Seberapa siap pemerintah dukung industri motor listrik dalam negeri?

motor listrik

Hingga tahun 2025, pemerintah berencana mengembangkan sepeda motor listrik hingga 2,1 juta unit. Meski begitu, pengamat energi menilai dukungan pemerintah terhadap industri ini belum maksimal.

Motor listrik lokal, Gesits, mulai dipasarkan pertengahan pada April lalu setelah dikembangkan selama kurang lebih empat tahun. Motor yang dihargai sekitar Rp25 juta itu rencananya mulai didistribusikan pada bulan Juli mendatang.

Meski disebut buatan Indonesia, sebanyak 20% komponen motor itu diimpor. Sisanya, sekitar diproduksi di dalam negeri oleh beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pindad, PT Len, dan PT PLN.

Produsen motor Gesits, PT Gesits Technologies Indo, menargetkan untuk memproduksi 50.000 motor listrik ini setiap tahunnya.

Pemerintah sendiri menargetkan untuk mengembangkan 2,1 juta roda dua bertenaga listrik hingga enam tahun mendatang seperti tercantum di Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Akan tetapi, direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, mengatakan hingga saat ini komitmen pemerintah untuk mendukung industri ini belum terlihat maksimal.

Image caption Motor listri Gesits yang dihargai sekitar Rp 25 juta rencananya mulai didistribusikan pada bulan Juli mendatang.

"Yang saya amati belum kelihatan ya (dukungannya) terhadap pengembangan motor listrik." ujar Fabby.

Dukungan yang disorotnya meliputi berbagai aspek, seperti dari kebijakan dan bantuan fiskal untuk produksi massal motor listrik.

Apa keunggulan motor listrik?

Fabby mengatakan produksi motor listrik perlu didukung karena kendaraan itu lebih hemat energi.

Menurut CEO PT Gesits Technologies Indo, Harun Sjech, pengisian baterai isi ulang motor listrik hingga penuh membutuhkan waktu tiga sampai empat jam.

Sekali pengisian, motor dapat digunakan untuk menempuh jarak 50 kilometer.

Jika dikonversi dalam rupiah, kata Harun, pengguna hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp1.800 untuk satu kali isi ulang baterai hingga penuh.

Image caption Pengisian baterai isi ulang motor listrik hingga penuh membutuhkan waktu tiga sampai empat jam.

"Motor biasa butuh Pertalite Rp8.000 untuk menempuh jarak 40 hingga 50 kilometer. Itulah efisiensinya Gesits dari segi energi," katanya.

Efisiensi itu disebut Fabby bisa membantu negara menyelesaikan persoalan yang timbul akibat impor BBM dan minyak mentah. Apalagi, ujarnya, jumlah kendaraan roda dua di Indonesia sangat banyak.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kepemilikan sepeda motor terus meningkat setiap tahun.

"Kita bisa mengurangi impor BBM dan defisit perdagangan bisa terkendali," kata Fabby.

Ia menambahkan pemakaian motor listrik bisa mengurangi jumlah polusi karena kendaraan itu tidak mengeluarkan emisi.

Bagaimana cara membentuk pasar motor listrik?

Fabby mengatakan untuk mendukung industri motor listrik, pemerintah perlu turut serta menciptakan pasar motor listrik.

Pasar sepeda motor di Indonesia cukup tinggi hingga mencapai sekitar enam juta unit pertahun, menurut data yang dirilis Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI).

Di China, kata Fabby, pemerintah menciptakan pasar motor listrik dengan melarang sepeda motor dengan combustion engine (mesin pembakaran) di zona-zona tertentu.

Hal itu, katanya, membuat industri motor listrik berkembang dan meningkat.

Selain itu, katanya, pemerintah juga bisa membantu produsen untuk membuat harga motor listrik lebih terjangkau.

"(Pemerintah bisa membantu) dalam bentuk insentif, misalkan dalam bentuk subsidi untuk motor listrik sehingga dia lebih murah dari motor konvensional, sehingga orang-orang mau membeli," katanya.

Hak atas foto Zhang Peng/Getty
Image caption Pengamat Fabby Tumiwa menyebut harga motor listrik Gesits sebesar Rp 25 juta masih belum menarik untuk masyarakat. Di China, katanya, harganya jauh lebih murah.

Harga sekitar Rp25 juta, kata Fabby, kurang menarik bagi para konsumen karena tidak jauh berbeda dengan motor biasa.

Di China dan Taiwan, katanya, harga motor listrik hanya belasan juta rupiah.

Meski menyarankan pemerintah untuk tidak terlalu overprotektif terhadap motor listrik ini, dalam waktu tiga sampai lima tahun pertama, ujar Fabby, pemerintah disarankan untuk intensif membantu kinerja produsen.

Salah satu usulan, kata Fabby, BUMN bisa ikut menaruh saham di perusahaan produsen motor listrik.

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Meski begitu, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yakin bahwa potensi pasar motor listrik di Indonesia menjanjikan.

Ia menyebut keberadaan motor listrik bisa menjadi alternatif bagi masyarakat.

Saat ini, Putu menjelaskan pemerintah belum berwacana untuk melakukan pelarangan motor konvensional atau mensubsidi motor listrik.

Namun, ujar Putu, pemerintah sudah melakukan beberapa langkah untuk mendukung industri ini.

Image caption Tampilan speedometer digital motor listrik Gesits.

"Pemerintah menanggung bea masuk untuk komponen-komponen Gesits yang masih diimpor," ujar Putu.

Saat ini, Gesits masih mengimpor baterai, beberapa komponen elektronik, dan magnet motor.

Selain itu, pemerintah, kata Putu, membantu mempercepat pengurusan administrasi motor listrik seperti Nomor Identifikasi Kendaraan (NIK).

Untuk pembeli, lanjutnya, pemerintah juga sudah memberi fasilitas biaya bea balik nama yang lebih rendah untuk kendaraan listrik.

Putu menambahkan, perbankan nasional telah menyediakan skema kredit khusus untuk para pembeli motor listrik.

Sementara, ujarnya, untuk pengisian baterai listrik, selain bisa mengisi di rumah, pengguna dapat mengisi baterai di Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) yang sudah disiapkan PLN.

Hak atas foto Kompas.com
Image caption Kepala Divisi Niaga PLN Yuddy Setyo Wicaksono mengatakan SPLU sudah dibangun di sekitar 3.200 titik di Indonesia dengan total 2.920 unit.

Kepala Divisi Niaga PLN, Yuddy Setyo Wicakson,o mengatakan SPLU sudah dibangun di sekitar 3.200 titik di Indonesia dengan total 2.920 unit.

Yuddy menyebut SPLU paling banyak terdapat di Jakarta dengan lebih dari 1.300 titik.

Targetkan produksi baterai sendiri dan ekspor

Putu menyebut pemerintah tengah berupaya mengembangkan produksi baterai karena baterai adalah komponen termahal dalam motor listrik.

"Kalau baterainya bisa kita produksi dengan bahan baku lokal, kita harapkan dia punya suatu dukungan untuk berkompetisi di pasar global," ujarnya.

Setelah mampu memproduksi baterai sendiri, pemerintah berencana juga mengekspor motor listrik tersebut.

Sebagai negara produsen sepeda motor terbesar nomor tiga di dunia, kata Putu, pasar-pasar di ASEAN, Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika akan sangat potensial untuk motor listrik.

Di sisi lain, meski disebut ramah lingkungan, listrik yang menggerakan motor listrik belum dihasilkan oleh energi terbarukan.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar menyebut hal itu masih berlangsung karena Indonesia punya banyak cadangan batu bara.

"Namun kita punya roadmap menggunakan clean coal technology. Kita juga sudah mulai (mengembangkan energi) wind farm, solar, biomass dan hydro," ujar Wanhar.

Ia menambahkan kementerian menyarankan stasiun pengisian listrik untuk menggunakan listrik dari Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap untuk mengurangi emisi.

Berita terkait