Mudik lebaran 2019: Tiket pesawat mahal, pemudik rela berkendara berjam-jam atau naik kapal laut

mudik Hak atas foto Antara

Sejumlah pemudik mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat pada masa mudik lebaran 2019 dan memutuskan untuk menggunakan jalur darat dan laut, meski harus menghabiskan waktu yang lebih lama.

Salah seorang pemudik, Adriana Megawati, seorang warga Bekasi, Jawa Barat, mengatakan dia mengurungkan niatnya untuk mudik menggunakan pesawat ke Solo, Jawa Tengah, seperti yang dilakukannya tahun lalu.

Pasalnya, kata Adriana, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Solo mencapai Rp 2 juta sekali jalan, meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Jika dia dan suaminya mudik menggunakan pesawat, kata Adriana, dia harus merogoh kocek sebesar Rp 8 juta.

Adriana mengatakan, dia memutuskan untuk berkendara dengan mobil pribadi pada tanggal 4 Juni demi merayakan Idul Fitri di kampung halaman.

"Biaya naik mobil itu lebih murah dibandingkan naik pesawat. Bensin paling sekitar Rp 500.000-an sekali jalan, bayar tol sekitar Rp 500.000," ujar Adriana.

Dengan melewati Tol Trans Jawa, Adriana mengatakan dia berharap dapat tiba di Solo dalam waktu delapan jam.

Pemudik lain beralih ke angkutan laut.

Hak atas foto Antara
Image caption Sejumlah pemudik beralih ke jalur darat dan laut karena harga tiket pesawat yang mahal.

Rahmatan Idul, yang bekerja Gorontalo, terpaksa mudik menggunakan kapal laut menuju Raha, Sulawesi Tenggara.

Dia menyebut itu adalah kali pertama dia mudik menggunakan kapal laut, karena biasanya dia langsung terbang dari Gorontalo ke Kendari.

Harga tiket pesawat yang mencapai lebih dari Rp 2 juta sekali jalan, kata Rahmatan, sangat memberatkan mengingat tahun lalu harganya hanya berkisar Rp 800.000.

Maka itu, ia memutuskan untuk naik kapal yang harganya jauh lebih murah yakni sekitar Rp 300.000.

Hak atas foto Antara
Image caption Pemudik yang menggunakan kapal laut diestimasi meningkat dibanding tahun lalu karena harga tiket pesawat yang mahal.

Rahmatan yang pergi tanggal 27 Mei, harus menghabiskan waktu sekitar dua hari di kapal, jauh lebih lama dibandingkan perjalanan dengan pesawat yang hanya memakan waktu sekitar dua jam.

Dari segi kenyamanan, kata Rahmatan, kapal laut pun jauh di bawah pesawat.

"Perjalananan itu ombaknya lumayan kencang jadi agak goyang. Jadi rasanya nggak nyaman," katanya.

Busyra Oryza, Manager Komunikasi platform penjualan tiket daring, Pegipegi, mengakui ada peningkatan harga tiket pesawat dibandingkan dengan tahun lalu.

"(Kenaikan) rata-rata berkisar dari satu setengah hingga dua kali lipat untuk periode mudik," jata Busyra.

Hak atas foto Antara
Image caption Calon penumpang beristirahat di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara saat menunggu jadwal keberangkatan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (30/5).

Contohnya, kata Busyra, harga tiket pesawat Jakarta - Surabaya saat ini adalah sekitar Rp 1.150.000. Tahun lalu, harganya hanya sekitar Rp 700.000.

Kenaikan harga yang mencolok, tambahnya, juga terlihat di rute penerbangan lain seperti Jakarta-Makassar dan Jakarta-Medan, yang lebih mahal sekitar Rp 800.000 hingga Rp 900.000, dibanding periode yang sama tahun lalu.

Untuk menyikapi hal itu, Busyra mengatakan, perusahaannya mengadakan beragam promo untuk menarik konsumen.

Heboh harga tiket pesawat 21 juta

Sebelumnya, polemik terkait harga tiket pesawat memanas akibat beredarnya informasi tiket pesawat Garuda rute Bandung-Medan yang menyentuh Rp 21 juta di platform penjualan tiket online, Traveloka.

Kementerian Perhubungan merespons dan mengatakan berdasarkan pemeriksaan yang mereka lakukan, hal itu terjadi karena sistem Traveloka.

Hak atas foto Kompas.com
Image caption Harga tiket pesawat yang mencapai Rp 21 juta meimbulkan polemik masyarakat.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana Pramesti menjelaskan karena Garuda tidak memiliki rute langsung Bandung ke Medan, sistem Traveloka mengatur titik transit untuk penerbangan itu.

Pengaturan itu mencampur penerbangan kelas ekonomi dan bisnis, yang harganya lebih mahal dan tidak diatur oleh regulasi Tarif Batas Atas (TBA) pemerintah.

"Saya mengeluarkan surat ke pihak maskapai agar berkoordinasi dengan travel agent-nya supaya memberikan informasi yang sejelas-jelasnya (kepada penumpang)," kata Polana.

Sufintri Rahayu, Public Relations Director Traveloka, mengimbau masyarakat untuk jeli meneliti pembelian sesuai dengan kebutuhan dan preferensi.

"Misalnya, jika ingin mencari kelas ekonomi, maka pada laman awal pencarian dapat memilih kelas ekonomi," katanya.

'Jangan sebut tiket mahal'

Polana mengatakan harga tiket pesawat yang ada saat ini tidak ada yang melanggar pengaturan TBA yang ditetapkan pemerintah.

Jika masyarakat melihat ada harga yang melebihi TBA, kata Polana, mereka dipersilahkan untuk melaporkan ke kementerian.

Sementara, Menteri Perhubungan Budi Karya menyebut harga tiket yang ada ditentukan berdasarkan mekanisme pasar yang ada.

"Pesawat itu jangan dikatakan mahal ya...Kementerian Perhubungan itu diamanati untuk mengatur batas atas dan batas bawah. Batas atas mengatur persaingan agar masyarakat tidak kena harga mahal. Batas bawah mengatur persaingan korporasi," kata Budi.

Hak atas foto Antara
Image caption Menteri Perhubungan Budi Karya menyebut harga tiket yang ada ditentukan berdasarkan mekanisme pasar yang ada.

Ia menambahkan ia telah meminta maskapai untuk memberikan harga yang lebih kompetitif untuk penumpang.

Pengamat Penerbangan Indonesia Aviation Center, Arista Atmadjati, turut menampik harga tiket terlalu mahal.

Dia menyebut, sejak tahun 2001 hingga 2018, masyarakat memang menikmati tarif pesawat yang rendah, bahkan beberapa lebih murah dari kereta.

Akibatnya, beberapa maskapai seperti Adam air, Mandala Air, hingga Merpati mengalami kebangkrutan.

Barulah di tahun 2019 ini, kata Arista, maskapai-maskapai yang ada kompak menggunakan tarif batas atas.

Untuk masa mudik ini, yang termasuk 'peak season' kata Arista, harga yang lebih mahal memang wajar.

Namun, kata Arista kenaikan, harga pun tidak sewenang-wenang karena diatur oleh peraturan TBA.

"Sekarang masyarakat juga diiimbau menyadari, pilihannya begini, mau semua maskapai bangkrut atau mau berkorban, harga agak tinggi, tapi semua maskapai selamat bisnisnya dan kita bisa naik pesawat?" kata Arista.

Berita terkait