Harga tiket pesawat tetap tinggi di tengah pesanan untuk lebaran walau Tarif Batas Atas dipangkas

harga tiket Hak atas foto ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Image caption Petugas memeriksa tiket pesawat penumpang di Low Cost Carrier Terminal (LCCT) atau Terminal khusus penerbangan maskapai berbiaya rendah usai peresmian operasionalnya di Terminal 2 F Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Harga tiket pesawat masih tetap tinggi di tengah pesanan untuk lebaran walaupun pemerintah telah memangkas Tarif Batas Atas rata-rata 15%.

Hampir semua maskapai penerbangan menerapkan tarif tinggi, rata-rata di atas 100% dari tarif bawah, lonjakan yang terjadi sejak awal tahun 2019.

Kementerian Perhubungan akan mulai memberlakukan keputusan memangkas Tarif Batas Atas antara 12% hingga 16% pada Rabu (15/05) namun sampai Selasa malam belum mengeluarkan tarif baru.

Dengan penurunan ini, Kementerian Perhubungan mengharapkan harga tarif angkutan udara terjangkau masyarakat, khususnya menjelang mudik lebaran dan keberlangsungan industri penerbangan tetap terjaga.

Kendati begitu, penurunan tarif ini hanya berlaku untuk pesawat kelas ekonomi jenis jet, termasuk Garuda Indonesia dan Batik Air.

Penurunan ini tidak berlaku untuk maskapai nasional berbiaya murah (Low Cost Carrier/LCC) seperti AirAsia, Lion Air, Wings Air, dan Citilink. Mereka hanya diimbau menyesuaikan tarif tiket di rentang 50% dari Tarif Batas Atas.

Apa tanggapan masyarakat?

Rai Rahman Indra, perantau di Jakarta, berencana mudik pada Lebaran tahun ini ke tanah kelahirannya Padang, Sumatra Barat. Ia punya bujet Rp1,6 juta untuk membeli tiket pesawat pergi dan pulang.

Tapi dari pantauannya di berbagai aplikasi penjualan tiket, harganya sudah meroket jauh untuk sekali perjalanan dengan maskapai penerbangan Lion Air, dengan kisaran Rp1,3 sampai Rp1,6 juta.

"Kalau ditotal aja pergi-pulang Jakarta-Padang Rp3,2 juta," ujar Rai Rahman Indra kepada BBC News Indonesia.

Sementara, kebijakan pemerintah yang menurunkan Tarif Batas Atas sebesar 12 hingga 16%, tak menjawab kegusarannya.

Menurut pria yang bekerja di perusahaan swasta ini, mestinya pemerintah memangkas Tarif Batas Bawah.

"Enggak pengaruh deh kayaknya kalau cuma tarif atas doang. Mestinya tarif bawah itu. Saya kan nggak pakai Garuda, pasti pilihannya yang murah kayak Lion meski resikonya tinggi tapi nggak ada opsi lain," katanya sambil mengeluh.

Melihat harga tiket pesawat yang tak juga turun, Rai masih berusaha mencari tiket promo dan terpaksa mengurungkan niat pulang kampung bila tak dapat yang murah.

"Kalau pulang dengan jalan darat atau laut, sayang waktu dan trauma banyak begal di jalan," katanya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Image caption Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan) didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kanan) dan Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso (kedua kiri)memberikan keterangan pers tentang tarif batas atas tiket pesawat di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Lain lagi dengan Asti Wulandari yang memang sengaja menunda membeli tiket pesawat tujuan Solo, Jawa Tengah, sembari menunggu keputusan pemerintah atas harga tiket. Tapi begitu tahu hasil penurunan tarif atas, ia mengatakan "jauh dari harapan".

"Harapan saya tadinya bisa di angka Rp700-Rp800 ribu. Kalau turunnya cuma 12-16% kayaknya nggak menyentuh angka itu deh," ujar Asti kepada BBC News Indonesia, Selasa (14/05).

Asti berencana mudik ke Solo bersama enam orang anggota keluarganya dan pesawat selalu menjadi pilihan utama. Dari pantauannya di aplikasi penjualan tiket, tarifnya sudah melambung di kisaran Rp1,2 juta untuk sekali berangkat. Sementara tahun lalu, harganya masih Rp800 ribu.

"Saya perhatikan minggu lalu, tiketnya masih banyak. Padahal biasanya masuk bulan puasa, tinggal sedikit. Jadi kayaknya mungkin orang-orang kayak saya nunggu keputusan jadi turun atau nggak," sambung Asti.

Untuk mengatasi bujet yang terbatas, Asti terpaksa hanya memberangkatkan orangtuanya ke Solo dengan pesawat terbang. Sementara ia dan sisa anggota keluarga menggunakan transportasi darat.

"Mau gimana lagi. Saya juga bawa orangtua, kalau pakai transportasi darat nggak mungkin, pasti capek. Jadi yang naik pesawat cuma sebagian dari anggota keluarga."

Penurunan Tarif Batas Atas tak efektif

Wakil Ketua Harian dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, menyebut keputusan pemerintah memangkas Tarif Batas Atas sebesar 12% hingga 16%, agar dianggap "berbuat sesuatu untuk merespon mahalnya harga tiket".

Padahal menurut YLKI, kebijakan itu sama sekali tak efektif menurunkan harga tiket dalam jangka pendek maupun panjang.

Ia mengatakan justru yang terlihat, penurunan ini terkesan politis karena tak ada penjelasan secara hitung-hitungan ekonomi apa yang menyebabkan Tarif Batas Atas bisa turun.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
Image caption Pesawat udara berada di landasan pacu Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Rabu (3/4/2019).

"Kalau pemerintah menurunkan Tarif Batas Atas itu mestinya dijelaskan komponen atau struktur biaya apa yang turun? Jadi kesannya tidak politis. Tanpa ada penjelasan yang transparan, pendekatannya harusnya ekonomi bukan politik," jelas Sudaryatmo.

Dari pengamatan lembaganya, tiket yang dijual maskapai cenderung yang mendekati Tarif Batas Atas sementara harga murah, sangat jarang ditemukan.

Apa yang terjadi di lapangan tidak melanggar aturan karena penentuan tarif yang diatur pemerintah, diserahkan kepada masing-masing maskapai.

Kalaupun kini lonjakan tarif dikeluhkan pelbagai kalangan, pemerintah bisa mengintervensi dengan membedah struktur atau komponen biaya yang dimasukkan dalam harga tiket, kata Sudaryatmo.

Ia menyebut komponen tarif termasuk avtur, perawatan, pengadaan suku cadang, asuransi, leasing pesawat, biaya SDM, dan tarif kebandarudaraan.

"Pemerintah semestinya menganalisa struktur biaya, sehingga bisa membandingkan dengan negara lain apakah ada yang salah dengan struktur biaya di negeri kita?"

"Kecuali pemerintah mau mensubsidi avtur, tapi itu kan sepertinya tidak realistis. Jadi ketika pemerintah menganggap tiket mahal, bisa intervensi tarif tapi harus menanggung beban lain itu atau menurunkan biaya kebandarudaraan sebesar 10% itu," kata Sudaryatmo lagi.

Solusi lainnya, kata dia, pemerintah membuka pintu bagi maskapai penerbangan baru di Indonesia agar tidak dimonopoli oleh dua perusahaan besar saat ini yaitu Lion Air Group dan Garuda Group. Dengan begitu, harga tiket akan lebih kompetitif.

"Mestinya minimal ada 3-5 pemain dengan market share yang berimbang. Sekarang cuma dua pemain. Yyang harus didorong adalah iklim persaingan sehingga lebih kompetitif. Tidak didominasi segelintir airlines," tambahnya.

Agen perjalanan sepi pembeli

Salah satu agen perjalanan di Jakarta, Interlink, mengatakan mengalami penurunan penjualan tiket pesawat terbang hingga 50% sejak awal tahun ini.

Menurut Interlink, penyebab sepi pembeli adalah harga tiket yang melonjak hampir mendekati Tarif Batas Atas untuk semua tujuan di Indonesia.

Maskapai Garuda Indonesia dan Batik Air misalnya, tidak lagi membuka kelas tarif bawah sedangkan Lion Air, Citilink, Sriwijaya, menetapkan tarif menengah.

"Memang agak sepi ya, nggak seperti tahun-tahun lalu. Turun sekitar separuhnya lah," ujar Supervisor Interlink, Lina Wong kepada BBC News Indonesia, Selasa (14/05).

"Kayak Lion Air itu pasang harga tengah-tengah. Tapi kalau harga promo sudah nggak ada lagi. Dulu kan ada kelas murah, sekarang sudah nggak dibuka lagi tuh. Itu sejak tahun ini."

Karena kondisi ini Interlink, kata Lina, pendapatan perusahaan pun jadi pas-pasan. Untuk menyiasati hal itu, pihaknya hanya mengandalkan pesanan dari lembaga pemerintahan yang saat ini sekitar 70% sementara dari pembeli perorangan, makin minim.

"Travel agak kesulitan juga, apalagi ada aplikasi penjualan tiket. Itu bikin kena imbas."

Berita terkait