Kasus Setya Novanto 'pelesiran', dua petugas Lapas Sukamiskin dijatuhi hukuman, kepala lapas tak bersalah

Setya Novanto Hak atas foto Antara/NOVRIAN ARBI
Image caption Terpidana kasus korupsi, Setya Novanto mendengarkan ceramah di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (05/06).

Dua orang pegawai Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, petugas pengawalan dan komandannya, dijatuhi hukuman disiplin setelah terpidana Setya Novanto pergi ke toko bangunan di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, di sela-sela izin berobat.

Petugas pengawalan berinisial SS disanksi penundaan gaji, sedangkan komandannya berinisial YAP dijatuhi sanksi penundaan kenaikan pangkat.

"Diputuskan terhadap komandan jaga, YAP, akan dikenakan sanksi hukuman disiplin sedang, (yaitu) penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun," kata Kepala Divisi Administrasi Kanwil Hukum dan HAM Jawa Barat, Ceno Hersusetiokartiko, dalam keterangan pers hari Rabu (19/06), seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka, untuk BBC News Indonesia.

"Kemudian SS sebagai petugas, dikenakan hukuman disiplin penundaan gaji berkala selama satu tahun," kata Ceno.

Kedua pegawai dianggap melanggar Peraturan Pemerintah No. 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, pasal 3 ayat 5 dan ayat 9.

"Mereka tidak menjalankan perintah atasan dan tidak menjalankan tugas dan fungsi sebagaimana standar operasional prosedur yang ada di dalam pengawalan. Itulah yang mengakibatkan kenapa dia (Setya Novanto) sampai keluar dari rumah sakit," kata Kepala Kanwilkumham Jawa Barat, Liberti Sitinjak yang juga hadir saat keterangan pers.

Liberti membantah "ada penyuapan" dalam kasus itu. "Berdasarkan tim pemeriksa yang kami bentuk, sama sekali tidak ada suap," katanya.

Hak atas foto Julia Alazka untuk BBC News Indonesia
Image caption Liberti Sitinjak mengatakan 'tidak ada penyuapan' di balik 'pelesiran' Setya Novanto ke toko bangunan.

Ia cenderung memperkirakan "ada rasa segan SS yang umurnya masih belia serta baru diangkat sebagai PNS, terhadap Novanto yang usianya lebih senior".

Meski dua petugas lapas disanksi, tapi Kalapas Sukamiskin bebas. Dari hasil pemeriksaan, Liberti mengatakan, tim assesment tidak menemukan kesalahan kalapas.

"Saya sudah periksa dokumen tentang (peran kalapas), itu tidak ada. Makanya hanya yang melakukan (petugas pengawalan) dan komandan jaganya. Dari atas sampai ke bawah, jelas, clear. Ini memang tinggal kelemahan SDM kita yang memang harus dipertanggungjawabkan dan diperbaiki ke depan," ujar Liberti.

Sementara saat akan diminta tanggapannya, Kalapas Sukamiskin, Tejo Harwanto menolak berkomentar.

Pakar hukum pidana Universitas Parahyangan Bandung, Agustinus Pohan, mengatakan mestinya kepala lapas harus bertanggung jawab.

"Secara administrasi, tentu kalapas bertanggung jawab," ujarnya.

Ia meragukan kasus penyalahgunaan izin tersebut akan berhenti, sepanjang mentalitas aparatnya masih sama.

Pohan menambahkan, risiko terulangnya kasus serupa dipicu juga oleh penempatan narapidana kerah putih dalam penjara khusus.

Jika dicampur, napi lain akan protes bila ada perlakuan istimewa. Di lain pihak, ada sisi negatifnya, misalnya, narapidana kerah putih akan mempekerjakan narapidana lain untuk mendapatkan berbagai kemudahan.

Pohan mengaku tidak sependapat jika kasus itu terjadi lantaran kurangnya jumlah petugas lapas.

Akibat kasus ini, Setya Novanto sendiri dipindahkan ke Lapas Gunung Sindur.

'Pelesiran' ke toko bangunan

Kabar 'pelesiran' ini berawal dari beredarnya foto Novanto, di sebuah toko bangunan yang terletak di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Foto itu tersebar di kalangan wartawan Kota Bandung sejak Jumat (14/06).

Dalam foto tersebut, Setnov tampak mengenakan kemeja lengan pendek, memakai topi hitam, dan masker yang menutupi wajah.

Dalam foto itu, Novanto tampak berbincang dengan seorang wanita berjilbab yang tengah menenteng tas berwarna merah.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Jabar, Liberti Sitinjak. mengatakan Novanto memang berada di luar Lapas Sukamiskin sejak 12 Juni. Menurutnya, terpidana kasus korupsi e-KTP itu menjalani perawatan di Rumah Sakit Santosa Bandung akibat sakit jantung koroner dan nyeri bahu.

"Saya selaku Kakanwil sudah saya kunjungi ke rumah sakit, saat itu dan benar di sana dia sedang dilakukan infus," kata Liberti, hari Sabtu (15/06).

Ditambahkannya, Novanto seharusnya kembali ke Lapas Sukamiskin pada Jumat (14/06).

Hak atas foto Antara/M Agung Rajasa
Image caption Peralatan pengeras suara hingga mesin pemanas/pendingin air ditemukan saat inspeksi mendadak di sejumlah sel Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, pada 2018.

Pengamanan diperketat

Di Lapas Gunung Sindur, menurut Liberti, pengamanan terhadap Novanto bakal diperketat. Dia tak akan bebas keluar-masuk selnya saat di Gunung Sindur, izin berobat pun akan jauh lebih sulit didapat.

"Nanti kalau di Gunung Sindur pengamanannya sangat-sangat super ketat, tidak seperti di sini. Karena dia di sana itu kan sudah masuk lapas super maksimum. Di sana izin berobat juga ketat," kata Liberti.

Novanto bukan kali ini saja berada dalam sorotan selama ditahan di Lapas Sukamiskin.

Tahun lalu, Ombudsman RI menemukan sel Novanto lebih luas dan lebih mewah dibanding sel-sel untuk napi lainnya.

Bahkan, didapati kloset duduk di dalam sel mantan ketua DPR itu.

Beragam temuan Ombudsman RI ini mengemuka setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Wahid Husein yang saat itu menjabat sebagai kepala Lapas Sukamiskin karena diduga menerima suap.

Penangkapan Wahid Husein disusul oleh inspeksi mendadak Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Sri Puguh Budi Utami.

Berbagai barang seperti kulkas dua pintu, televisi, speaker, kompor gas, tabung elpiji, microwave, mesin pemanas/pendingin air, alat-alat masak, hingga uang tunai berjumlah Rp102 juta ditemukan dalam sidak tersebut.

Topik terkait

Berita terkait