Bahar bin Smith dituntut enam tahun penjara dalam kasus dugaan penganiayaan

Habib Bahar Hak atas foto AANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Image caption Selama mengikuti pembacaan dakwaan, Bahar tampil dengan ciri khasnya, yaitu membiarkan rambut kuning keemasan tergerai.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Kabupaten Bogor menuntut terdakwa kasus dugaan penganiayaan, Bahar bin Smith, dengan enam tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan kurungan.

Ketua JPU, Purwanto Joko Irianto, menuduh Bahar bin Smith "melakukan kekerasan terhadap orang yang mengakibatkan luka berat dan melakukan kekerasan pada anak yang mengakibatkan luka berat."

"Kami jaksa penuntut umum dalam persidangan ini menuntut supaya majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung yang mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Habib Bahar bin Smith telah terbukti secara sah dan menyakinkan telah melakukan tindak pidana," papar Purwanto dalam persidangan yang digelar di Gedung Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/6).

Jaksa juga meminta majelis hakim memerintahkan terdakwa untuk tetap ditahan.

Tim JPU menilai perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur pidana dalam pasal yang didakwakan, yakni Pasal 333 ayat (2) KUH Pidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUH Pidana, Pasal 170 ayat (2) ke- 2 KUHPidana, dan Pasal 80 ayat (2) Jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam menyusun tuntutan, tim JPU mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan.

Hal-hal yang memberatkan, terdakwa pernah dihukum, perbuatan terdakwa mengakibatkan luka berat, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat.

Sedangkan yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dalam persidangan, terdakwa mengakui perbuatannya, terdakwa menyesali perbuatannya, dan telah ada perdamaian antara terdakwa dengan saksi korban Cahya Abdul Jabar.

Setelah tuntutan dibacakan, Ketua Majelis Hakim PN Bandung, Edison Muhammad, bertanya kepada Bahar apakah mengerti tuntutan yang disampaikan JPU.

"Mengerti. Dituntut enam tahun," jawab Bahar yang mengenakan pakaian serba putih., seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka, kepada BBC News Indonesia.

Hakim ketua lalu meminta Bahar berkonsultasi dengan tim Penasehat hukumnya yang kemudian menyatakan akan mengajukan nota pembelaan pada Kamis (21/6) mendatang.

Sidang dikawal ketat puluhan anggota kepolisian dari Sabhara Polretabes Bandung dan Polda Jawa Barat yang dilengkapi peralatan anti huru-hara. Satu unit kendaraan taktis juga disiagakan.

Setiap sidang, puluhan orang dari berbagai ormas pendukung Bahar Smith menggelar aksi di depan lokasi sidang.

Pada sidang tuntutan kali ini, massa pendukung Bahar memasang spanduk bertuliskan, "Kami rindu guru kami, Habib Bahar bin Smith."

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Para pendukung Bahar bin Smith berkumpul di luar gedung tempat persidangan berlangsung, Kamis (13/06).

Kronologis kasus

Proses hukum kasus ini bergulir ketika orang tua korban melaporkan dugaan tindak penganiayaan Bahar bin Smith dan anak buahnya terhadap Cahya Abdul Jabar (18) dan Muhammad Khoerul Umam Al Muzaki (17) yang terjadi awal Desember 2018 di Pesantren Tajul Alawiyyin di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kasus ini kemudian ditangani Polda Jabar yang langsung menetapkan Bahar sebagai tersangka pada 18 Desember. Saat itu juga, pimpinan Ponpes Tajul Alawiyyin ini ditahan di Polda Jabar.

Penganiayaan ini disebut-sebut berawal ketika Cahya Abdul Jabar mengaku-aku sebagai Bahar bin Smith saat berada di Bali. Korban memang berpenampilan mirip dengan Bahar Smith yakni berambut gondrong pirang. Korban meniru gaya Bahar bin Smith karena mengidolakan ustad tersebut.

Jaksa mengatakan Bahar bin Smith meminta Muhamad Abdul Basit Iskandar, Agil Yahya, Habib Husen, Wiro, Ginda Tato, dan Keling menemui dan menjemput paksa Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Umam Al Muzaki pada 1 Desember 2018.

Kedua korban lantas diduga dianiaya terdakwa dan tiga tersangka lainnya serta sekitar 15 orang santri di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin Bogor.

"Selama berada di Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin, korban Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Umam Al Mudzaqi tidak dapat berbuat apapun selain diinterogasi dan dianiaya oleh terdakwa Bahar, Agil, Hamdi, dan oleh sekitar 15 orang santri lainnya dalam ponpes tersebut," sebut JPU.

Akibat penganiayaan itu, kedua korban mengalami luka-luka berat di anggota tubuhnya. JPU juga menyebutkan rambut kedua korban dicukur habis atas perintah terdakwa.

"Lalu kepala saksi korban Muhammad Khoerul Umam Al Muzaki dijadikan asbak untuk mematikan rokok oleh santri bertato," kata jaksa.

Cahya Abdul Jabar dan Muhammad Khoerul Umam Al Mudzaqi disebut mengalami luka-luka berat dan dirawat di rumah sakit Bhayangkara.

Topik terkait

Berita terkait