Bentrokan warga di Buton: Dua orang meninggal, polisi perketat penjagaan perbatasan dua desa

Buton Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO
Image caption Seorang warga berada di bangkai dua unit sepeda motornya yang terbakar didalam rumahnya pasca keributan antar pemuda di Desa Gunung Jaya, Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (06/06).

Upaya mendamaikan dua warga Desa Sampuabalo dan Desa Gunung Jaya, di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, terus diupayakan, di tengah peningkatan pengamanan setelah terjadi bentrokan yang menewaskan dua orang dan pembakaran 87 rumah warga.

Dipimpin pejabat kepolisian dan TNI, upaya mempertemukan tokoh agama, masyarakat serta pemuda dari dua desa terus diupayakan, kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, Jumat (07/06) di Jakarta.

"Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda setempat, sudah melakukan rapat untuk betul-betul bersama-sama meredam situasi yang berkembang di sana," kata Dedi Prasetyo. "Kami juga meminta agar masyarakat bisa menahan diri."

Kepolisian, menurut Dedi, terus mengumpulkan informasi untuk mengetahui siapa yang melakukan provokasi awal yang menjadi pemicu aksi pembakaran lebih dari 80 rumah warga Desa Sampuabalo.

"Saat ini sudah didata siapa provokator dan pelaku baik penganiayaan, perusakan, pembakaran," katanya.

Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO
Image caption Puluhan pemuda dari Desa Sampuabalo berjaga-jaga usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (05/06).

Selain menyebabkan pembakaran lebih dari 85 rumah warga Desa Gunung Jaya, bentrokan ini menyebabkan dua orang meninggal dunia, seperti dilaporkan wartawan Kompas di Kabupaten Buton, Defrianto Neke untuk BBC News Indonesia.

Mengutip keterangan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buton, Djufri, dua orang korban meninggal dunia akibat bentrokan itu adalah warga Desa Gunung Jaya, kata Defrianto. "Adapun yang terluka 10 orang," tambahnya.

Aparat kepolisian ditambah

Lebih lanjut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan, sebanyak tiga SSK Brimob didatangkan dari Ibu Kota Sulawesei Tenggara, Kendari.

"Sudah ada tiga SSK dari Brimob yang melakukan pengamanan di perbatasan dua desa tersebut," kata Dedi di Jakarta, Jumat (07/06).

Selain itu, sebanyak dua SST dari Korem dan satu SST dari Polres Baubau juga didatangkan untuk "mengendalikan" keamanan di dua lokasi bentrokan.

Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO
Image caption Kapolda Sultra, Brigjen Pol Irianto (tengah) bertemu beberapa warga yang menjadi korban pembakaran rumah di Desa Gunung Jaya, Buton, Sulawesi Tenggara, Kamis (06/06).

"Kondisi saat ini sudah berhasil dikendalikan oleh polisi dan TNI," kata Dedi.

Dan, seperti dilaporkan wartawan Kompas.com Defrianto Neke, yang berada di lokasi bentrokan, situasi relatif sudah kondusif, setelah aparat polisi dan TNI diturunkan untuk melakukan penjagaan di perbatasan dua desa.

"Penjagaan dilakukan untuk mencegah bentrokan susulan, karena beberapa orang massa dari Desa Gunung Jaya mencoba masuk ke Desa Sampuabalo , tapi dicegah aparat untuk menghindari bentrokan," ungkap Defrianto.

Dia juga melaporkan sebagian warga desa, utamanya kaum perempuan dan anak-anak, mengungsi di sejumlah desa yang relatif aman.

Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO
Image caption Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (05/06).

Tentang upaya mendamaikan dua warga desa yang melibatkan aparat kepolisian dan TNI, Defrianto juga membenarkan.

"Semalam (Kamis), Kapolda (Sulawesi Tenggara) bertemu warga Desa Gunung Jaya untuk menenangkan warga agar tidak terprovokasi. Mereka juga turun ke Desa Sampuabalo," katanya.

Kronologi peristiwa menurut polisi

Sebelumnya, ratusan warga terpaksa diungsikan setelah 87 rumah warga Desa Gunung Jaya di Buton, Sulawesi Tenggara dibakar sekelompok pemuda dari desa tetangga, pada Rabu (05/06) sore.

Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Harry Golden Hart menjelaskan dua kelompok pemuda dari Desa Sampuabalo dan Desa Gunung Jaya, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara terlibat bentrok yang berujung pada pembakaran rumah warga.

Hak atas foto JOJON/ANTARA FOTO
Image caption Kepulan asap hitam dari puluhan rumah yang dibakar di Desa Gunung Jaya usai terjadi keributan antar pemuda di perbatasan antara Desa Gunung Jaya dan Desa Sampuabalo, Buton, Sulawesi Tenggara, Rabu (05/06)

Akibat bentrok ini sebanyak 87 rumah, empat unit roda dua dan satu unit roda empat ludes terbakar dan sekitar 300 warga mengungsi.

"Saat ini aparat keamanan TNI Polri sudah berada di lokasi melakukan pengamanan dan melokalisir kejadian agar tidak meluas," ujar Harry kepada BBC News Indonesia, Kamis (06/06).

Lebih lanjut Harry menjelaskan betrokan kedua kelompok pemuda bermula ketika sekelompok pemuda Desa Gunung Jaya menggunakan sepeda motor melintas di wilayah Desa Sampuabalo pada hari Selasa (04/06) pada pukul 21.00 WITA.

Hak atas foto KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE
Image caption Sekitar 87 rumah warga Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dibakar sekelompok pemuda dari desa tetangganya, Desa Sampuabalo, Rabu (05/06) sore.

"Pada saat melintas, mereka menggas-gas kendaraannya sehingga menimbulkan kemarahan warga desa Sambuabalo."

Keesokan harinya, pada Rabu (05/06) pukul 13.00 WIB, warga desa Sampuabalo yang akan melakukan silaturahmi ke warga desa lain sekaligus merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Namun, pada saat melintas Desa Gunung Jaya, kelompok warga desa Gunung Jaya melakukan serangan menggunakan panah terhadap tetangga desanya itu. Sehingga warga desa Sampuabalo itu menderita luka pada bagian dada.

Hak atas foto KOMPAS.com/DEFRIATNO NEKE
Image caption Saat ini, Kapolda Sulawesi Tenggara bersama pemerintah daerah Buton dan tokoh masyarakat melakukan proses rekonsiliasi dan pemulihan paska-kejadian.

"Karena menderita luka, warga desa ini akhirnya kembali ke desanya dan menyampaikan ke warga desanya tersebut. Tidak selang berapa lama, kurang lebih 30 menit, ada 100 warga Desa Sampuabalo yang melakukan penyerangan ke warga desa Gunung Jaya," jelas Harry.

Penyerangan, menurutnya, dilakukan menggunakan batu, bom molotov dan pembakaran terhadap rumah maupun kendaraan warga desa Gunung Jaya.

"Sebanyak 87 rumah hangus. Pengungsi dari Desa Gunung Jaya, sementara diungsikan ke desa-desa terdekat," cetusnya.

Saat ini, Kapolda Sulawesi Tenggara bersama pemerintah daerah Buton dan tokoh masyarakat melakukan proses rekonsiliasi dan pemulihan paska-kejadian.

"Fokus kita adalah mengkondusifkan situasi di TKP kemudian proses hukum terhadap para pelaku, baik yang melakukan pemanahan maupun pembakaran tetap akan kita lakukan," kata dia.

Artikel ini diperbarui pada Jumat (07/06) dengan komentar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo dan laporan wartawan Kompas.com dari lokasi bentrokan, Defrianto Neke.

Berita terkait