Demo 22 Mei: Keluarga korban ungkap luka fatal kerabat mereka dan Komnas HAM desak polisi usut dugaan penggunaan peluru tajam

RSUD Tarakan Hak atas foto ANTARA FOTO/Ari
Image caption Seorang warga mengamati daftar nama korban luka kericuhan di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/05)

Komnas HAM meminta kepolisian mengusut dugaan penggunaan peluru tajam dalam pengamanan kericuhan di Jakarta 22 Maret silam yang menyebabkan sedikitnya tujuh orang meninggal dan sekitar 700 luka-luka.

Sementara keluarga korban mengungkap luka-luka fatal yang dialami keluarga mereka.

Keluarga Farhan Syafero, di antaranya, yang masih berkabung tiga hari sejak kepergiannya. Pria berusia 31 tahun itu meregang nyawa menjadi korban kerusuhan 22 Mei.

Ayah Farhan, Syafri Alamsyah mengungkapkan ketika menjemput jenasah putranya di RSCM, di leher Farhan ada lubang berukuran kira-kira 1 cm.

"Itu bolong, sampai belakang. Tembus, di sekitar tenggorokan tembus ke punggung belakang," ujar Syafri kepada BBC News Indonesia, Jumat (24/05).

Lantaran tidak diotopsi, jenasah Farhan hanya diberi keterangan meninggal secara tidak wajar oleh pihak rumah sakit. Dia menuturkan alasan jenasah putranya tidak diotopsi.

"Karena kemarin itu saya ngeliat anak saya ditelantarkan gitu aja di ruang jenasah, akhirnya kita bawa pulang langsung karena kasihan kan sudah dari jam 02:00 pagi sampai saya datang jam 07:00," kata dia.

Pria berusia 58 tahun ini mendesak kepolisian mengungkap penyebab kematian putranya yang dia duga karena peluru tajam.

"Kalau saya melihat, dari diameternya nggak mungkin peluru karet, karena tembus sediameter itu," jelas Syafri.

Untuk itu, dia bersedia jenasah anaknya diotopsi.

"Kalau memang yang berkepentingan dan itu memang harus dilakukan, kami siap-siap aja," cetusnya.

Sebelum meninggal, Farhan sempat dibawa ke RS Budi Kemuliaan.

Direktur Pelayanan Medis RS Budi Kemuliaan, dr Muhammad Rifki, mengungkapkan ketika dibawa ke UGD Farhan dalam kondisi tidak sadar, karena detak jantungnya hampir tidak terdengar, petugas medis langsung melakukan tindakan resusitasi jantung paru (RJP).

"Ternyata setelah beberapa lama tidak berhasil, akhirnya dinyatakan meninggal," jelas Rifki, seraya menambahkan jenasah kemudian dirujuk ke RSCM.

Hak atas foto ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
Image caption Pengunjukrasa di kawasan Tanah Abang, Rabu (22/05) pagi, berusaha menolong rekannya yang dilaporkan terluka akibat kericuhan.

Peluru tajam atau bisa juga peluru karet

Terkait penyebab kematian, Rifki mengungkapkan "sangat dimungkinkan karena luka tembus dari leher ke belakang, di bawah tulang punggung."

Namun, dia tidak dapat memastikan luka tembus itu akibat terjangan peluru tajam atau peluru karet.

"Sulit mengatakan itu, kecuali kita otopsi. Tapi kalau lihat dari lukanya, patut diduga dari senjata tajam, apakah itu peluru tajam atau apa," jelas Rifki.

"Tapi kalau peluru karet, walaupun agak sulit, bisa juga sih seperti itu kalau terlalu dekat," imbuhnya kemudian.

Selain Farhan, Widianto Rizky Ramadan, pemuda berusia 17 tahun juga meninggal dalam kerusuhan 22 Mei silam.

Hak atas foto NTARA FOTO/Ari
Image caption Sejumlah relawan membawa korban kericuhan Aksi 22 Mei di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (22/05)

Liani, bibi pelajar sekolah menengah atas yang tinggal di Slipi, Jakarta Barat itu mengatakan pada saat kericuhan meletus, Rizky justru pergi ke lokasi kejadian untuk membantu korban terluka.

"Dia kembali lagi untuk nolongin orang yang terluka, kaya sebelumnya kan ada korban tertembak, jadi dia nolongin," ujar Liani kepada BBC News Indonesia, Jumat (24/05).

Namun, Rizky justru menjadi korban. Dari lokasi kericuhan di Petamburan, dia langsung dibawa ke RSUD Tarakan di Jakarta Pusat.

Liani mengaku, pihak keluarga pun mengaku ikhlas dengen kepergian Rizky.

"Kita ikhlasin saja, sudah takdirnya lah, kan dia melakukan itu untuk jihad," ujar Liani.

Juru Bicara RSUD Tarakan, drg, Reggy Sobari mengatakan, selain Rizky, Adam Nooryan juga menjadi korban meninggal dalam kerusuhan tersebut. Pemuda berusia 19 tahun itu berasal dari Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat.

Reggy mengatakan pada tubuh kedua korban ditemukan luka berbentuk bulat, satu di dada, satu di leher.

Namun, untuk memastikan penyebab kematian kedua korban, perlu dilakukan otopsi.

Kendati begitu, pihak keluarga memutuskan untuk langsung melaksanakan pemakaman Rizky pada hari yang sama, Rabu (22/05) di TPU Karet Bivak, tanpa proses otopsi.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Kerusuhan 22 Mei: Jokowi dan Prabowo serukan aksi damai

Pasca kejadian, Komnas HAM mengunjungi beberapa rumah sakit yang menjadi rujukan korban kerusuhan, termasuk tempat dilakukannya otopsi di RS Polri Kramat Jati. Menurut, Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik, ada empat korban meninggal yang diotopsi di rumah sakit.

Berdasar temuan di lapangan, Damanik mengungkapkan beberapa orang diduga menjadi korban peluru tajam, merujuk pada luka mereka yang parah.

"Karena kami menemui korban-korban yang lain, bahkan yang ditembak dekat saja, peluru karet hanya [membuat] luka. Ada korban ditembak dalam jarak dua meter, dia hanya luka di dada," ujar Damanik.

"Jadi yang kami datangi kemarin di RS Polri Kramat Jati keterangan yang diberikan memang itu sebab peluru tajam," imbuhnya.

Dalam kunjungannya di beberapa rumah sakit, Komnas HAM menemukan adanya korban yang diduga terkena luka tembak di lengannya.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kerumunan orang melakukan aksi pembakaran di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Selasa (21/5) dini hari WIB.

"Itu tangannya kena peluru tajam, dia tidak meninggal, cuma pelurunya patah karena kena tembak," kata Damanik.

Remaja yang mengaku berusia 19 tahun itu, ujar Damanik, dia tidak mengetahui datangnya peluru.

"Tiba-tiba tangannya terkulai. Jadi dugaan adanya sniper, kelompok yang tidak jelas itu, kemungkinan adanya benar juga. Walaupun belum bisa dipastikan," duganya.

Sementara itu, dua korban meninggal di Tarakan tidak dilakukan otopsi karena keluarganya tak memberi izin.

"Mestinya kan ada dua pilihan ya. pertama, karena ini ada unsur pidananya, Polri yang memproses kemudian memerintahkan rumah sakit untuk otopsi, atau [otopsi] atas permintaan keluarga," jelas Damanik.

Belum sempat diproses, keluarganya mendesak untuk dibawa pulang.

Hak atas foto Nurphoto
Image caption Seorang pengunjukrasa memperlihatkan peluru yang mereka temukan dalam aksi 22 Mei

Sama halnya korban meninggal di RS Budi Kemuliaan, Farhan Syafero, yang jenazahnya dibawa pulang oleh keluarga setelah dirujuk ke RSCM.

"Belum sempat diotopsi, mereka berkeras di bawa pulang," kata dia.

Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Damanik menegaskan kepolisian harus mengungkap penyebab kematian dan jenis peluru yang bersarang di tubuh para korban.

"Itu jenis peluru apa, dari mana, tentu harus ada penyidikan lebih lanjut. Kita berharap tim yang dibentuk oleh Kapolri yang harus melakukan penyidikan, senjata apa yang digunakan dan siapa yang melakukan" kata dia

Hak atas foto Antara/SIGID KURNIAWAN
Image caption Sejumlah mobil ikut terbakar ketika Asrama Brimob dilalap api di Jalan KS Tubun, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Seperti diberitakan, untuk mengetahui asal-usul peluru tajam yang menewaskan para korban, Polri membentuk tim investigasi khusus. Tim investigasi ini juga dibentuk untuk menyelidiki penyebab kematian sejumlah peserta demonstrasi.

Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan hingga kini proses otopsi masih berlangsung, sehingga penyebab kematian para korban belum bisa diungkapkan.

"Nanti tim investigasi yang dipimpin oleh inspektorat pengawasan umum (irwasum) dan melibatkan Komnas HAM dan lembaga imparsial lainnya akan melakukan investigasi menyangkut korban yang meninggal maupun korban yang luka, termasuk perisitwa kerusuhan tanggal 21 dan 22 Mei," ujar Dedi.

Dedi mengungkapkan, berdasar data dari divisi humas Mabes Polri per Kamis (24/05) pukul 15.00 WIB, korban meninggal akibat kerusuhan 22 Mei berjumlah tujuh orang.

Topik terkait

Berita terkait