Demo 22 Mei: Satu panser di Glodok dan cerita pemilik toko 'Pengamanannya lebih bagus' dibanding 1998

Hukum Hak atas foto AFP/ROMEO GACAD
Image caption Dalam survei tahun 2016, kelompok Tionghoa tidak disebut sebagai kelompok yang paling tidak disukai masyarakat Indonesia.

Nyaris sebagian besar pertokoan di Glodok dan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, tutup saat kericuhan hasil pilpres pecah di sekitar kantor Bawaslu dan daerah Slipi, 22 Mei lalu.

Aktivitas kawasan yang penghuninya mayoritas komunitas Tionghoa itu pulih sehari setelahnya, meski muncul bayang-bayang Tragedi 1998, yang juga terjadi di bulan Mei di Jakarta.

Hampir tidak terlihat toko yang tutup di Glodok dan Pinangsia, Kamis (23/05) siang. Penjual material bangunan, kembang, hingga pernak-pernik khas Tionghoa, menggelar lapak mereka. Pegawai toko terlihat mondar-mandir, angkut-bongkar barang berlangsung cepat.

Aktivitas kuliner di kawasan yang mendapat julukan pecinan itu juga hiruk-pikuk. Asap mengepul dari kompor para penjual bakmi, bak kut teh, bahkan ketoprak.

Sekilas Pinangsia tak tampak berbeda dengan hari-hari lainnya. Lampion merah bertuliskan aksara Mandarin bergelayut di tengah gang. Orang-orang berhimpitan berjalan di permukiman padat ini.

Namun pemandangan tersebut tidak terlihat sehari sebelumnya, saat massa penolak hasil pilpres bentrok dengan polisi.

Dalam unjuk rasa yang diwarnai lemparan batu, gas air mata, hingga letusan peluru karet itu, muncul seruan provokatif bercorak hoax, yang telah dibantah pemerintah: 'Indonesia dijajah China dan polisi yang merekrut warga China'.

Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA
Image caption Aktivitas di kawasan Glodok kembali normal, meski sempat sunyi saat keributan hasil pilpres terjadi di depan Bawaslu, Rabu (22/05).

Sentimen negatif tentang hoaks soal China itu mau tidak mau mempengaruhi Glodok dan Pinangsia.

"Saya percaya pemerintah"

Leni (35 tahun) misalnya, tak membuka kios cakram padat lagu-lagu Mandarinnya itu. Ia sebenarnya tidak merisaukan kekisruhan pilpres. Penghentian sementara aktivitas jual-beli diputuskan pengurus plaza tempatnya menyewa kios.

Leni mengatakan ia tak punya pengalaman langsung dengan Tragedi Mei 1998 di Jakarta. Saat itu ia belum merantau dari kampungnya di Kalimantan Barat.

"Saya santai-santai saja, tidak khawatir. Saya juga tidak perhatikan media sosial, hanya nonton berita di televisi saja."

"Tapi kemarin keluarga saya kurangi aktivitas keluar rumah, kurangi pergi jauh, takutnya ada kejadian mendadak," tuturnya.

Hak atas foto BBC NEWS INDONESIA
Image caption Yong Payong adalah satu dari sedikit pemilik toko di kawasan Glodok yang tetap berjualan saat terjadi unjuk rasa 22 Mei.

Kisah berbeda dituturkan Yong Payong. Kios obat tradisional miliknya di Jalan Pancoran, Pinangsia, adalah satu dari beberapa toko yang tetap buka, Rabu lalu.

Keputusan itu diambilnya meski menyaksikan langsung kerusuhan, penjarahan, dan pemerkosaan di Glodok, Mei 1998.

"Pasien mau datang ambil obat, masa saya tidak buka. Saya percaya pemerintah. Saya sudah 77 tahun, tidak memikirkan hal-hal seperti itu lagi," kata Yong.

"Keadaannya beda jauh, pengamanannya sekarang lebih bagus, dulu tidak karuan. Dulu mal disikat, tidak separah itu sekarang. Anak saya juga tetap berangkat kerja ke kantor," ujarnya.

Merujuk catatan Tim Gabungan Pencari Fakta, terjadi pemerkosaan hingga pembakaran ruang privat yang menyebabkan kematian di sekitar Glodok.

Beragam upaya mencegah keributan di Bawaslu melebar ke Glodok memang terlihat mata.

Satu panser Anoa milik TNI ditempatkan di depan ITC Glodok. Di pertokoan itu juga terlihat sepuluh motor trail tentara dan beberapa truk pengangkut pasukan Kodam Jaya.

Hak atas foto ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
Image caption Sebuah panser milik TNI disiagakan di ITC Glodok.

ITC Glodok tidak beraktivitas penuh, Rabu (22/05) lalu. Kini pertokoan itu riuh-rendah. Warga sekitar tampak berswafoto di depan panser serba hijau tersebut.

Bagaimanapun, berita bohong yang memicu sentimen negatif tentang China mengingatkan Awi, pemilik toko roti di Jalan Sabang, Jakarta Pusat, pada kejadian Mei 1998.

Namun Awi menganggap peristiwa Mei sulit berulang. Rabu lalu ia tetap membuka toko rotinya, meski setengah hari, yang berjarak sekitar 500 kilometer dari pusat bentrokan di Bawaslu.

"Aparat keamanan banyak, tidak akan ada apa-apa," ujarnya tentang potensi keributan yang melebar hingga Jalan Sabang.

"Tahun 1998 kerusuhannya lebih besar, situasi tidak memungkinkan walau saat itu saya sempat buka toko. Dibandingkan tahun 1998, ini tidak ada apa-apanya," kata Awi.

Hak atas foto AFP
Image caption Penjarahan terjadi di sejumlah tempat di Jakarta pada pertengahan Mei 1998.

'Umpatan China dan pergulatan psikologis'

Isu anti-China yang terus bergulir, termasuk dalam pilpres 2019, dinilai sebagai konsekuensi perlakuan setengah hati negara pada komunitas Tionghoa. Isu ini disebut kerap dimanfaatkan sebagai modal mempertahankan atau merongrong kekuasaan pemerintahan.

Akademisi yang mendalami isu Tionghoa, Roy Thaniago, menilai sentimen anti-China terjadi karena pemerintah tidak merehabilitasi komunitas Tionghoa dari diskriminasi sepanjang Orde Baru.

Roy, yang menulis tesis berjudul Disciplining Tionghoa : Critical Discourse Analysis of News Media During Indonesia's New Order di Lund University, Swedia, menganggap isu rasial seperti ini tidak memiliki kaitan sama sekali dengan sengketa pilpres.

"Saya tidak melihat gestur serius negara untuk menanggulangi persoalan yang substantif. Pejabat negara hanya datang pada perayaan Imlek atau ke acara di klenteng.

"Tidak ada pernyataan yang lebih penting lebih dari itu. Sikap negara tidak pernah benar-benar berubah," ujarnya.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting, selama 2001-2016 komunitas Tionghoa bukanlah kelompok yang paling tidak disukai penduduk Indonesia.

Yang paling tidak disukai, dalam kajian itu, adalah ISIS (25,5%), LGBT (16,6%), dan komunis (11,8). Tionghoa ada di peringkat bawah dengan 0,8%.

Meski begitu, Roy menilai survei itu tidak sepenuhnya mengungkap kebencian rasial.

"Khawatir kejadian 1998 terjadi lagi"

"Bukan berarti sentimen negatif pada Tionghoa tidak ada sama sekali, tapi norma sosial yang sekarang berlaku tidak mengizinkan kita melakukan itu."

"Masih ada kebencian terhadap Tionghoa yang mengendap di kepala warga kita tapi tidak bisa diutarakan," tuturnya.

Hak atas foto ARSIP BBC
Image caption Kerusuhan Jakarta 13-15 Mei, kekerasan seksual terhadap perempuan etnis Cina terjadi dalam periode tersebut.

Begitu pula, kata Roy, sejumlah optimisme tentang kondisi keamanan sepanjang sengketa pemilu tidak mencerminkan perasaan komunitas Tionghoa secara umum.

Roy mengatakan ada faktor psikologis untuk hanya berkata hal-hal positif serta kecenderungan politis tertentu yang mendorong kepercayaan diri komunitas Tionghoa di tengah kekisruhan.

"Saya misalnya, resah pada kejadian kemarin, apalagi pada video-video rasial," ujarnya.

"Tahun 1998 saya berumur 12 tahun dan tidak cukup memahami yang saat itu terjadi. Tapi saya khawatir kejadian itu bisa berulang lagi."

"Saya selalu minta keluarga untuk waspada dan persiapkan barang-barang, jika kami harus kabur. Saya merasa tidak aman dan belum sepenuhnya diterima masyarakat," kata Roy.

Hak atas foto Anadolu Agency
Image caption Berita palsu anti-China menimbulkan kekhawatiran di sebagian kalangan Tionghoa di Jakarta.

Setidaknya enam orang meninggal dalam bentrok antara massa penolak hasil pilpres dengan aparat keamanan di Jakarta, 22 Mei lalu. Di sisi lain, kepolisian menangkap sekitar 250 orang yang diduga provokator keributan.

Merujuk peringatan dini isu keamanan sejumlah kedutaan besar, keributan pasca penetapan hasil pemilu masih berpotensi terjadi.

Hingga berita ini diturunkan Kamis malam (23/05), kepolisian masih menutup sejumlah jalan protokol di Jakarta. Kendaraan taktis, panser, hingga personel keamanan juga masih disiagakan di sejumlah objek vital, termasuk di Glodok dan sekitarnya.

Topik terkait

Berita terkait