Demo 22 Mei: Ambulans berlogo Gerindra 'mengangkut batu' saat protes di Bawaslu, Fadli Zon bantah

Mobil Gerindra Hak atas foto Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Image caption Petugas memeriksa ambulans yang diduga disalahgunakan untuk membawa batu dalam kericuhan aksi 22 Mei, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (23/05).

Polisi telah menetapkan dua orang kader Partai Gerindra dan tiga orang lainnya sebagai tersangka terkait temuan batu di mobil ambulans berlogo Partai Gerindra yang ditemukan di dekat lokasi kerusuhan di Gedung Bawaslu, Rabu (22/05) dini hari.

"Ada saksi yang melihat batu diambil dari mobil tersebut," kata Kombes Pol Argo Yuwono, Kabidhumas Polda Metro Jaya dalam jumpa pers, Kamis (23/05) sore.

Bersama dua orang asal Riau (inisial HS, SGC), yang menurut polisi, ikut menumpang mobil ambulans tersebut, tiga orang tersebut (inisialnya sopir YNG, I, O) telah dinyatakan sebagai tersangka.

"Untuk tersangka, kita kenakan pasal 55, 56, 170, 212, 214 KUHP dengan ancaman hukuman penjara lima tahun ke atas," kata Argo.

Kejadian "pengambilan batu dari mobil itu", menurut Argo, terjadi saat massa di depan Gedung Bawaslu melakukan aksi lempar batu ke arah aparat polisi.

Hak atas foto Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO
Image caption Petugas membawa tersangka pelaku kericuhan dalam aksi 22 Mei dalam rilis di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (23/05).

Dijelaskan, dua kader Gerindra itu - Sekretaris dan Wakil Sekretarus DPC Gerindra - mendapat perintah dari Ketua DPC Partai Gerindra Tasikmalaya untuk membantu apabila ada korban terluka dalam bentrokan dengan aparat di Jakarta. "Ada surat tugasnya," katanya.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Demo 22 Mei: Dari sampah berserakan hingga bunga untuk aparat keamanan

Tidak ditemukan peralatan medis

Namun menurut Argo, dua orang itu dan sopirnya tidak memiliki kualifikasi sebagai petugas medis.

"Dan di dalam mobil itu tidak ada peralatan medis atau obat-obatan P3K," ungkapnya. "Yang ada beberapa batu".

Kepada penyidik kepolisian, tiga orang tersebut mengaku tidak mengetahui keberadaan batu di dalam mobil itu.

Ditanya tentang siapa yang meletakkan batu di dalam mobil itu, polisi masih menyelidiki keberadaan batu-batu tersebut.

Hak atas foto Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
Image caption Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah ada mobil ambulans milik Partai Gerindra yang digunakan untuk membawa sejumlah batu.

"Pelaku (tiga orang) belum memberi keterangan siapa yang memasang batu (di dalam mobil), yang membawa siapa, inisiatif siapa, perintah siapa. Itu masih kami dalami," katanya.

Mobil ambulans dengan logo Partai Gerindra itu saat ini diamankan di Polda Metro Jaya. "Dia (mobil) itu atas nama tertera PT Arsari Pratama yang beralamat di Jakarta Pusat," jelasnya.

Apa tanggapan pimpinan Partai Gerindra?

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon membantah ada mobil ambulans milik Partai Gerindra yang digunakan untuk membawa sejumlah batu.

Menurutnya, mobil ambulans Partai Gerindra berjumlah ratusan dan digunakan untuk membantu masyarakat.

"Saya kira tidak ada ya, ambulans Gerindra jumlahnya ratusan ada di mana-mana, dan tugasnya adalah selama ini melayani warga di daerah masing-masing," kata Fadli Zon kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/05).

Lebih lanjut Fadli mengatakan, Gerindra tidak mungkin menginstruksikan menggunakan mobil ambulans untuk mengangkut batu. "Jadi, kalau ada kayak gitu, itu tidak mungkin," katanya.

"Karena instruksi kita, semua dilakukan dengan cara yang damai, bahkan Pak Prabowo mengatakan 'kita janganlah melawan, kalau pun diprovokasi pihak manapun'," ujar Fadli.

Unjuk rasa mereda

Sebelumnya, unjuk rasa menentang hasil pemilihan presiden yang dimenangkan oleh Joko Widodo-Ma'ruf mulai mereda di beberapa titik pada Kamis (23/05) dini hari, terutama di Slipi, KS Tubun dan Abdul Muis.

Situasi di kawasan Slipi, Jakarta Barat, yang sejak Rabu (22/5) siang dipenuhi demonstran ricuh, mulai kondusif sekitar pukul dua dini hari. Massa membubarkan diri setelah diminta personel Marinir TNI Angkatan Laut.

Akses lalu lintas di kawasan jalan layang Slipi pun kembali dibuka beberapa saat setelahnya. Meski demikian, puing-puing sisa kerusuhan dan sampah masih berserakan di jalanan.

Hak atas foto Saptono/Antara
Image caption Marinir berusaha menenangkan pengunjuk rasa ketika terjadi aksi protes menolak keputusan KPU tentang hasil pemilihan presiden di Jakarta, Rabu malam (22/05).

Situasi serupa tampak di sekitar asrama Brimob di Petamburan, Jakarta Pusat. Kawasan tersebut sudah bisa dilewati kendaraan sejak sekitar pukul satu pagi.

Di sisi lain, hingga pukul 4.30 WIB, sekelompok orang masih bertahan di Jl. KH Wahid Hasyim, di belakang kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Mereka masih melempari aparat dengan batu dan kembang api.

Prabowo minta pendukungnya pulang

Sebelumnya, personel TNI AL sempat bernegosiasi agar massa yang sebelumnya berkumpul di depan gedung Bawaslu itu membubarkan diri. Sejumlah aparat, termasuk korps Brimob pun, membentuk barikade untuk menghalau dan memukul mundur massa.

Sementara itu calon presiden Prabowo Subianto, melalui pesan video, meminta para pendukungnya yang berdemonstrasi untuk pulang.

"Saya mohon saudara-saudara kembalilah ke tempat istirahat masing-masing, hindari tindakan di luar hukum. Kemudian selalu mengalah dan patuh pada ketentuan hukum.

Ini imbauan saya. Percayalah pada pemimpin-pemimpinmu. Kita sedang berjuang di jalur-jalur hukum dan konstitusi," kata Prabowo.

Hak atas foto Antara
Image caption Para pengunjuk rasa di depan Bawaslu, Jakarta.

Sebelumnya, sampai Rabu (22/05) malam massa terpusat di perempatan Sarinah, Jakarta dan ada "tembakan kembang api dan bom molotov dari arah massa", lapor wartawan BBC News Indonesia, Pijar Anugerah.

"Di tengah-tengah kerumunan massa ada mobil komando, Neno Warisman (pendukung Prabowo) dan Fadli Zon (wakil ketua umum Gerindra) sempat pidato. Neno sempat mengajak massa selawatan," lapor Pijar.

Melalui pengeras suara, aparat mengimbau pengunjuk rasa untuk tetap tenang dan meminta mereka untuk bubar dengan tertib. Negosiasi juga tengah berlangsung antara pendemo dan pihak keamanan.

Dari aksi damai sampai menjadi rusuh

Polisi menggunakan meriam air untuk mencoba membubarkan massa di depan gedung Bawaslu.

Kericuhan juga terjadi di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Polisi sempat mendorong massa ke kawasan permukiman.

Hak atas foto Antara
Image caption Polisi yang tengah bertugas berbuka puasa.

Kerusuhan yang terjadi Rabu dini hari bermula dari protes yang berlangsung damai di depan gedung Bawaslu, Jakarta pusat malam sebelumnya. Semakin malam, suasana berubah panas ketika mulai terjadi bentrokan antara pemrotes dengan pihak kepolisian.

Siapa pelaku kerusuhan?

Hak atas foto Antara/GALIH PRADIPTA
Image caption Kerusuhan 22 Mei

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamaan, Wiranto menyatakan sudah mengetahui dalang yang berada di balik kerusuhan namun tidak menyebut namanya.

Sejauh ini Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menyatakan telah menahan 257 tersangka kerusuhan.

Pihak kepolisian melalui Kadiv Humas Polda Metro Jaya Muhammad Iqbal menyebutkan bahwa sebagian besar pelaku protes yang berujung kerusuhan ini bukan berasal dari Jakarta.

Bahkan Iqbal menyebutkan adanya massa yang dibayar dan di-setting untuk terlibat dalam kerusuhan ini.

Kaplori jenderal Tito Karnavian juga menyebutkan ditemukannya amplop berisi uang, total Rp6 juta, yang diduga digunakan untuk membayar massa.

"Mereka mengaku ada yang membayar," kata Jenderal Tito Karnavian mengomentari temuan amplop tersebut.

Polisi juga menyebutkan adanya provokator yang masuk dari luar Jakarta.

Hak atas foto Antara/M Risyal Hidayat
Image caption Pengunjuk rasa di Slipi, Jakarta Barat.

Enam korban meninggal

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebutkan adanya enam orang korban jiwa dalam kerusuhan ini. Pihak kepolisian sudah mengkonfirmasi ada korban meninggal, tetapi masih belum memastikan jumlah dan penyebabnya.

Salah satu rumah sakit yang disebutkan menampung korban meninggal dan korban luka adalah Rumah Sakit Tarakan. BBC Indonesia telah mengkonfirmasi kepada pihak rumah sakit yang memastikan adanya dua korban meninggal di rumah sakit tersebut.

Rumah Sakit Tarakan juga menyebut adanya 133 korban luka yang sempat dan masih mereka tangani.

Sejauh ini pihak kepolisian menyatakan tidak menggunakan peluru tajam dalam penanganan unjuk rasa. Maka keberadaan peluru ini masih belum bisa dipastikan.

Pihak kepolisian menyatakan sedang melakukan investigasi terhadap penyebab jatuhnya korban jiwa ini.

Hoaks kepolisian dari China

Saat kerusuhan terjadi, beredar informasi simpang siur, termasuk hoaks yang mengabarkan adanya personel tentara dan kepolisian China yang menangani kerusuhan. Begitu pula dengan kabar bahwa pihak keamanan menyerbu masjid.

Aparat kepolisian melalui Kadiv Humas Polri Muhammad Iqbal telah mengklarifikasi kabar-kabar ini. Iqbal menyatakan bahwa aparat Brimob dan TNI tidak pernah menyerang masjid.

Iqbal juga menyatakan tidak ada personel kepolisian dan TNI yang merupakan warga China.

"Ada rumor itu pasukan dari negeri seberang, yang sipit-sipit. Tidak ada, murni itu personel Brimob warga negara Indonesia," kata Muhammad Iqbal.

Hak atas foto Antara/Indrianto Eko Suwarso
Image caption Penggunaan media sosial dan jaringan komunikasi personal WhatsApp dibatasi dalam mengirimkan foto dan video

Pembatasan media sosial, Instagram sampai WhatsApp

Sejak hari Rabu (22/05) media sosial dibatasi. Dalam kesempatan jumpa pers bersama di Kantor Menkopolhukam, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengumumkan adanya pembatasan fitur media sosial dan layanan pesan ponsel, seperti WhatsApp.

Pembatasan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Pembatasan dilakukan terhadap fitur pengiriman dan pengunduhan foto dan video di media sosial Facebook dan Instagram, serta jejaring komunikasi personal WhatsApp.

"Jadi kita akan lakukan perlambatan kalau kita mendownload foto dan audio," ujar Rudiantara.

Pembatasan ini dilakukan sementara, dan menurut Rudiantara, hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran foto yang viral.

Pembatasan ini mulai dilakukan pada hari Rabu, 22/05, siang.

Hak atas foto Antara/Akbar Nugroho Gumay
Image caption Presiden Joko Widodo memberi keterangan kepada wartawan di Istana Merdeka

Sikap Jokowi dan Prabowo

Bagaimana sikap kedua calon presiden terhadap kerusuhan yang terjadi itu?

Presiden Joko Widodo hari Rabu (22/05) menyatakan tidak akan memberi ruang kepada perusuh. Dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Jokowi menyatakan tidak akan memberi toleransi kepada siapapun yang akan mengganggu keamanan dan proses demokrasi.

"Kita tidak akan memberikan ruang untuk perusuh-perusuh yang akan merusak negara kita, merusak negara kesatuan Republik Indonesia, Tidak ada pilihan, nggak ada pilihan, TNI dan Polri akan menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku," papar Jokowi.

Sementara calon presiden Prabowo Subianto mengimbau semua pihak untuk menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan fisik dan verbal.

Prabowo juga mengimbau agar TNI-Polri tidak menyakiti rakyat. "Kami mohon jangan sekali-sekali sakiti hati rakyat, apalagi memukul dan menembak rakyat sendiri," kata Prabowo dalam jumpa pers di kediamannya di Kertanegara.

Prabowo juga meminta para pendukungnya agar menghindari kekerasan fisik. "bagi yang masih mau mendengarkan saya, hindari kekerasan fisik. Bersikaplah sopan dan hormati pejabat penegak hukum."

Berita terkait