Idul Fitri: Pengungsi gempa Palu 'bacakan Yasin' di daerah likuifaksi, Petobo

amp pengungsian Balaroa, Palu Hak atas foto ANTARA FOTO/BASRI MARZUKI
Image caption Sejumlah umat muslim korban bencana berswafoto sebelum melaksanakan salat Id di kamp pengungsian Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (05/06)

Para pengungsi gempa dan tsunami Palu yang melanda September lalu merayakan Idul Fitri antara lain dengan "membacakan Yasin" di Petobo, kawasan yang ambles akibat likuifkasi.

Saat ini masih terdapat kurang lebih 40.000 jiwa penyintas bencana yang masih mengungsi, sekitar 6600 masih ditenda-tenda dan selbihnya menempati hunian sementara.

Salah seorang korban selamat, Novianti, yang rumahnya ambles karena likuifaksi, kehilangan sepupu, dua ipar dan keponakan di daerah perumahan itu.

"Sementara masuk lapangan mau solat Idul Fitri tadi, kita hanya rasakan kesedihan. Tidak terasa air mata mengalir sendiri kalau ingat kejadian waktu di Petobo dulu," kata ibu tiga anak ini.

Cerita yang sama diungkapkan Rifai, pria paruh baya yang yang kehilangan sebagian besar sanak saudaranya akibat gempa.

"Sebelum bencana alam terjadi, suasana rumah (saat Idul Fitri) ramai. Tapi ini betul-betul sedih. Saya tadi ke lokasi Petobo dan membacakan Yasin untuk semua keluarga saya yang sudah mendahului kita. Sebelum kejadian kalau lebaran tiba kita buat acara keluarga dan masak apa saja," tutur Rifai kepada BBC News Indonesia, Rabu (05/06).

Dia mengaku kehilangan enam orang keluarganya, termasuk ibu kandung dan dua adiknya, keponakan dan menantu.

Ia mengatakan biasanya sang ibu dengan dibantu saudara lain menyiapkan masakan usai salat Idul Fitri.

Rumah yang ditinggali bersama keluarganya hilang ditelan bumi, saat fenomena likuifaksi terjadi di sebagian wilayah Kelurahan Petobo, 28 September 2018.

Hak atas foto Erna Lidyawati
Image caption Merayakan lebaran di huntara, Novrianti menyatakan sangat sedih mengingat sanak saudara yang meninggal karena gempa dan tsunami.

Kesedihan yang sama diungkapkan oleh Selvia yang tinggal di tempat hunian sementara.

Perempuan berusia 53 tahun ini menuturkan rumah yang ditinggali bersama keluarganya menjadi puing setelah gempa bumi, melanda. Beruntung ia dan keluarganya selamat.

"Perasaan saya jelas sedih, kita tidak pernah bermimpi kejadiannya akan seperti ini. Tadinya setiap lebaran semua keluarga datang ke rumah untuk berkumpul. Sekarang sudah berbeda," kata Selvia kepada BBC Indonesia.

Dia bercerita, biasanya menjelang lebaran tahun lalu, Selvia biasa memasak makanan yang menjadi kegemaran keluarganya, yakni ketupat dan ayam panggang yang diberi kuah santan dengan racikan bumbu yang khas.

Dia juga membuat kaledo, makanan khas suku Kaili yang dibuat dari tulang sapi dan dimakan dengan ketupat. Tak ketinggalan, kue kering dan penganan lain yang menjadi kesukaan keluarga selalu disuguhkan saat lebaran tiba.

Hak atas foto Antara Foto/Basri Marzuki
Image caption Sejumlah penyintas gempa terisak dan saling berpelukan usai ibadah salat Id di Kamp Pengungsian Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (05/06).

Namun lebaran tahun ini mereka rayakan di tempat ibunya yang sudah menempati hunian sementara berukuran 3x4 meter persegi, dengan dapur dan WC.

Selvia termasuk yang masih tinggal di tenda, namun saat siang hari - karena terlalu panas- ia ikut ibunya.

Tetapi Selvia dan semua keluarganya menyatakan tetap bersyukur karena selamat dari bencana dashyat dengan korban lebih dari 2.000 orang dan ratusan yang dinyatakan hilang.

Selvia dan para penyintas lain berharap mereka segera mendapatkan hunian tetap.

Wali kota Palu, Hidayat, menuturkan saat ini pemerintah masih terus melakukan verifikasi terhadap 55.000 rumah yang hilang, rusak berat dan ringan.

"(Verifikasi) itu tidak mudah. Banyak yang terdata itu tidak memiliki bukti-bukti kepemilikan atau keperdataannya itu," kata Hidayat.

Berita terkait