seksual di tempat umum dan kendaraan umum.

Sejumlah kasus pelecehan seksual terhadap perempuan di transportasi online masih terjadi semenjak sejak sistem transportasi ini berkembang di Indonesia. Apa upaya pencegahan yang bisa dilakukan?

Aully Grashinta tak menyangka, order taksi online pada Februari 2018, bakal berbuntut panjang. Bermula dari pengemudi ojek online yang datang dan motor yang digunakan berbeda dari yang ada di aplikasi.

Siang itu Aully memesan taksi online untuk jarak dekat, kurang dari lima kilometer, dari stasiun Sudirman hingga JCC senayan. Sang pengemudi tidak tahu arah dan Aully diajak berputar-putar.

Kesal, ia membubuhkan bintang satu. Dan aksi pelecehan bermula dari situ. "Saya dikirimi berbagai foto porno," katanya kepada wartawan Arin Swandari untuk BBC Indonesia, Selasa (23/04).

Hak atas foto Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images
Image caption Foto ilustrasi: Kampanye mencegah pelecehan seksual di tempat umum dan kendaraan umum.

Tak cuma itu, kata-kata melecehkan dilontarkan. "Pict (foto) profile saya ditaruh di gambar-gambar, dikirim ke saya, dimasukan fotonya itu, ini mau disantet dan sebagainya," tutur Aully.

Kisah lain datang dari sahabat Aully saat menggunakan taksi online di Depok. Pengemudi mengatakan akan menculiknya dan menjadikan istri. Kalimat itu terlontar dua kali.

Ada lagi seorang perempuan di Jakarta, saat berkomunikasi dengan driver yang akan menjemput, si driver malah mengirim pesan mengajak ngamar.

Aully yang juga seorang psikolog dan pengamat transportasi, sekaligus tergabung dalam Dewan Transportasi Kota Jakarta, sudah melaporkan kasusnya ke provider dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Sampai berbulan-bulan, tak ada respons. "Saya sempat males naik ojol setelah itu, selama dua bulanan. Tapi ya balik lagi, karena perlu," katanya.

Cerita Aully hanya satu dari kasus-kasus pelecehan seksual di transportasi online yang terjadi.

Hak atas foto NurPhoto
Image caption Foto ilustrasi: Kampanye mencegah pelecehan seksual di tempat umum dan kendaraan umum.

Sebuah petisi online menuntut penutupan perusahaan transportasi pernah dilayangkan tahun lalu, lantaran dianggap membiarkan pelecehan seksual.

Di dalamnya tertulis berderet berita kasus pelecehan seksual. Pelecehan seksualnya bukan soal statistik, satu kasus adalah kejahatan, tapi jumlah yang terus bertambah menandakan ada masalah serius.

Pelecahan seksual oleh mitra pengemudi di Jombang, Jawa Timur terjadi pada Januari 2019, yang lantas akunnya dinonaktifkan oleh provider.

Setahun sebelumnya pengemudi taksi berinisial AN melecehkan penumpang perempuan berusia 28 tahun di Jakarta, saat akan menuju ke Bandara. Korban bahkan akan diperkosa.

Di Kota Palembang juga pernah terjadi pada Mei 2018. Pengemudi berbelok arah dari yang seharusnya dituju. Korban meminta sopir taksi online berhenti tapi sopir terus melaju.

Hak atas foto Godong/UIG via Getty Images
Image caption Foto ilustrasi; Aplikasi transportasi online.

Satu lelaki lain mendadak muncul dari kursi paling belakang mobil dan menyekapnya. Kekerasan seksual terjadi saat itu. Kasus lain terjadi di Kota Makasar, Sulsel, dan sejumlah daerah lain.

Komisioner Komnas Perempuan Margdalena Sitorus menceritakan kasus pelecehan seksual di Jakarta Barat yang mereka tangani. Seorang perempuan dibawa selama delapan jam oleh pengemudi dan dirampok.

"Di belakangnya ada orang duduk dan dia paksa ambil ATM-nya, ternyata dia kecewa, di ATM tidak banyak uangnya, kemudian dia mau diperkosa, tapi dia sedang period," papar Magda.

Kasus lain yang ditangani Komnas Perempuan adalah kasus pengemudi taksi online yang masturbasi, dan pengemudi yang meremas payudara penumpang perempuan, setelah diturunkan di tempat sepi.

Pelatihan dan edukasi pengemudi

Baik Grab maupun Gojek menyatakan terus memperbaiki layanan yang aman bagi perempuan, baik untuk penumpang maupun pengemudi perempuan.

Vice President Corporate Affair Gojek, Michael Reza Say, mengatakan terus berinovasi lewat aplikasi. Menurutnya, Gojek telah meluncurkan fitur keamanan baru yang disebut dengan tombol darurat.

Hak atas foto GOH CHAI HIN/AFP/Getty Images
Image caption Foto ilustrasi: Pengemudi Grab dan penumpangnya.

"Emergency button sama fitur untuk membagikan perjalanan, fitur ini menjawablah kebutuhan pengguna akan keamanan," klaimnya.

Bagaimana dengan Grab? "Sejak tahun 2018 lalu, kami telah meluncurkan road map teknologi keselamatan," kata Tri Sukma Anreianno, Head of Public Affair Grab Indonesia.

Terkait munculnya risiko serupa kasus yang dialami Aully, Managing Grab Indonesia, Ridzky Kramadibtara, mengklaim ke depan hal tersebut tidak akan terjadi di Grab.

"Setiap terjadi booking tidak akan terlihat nomor telepon sebenarnya, baik penumpang maupun pengemudi." Ini sudah berlaku 100 persen di seluruh Indonesia.

"Sehingga mereka tidak akan bisa lagi mengirimkan gambar-gambar seperti itu," tambahnya.

Rizdky menambahkan, jika itu terjadi di masa lalu, bisa tetap dilaporkan saat ini. Sejak program penyamaran nomer telepon Grab, kata Tri Sukma, telah bisa menekan 70 persen penyalahgunaan nomor telepon.

"Itu empat minggu pertama sejak diterapkan," tambah Tri.

Hak atas foto Agung Fatma Putra/Getty
Image caption Foto ilustrasi: aplikasi transportasi online di kendaraan milik pengemudi.

Selain itu, Grab mengumumkan program pelatihan bela diri bagi pengemudi perempuan dan langkah 'menjodohkan' penumpang perempuan dan pengemudi perempuan.

Psikolog sekaligus pengamat transportasi, Aully menyebut inovasi teknologi untuk keselamatan dan keamanan seperti memang diperlukan. Tapi itu belum cukup.

Ia juga mengkritik 'perjodohan' antara penumpang perempuan dan pengemudi perempuan.

"Kita malah mendiskriminasi perempuan sebenarnya, karena perempuan diberi hak yang khusus dari pada laki-laki," kata Aully.

Hal yang sama juga disampaikan Komisioner Komnas Perempuan Margdalena Sitorus. "Mereka harus tahu perempuan itu rentan di mana pun mereka berada," kata Magda.

Itu hal yang harus disadari oleh para provider. Itu sebab, alih-alih menjodohkan driver perempuan dengan penumpang perempuan, lebih baik melakukan edukasi pada para driver, katanya.

"Karena secara umum masyarakat kadang tidak paham tentang apa yang dilakukan itu sebenarnya sudah melakukan pelecehan," kata Magda.

Hak atas foto Donal Husni/NurPhoto via Getty Images
Image caption Foto ilustrasi: Pengemudi transportasi online Gojek.

Ia memberi contoh sederhana, misalnya saat ingin membangunkan penumpang perempuan yang tertidur di taksi online. Kata Magda harus ada do dan don't.

Gojek kata Reza telah bekerja sama dengan Hollaback, sebuah gerakan global yang bertujuan melawan dan mencegah kekerasan seksual di ruang publik untuk menyusun materi pelatihan.

"Kami berikan edukasi tidak hanya kepada driver, tetapi juga pelaksana-pelaksana kopi darat atau kopdar yang bertemu langsung (dengan para driver)," lanjut Reza.

Sementara Tri Sukma mengatakan Grab telah bekerjasama dengan Komnas Perempuan untuk memberi pelatihan antikekerasan seksual.

Bermula dari rekruitmen

Baik Auly dan Magda juga menekankan tentang pentingnya rekruitmen. Menurut Auly, seharusnya menggunakan transportasi online lebih aman lantaran para pengemudi terdata.

"Kalau driver ini ter-record kan harus menjadi tanggung jawab provider," kata Aully. Dia menekankan seharusnya driver memiliki data rinci tentang para pengemudi.

Menjawab hal tersebut Tri megklaim Grab melakukan verifikasi dokumen dan memeriksa latar belakang pengemudi. Grab mensyaratkan dalam rekrutmen Grab mensyaratkan KTP, surat kelengkapan kendaraan dan Surat Keterangan Catatan Kepolisian SKCK.

Hak atas foto Solo Imaji /Getty
Image caption Foro ilustrasi: Pengemudi transportasi online dan penumpangnya.

"Juga ada wawancara tatap muka, dan pemeriksaan kendaraan mitra pengemudi," tambahnya.

Reza menyebut Gojek memiliki 1,5 juta mitra dan sejumlah komunitas pengemudi. Seperti Grab, dalam rekruitmen Reza juga mengklaim telah melakukan screening, mulai kewajiban memiliki surat kelengkapan kendaraan, hingga SKCK.

Saat akan mulai bekerja, kata Reza, mitra akan mulai dapat pembekalan awal yang secara bertahap akan dilanjutkan, temasuk mendapat pelatihan anti kekerasan seksual.

"Kami tidak akan merekrut ulang driver yang punya catatan pelanggaran," katanya.

Respons kurang cepat

Aully menilai respons perusahaan terhadap laporan kurang cepat.

Namun, Gojek dan Grab mengklaim timnya telah berusaha merespon secepat mungkin.

Vice President Corporate Affair Gojek Michael Reza Say mengklaim perusahaanya telah menerapkan prosedur penangannya kasus.

"Kita punya terjadi kekerasan seksual di platform kami, ada beberapa langkah yang kami lakukan," katanya.

Hak atas foto Agung Fatma Putra/Getty
Image caption Foto ilustrasi: Aplikasi transportasi online di kendaraan roda empat.

Gojek, katanya, melakukan secara hati-hati oleh sebuah unit khusus yang diberi nama unit darurat.

"Unit darurat ini bertugas langsung menemui korban, untuk pendalaman kasus, korban tidak hanya penggunan tapi juga dari sisi mitra kami," tambah Reza.

Bantuan, kata Reza, juga ditawarkan bagi korban berupa pengobatan, pendampingan psikiater, dan pendampingan hukum.

Rizdky juga mengklaim tim Grab akan menangani langsung setiap laporan yang masuk. "Kita punya tim yang bekerja 24 jam," tambahnya.

Laporan bisa dilakukan melalui aplikasi, email, atau telepon. Rizdky menyebut salah satu respons cepat yang Grab lakukan adalah langsung mensuspen driver selama investigasi dilakukan.

Namun yang terjadi, menurut Aully, belum cukup cepat. Akibatnya justru banyak kasus terekspos di media sosial.

"Nggak ada respons dan orang melakukannya secara viral," ujarnya.

Ia menyebut kembali apa pengalamannya ketika melaporkan kasus pengiriman konten porno oleh pengemudi yang hingga kini belum ditanggapi.

Topik terkait

Berita terkait