Amien Rais diperiksa polisi terkait kasus makar Eggi Sudjana: 'People Power itu konstitusional, asal tak hancurkan negara'

Amien Rais Hak atas foto Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Image caption Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais (tengah) menunjukkan buku berjudul Jokowi People Power saat jeda pemeriksaan untuk Salat Jumat di Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (24/05).

Politikus senior PAN, Amien Rais, yang dimintai keterangan sebagai saksi kasus dugaan makar dengan tersangka Eggi Sudjana, menolak anggapan bahwa istilah people power yang dimunculkan belakangan identik dengan menggulingkan pemerintahan.

"People power itu enteng-entengan. Jadi bukan seperti people power yang mau mengganti rezim atau menjatuhkan presiden. Sama sekali bukan," kata Amien Rais usai dimintai keterangan sekitar 10 jam di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (24/05) malam.

Di hadapan wartawan, Amien mengaku dicecar 37 pertanyaan tentang tuduhan makar terkait seruan people power yang dilontarkan tersangka Eggi Sudjana.

Kepada tim penyidik yang memeriksanya, Amien mengaku bahwa dirinya mengutarakan bahwa gerakan people power tidak melanggar undang-undang terkait selama tidak merugikan negara dan tidak menimbulkan kehancuran.

"Saya mengatakan people power itu konstitusional, demokratis dan dijamin oleh HAM," katanya.

"Gerakan rakyat yang sampai menimbulkan kerugian, bentrok, atau kehancuran bagi negara itu, jelas enggak boleh," tambah Amien.

Mengapa Amien Rais bawa buku 'Jokowi People Power'?

Di sela-sela pemeriksaan, yaitu saat jeda salat Jumat, Amien Rais - yang mengenakan kemeja biru pucat dan kopiah hitam - memamerkan buku berjudul Jokowi People Power.

"Saya membawa buku people power," ujar Amien di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (24/05).

Hak atas foto Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Image caption "Saya mengatakan people power itu konstitusional, demokratis dan dijamin oleh HAM," kata Amien Rais.

Dimintai konfirmasi tentang tindakan kliennya membawa buku tersebut , kuasa hukum Amien Rais, Ahmad Yani mengatakan, kliennya membawa buku itu dengan tujuan dijadikan referensi dalam menjelaskan arti people power.

"Buku Jokowi People Power itu, kan, ditunjukkan (untuk menjelaskan) apa yang dimaksud dengan people power," ungkap Ahmad Yani.

Mengapa Amien Rais diperiksa sebagai saksi?

Pada Jumat kemarin, Amien tiba di Polda Metro Jaya sekitar pukul 10.17 WIB, tetapi dia menolak menanggapi pertanyaan dan menjanjikan memberikan keterangan usai pemeriksaan berakhir.

"(Kondisi saya) sangat sehat," katanya saat ditanya wartawan sebelum memasuki ruangan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya.

Sebelumnya, Amien tidak memenuhi panggilan pertama pada Senin (20/05) lalu karena alasan kesibukan. Hari Jumat ini merupakan panggilan kedua terhadap dirinya.

Hak atas foto ANTARA FOTO/JAYA KUSUMA
Image caption Polisi menetapkan Eggi Sudjana (foto atas)sebagai tersangka setelah sebelumnya mereka menetapkan pendukung Prabowo lainnya, Bachtiar Nasir, sebagai tersangka dugaan pencucian uang.

Namun di hari yang sama, malam harinya, Amien dan Prabowo Subianto datang ke Polda Metro Jaya untuk menjenguk Eggi Sudjana dan Lieus Sungkharisma di ruangan tahanan Polda - meski ditolak karena tidak pada jam kunjungan.

Selain memeriksa Amien Rais, Polda Metro Jaya juga telah memeriksa antara lain dua orang pendukung Prabowo lainnya yaitu Kivlan Zen dan Permadi.

Namun, dari empat orang tersebut, baru Kivlan Zen dan Permadi saja yang memenuhi panggilan penyidik.

Keterangan polisi sebelumnya menyebutkan bahwa Amien Rais diperiksa sebagai saksi karena dianggap mengetahui seruan people power yang dilontarkan Eggi di depan massa di kediaman Prabowo Subianto pada 17 April lalu.

Dalam berbagai kesempatan, Eggi menyebut status tersangka terhadap dirinya sebagai "kesalahan konstruksi hukum".

Hak atas foto GRANDYOS ZAFNA/DETIKCOM
Image caption Setelah ditangkap oleh aparat kepolisian pada Senin (20/05), pendukung capres Prabowo Subianto, Lieus Sungkharisma, telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan makar.

"Yang kita persoalkan adalah capres, bukan presiden. Jadi kalau kita (melakukan) people power dituduh makar, itu salah alamat. Karena kita tidak mempersoalkan pemerintahan yang sah. Tidak. Kita hanya mempersoalkan capres yang curang. Itu yang harus digarisbawahi," kata Eggi pada 9 Mei lalu.

Polisi menetapkan Eggi sebagai tersangka setelah sebelumnya mereka menetapkan pendukung Prabowo lainnya, Bachtiar Nasir, sebagai tersangka dugaan pencucian uang.

Belakangan pendukung Prabowo lainnya, Lieus Sungkharisma juga ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan makar, awal pekan ini.

Kubu Prabowo Subianto berulangkali menuduh langkah polisi tersebut sebagai tindakan kriminalisasi terhadap orang-orang yang memiliki pandangan politik berbeda terhadap pemerintah terkait Pemilu 2019.

Namun polisi membantah tuduhan bahwa pihaknya melakukan kriminalisasi terkait penetapan Eggy Sudjana sebagai tersangka.

Hak atas foto KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG
Image caption Bachtiar Nasir, penggerak Ijtima Ulama, menganggap dirinya menjadi korban "politisasi" terkait status tersangka pencucian uang yang ditimpakan kepolisian terhadap dirinya.

"Bukan (karena) mengkritisi pemerintah. Namanya kriminalisasi tidak ada masalah lalu dibuat masalah. Dan, (kasus Eggi) ini ada laporan dan ada tindak lanjutnya, kemudian kita periksa," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada BBC News Indonesia, Kamis (09/05).

Sebelumnya, Eggi Sudjana dilaporkan oleh caleg PDIP Dewi Ambarawati atas tuduhan melakukan makar terkait seruannya dilakukan people power yang disebarkan melalui video yang dianggap sebagai ajaran melakukan makar.

Istilah people power yang digaungkan Eggi Sudjana belakangan diubah menjadi kedaulatan rakyat - yang belakangan mengkristal menjadi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GNKR) yang diketuai Djumhur Hidayat. Kelompok ini yang ikut memotori unjuk rasa di depan Bawaslu pada 21 dan 22 Mei lalu.

Topik terkait

Berita terkait