KPK: Jaksa sebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terima uang Rp70 juta dari terdakwa kasus korupsi

menag Hak atas foto Antara/PUSPA PERWITASARI
Image caption Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, disebut menerima uang sebanyak Rp70 juta untuk mengangkat seseorang menjadi pejabat Kementerian Agama, meskipun orang itu tidak memenuhi kualifikasi.

Hal itu diungkapkan jaksa penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang terdakwa Haris Hasanudin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (29/5).

Haris merupakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur (Kanwil Kemenag Jatim) yang didakwa memberikan suap kepada Lukman dan mantan Ketua PPP, Romahurmuziy alias Romi.

Sebagaimana dipaparkan jaksa KPK dalam dokumen persidangan yang diperoleh BBC News Indonesia, kasus ini bermula ketika Haris ingin menduduki jabatan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

Niatan Haris terkendala oleh persyaratan bahwa pemegang jabatan itu tidak boleh dikenai sanksi disiplin dalam lima tahun terakhir. Haris pernah disanksi disiplin pada tahun 2016.

Agar dapat menembus seleksi jabatan, menurut jaksa KPK, Haris bermaksud meminta bantuan langsung kepada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

"Namun karena terdakwa sulit menemuinya maka oleh Musyaffa Noer atau Ketua DPP PPP Jawa Timur disarankan menemui Muchammad Romahurmuziy sebagai Ketua Umum PPP mengingat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin adalah kader PPP yang mempunyai kedekatan khusus dengan Muchammad Romahurmuziy," ucap jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan, Rabu (29/5).

Hak atas foto Antara/RENO ESNIR
Image caption Tersangka kasus dugaan suap terkait seleksi pengisian jabatan di Kementerian Agama, Romahurmuziy berjalan memasuki gedung KPK.

Setelah Haris menemui Romi pada 17 dan 26 Desember 2018, terbit nota dinas pada 27 Desember yang menyatakan Haris tidak memenuhi syarat administrasi sehingga dinyatakan tidak lolos seleksi tahap administrasi.

Namun, menurut jaksa, Romi memerintahkan Lukman Hakim Saifuddin untuk memasukkan Haris ke dalam daftar seleksi pejabat yang terwujud pada 31 Desember 2018.

Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sempat menyampaikan kepada Lukman mengenai adanya kejanggalan yaitu nama Haris Hasanudin muncul dalam daftar seleksi pejabat. Padahal yang bersangkutan pernah mendapatkan hukuman disiplin. Sorotan KASN ini tidak dipedulikan Romi.

"Selanjutnya Muchammad Romahurmuziy menyampaikan kepada Lukman Hakim Saifuddin agar tetap mengangkat terdakwa sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur dengan segala risiko yang ada," kata jaksa.

KASN tetap meminta Lukman membatalkan pencalonan Haris. Lukman sempat berkonsultasi dengan Janedjri M Gaffar selaku Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum akan hal itu, tetapi pada akhirnya tetap memilih Haris.

"Tanggal 1 Maret 2019 di Hotel Mercure Surabaya, terdakwa melakukan pertemuan dengan Lukman Hakim Saifuddin. Dalam pertemuan tersebut Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa ia 'pasang badan' untuk tetap mengangkat terdakwa sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur," kata jaksa.

"Oleh karena itu Terdakwa memberikan uang kepada Lukman Hakim Saifuddin sejumlah Rp50.000.000," lanjut jaksa.

Hak atas foto Antara/Restu
Image caption Terdakwa kasus suap jual beli jabatan di Kementerian Agama Haris Hasanuddin (kanan) menjalani sidang dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (29/5). Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur nonaktif itu didakwa memberikan suap kepada mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebesar Rp325 juta untuk mendapatkan jabatan atau posisi sebagai Kakanwil Kemenag Jatim.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin disebut kembali menerima uang pada 9 Maret 2019 di Tebu Ireng, Jombang. Kali ini sebesar Rp20 juta.

Secara keseluruhan, jaksa mengatakan Haris telah mengeluarkan uang sebesar Rp325 juta agar bisa terpilih sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

Dari jumlah itu, Menteri Agama mendapat Rp70 juta dalam dua kali pemberian, sedangkan Romi menerima Rp255 juta—juga dalam dua kali pemberian.

Romi disebut menerima uang tambahan sebesar Rp91,4 juta dari mantan pejabat Kemenag lainnya, yaitu M Muafaq Wirahadi yang diadili dalam sidang terpisah di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Namun, dari jumlah itu, Rp50 juta dialirkan ke Romi sedangkan sisanya disebut jaksa digelontorkan untuk sepupu Rommy yang juga menjadi calon anggota legislatif (caleg) DPRD Gresik.

Romahurmuziy ditangkap melalui operasi tangkap tangan di sebuah hotel di Surabaya, Jumat (15/3). KPK telah menetapkan statusnya sebagai tersangka.

Topik terkait

Berita terkait