Kasus Rahmat Baequni: Polda Jawa Barat selidiki tuduhan hoaks anggota KPPS meninggal diracun

baequni Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Rahmat Baequni dihadirkan dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Barat, Jumat (21/06).

Kepolisian Daerah Jawa Barat menetapkan Rahmat Baequni sebagai tersangka dalam kasus dugaan hoaks. Baequni sendiri membantah menyebarkan berita bohong karena hanya mengutip dari pemberitaan yang sudah viral di media sosial. 

Baequni—yang pernah menjadi perbincangan di media sosial terkait tuduhan desain kelompok illuminati pada Masjid Al Safar di Bandung, Jawa Barat—diduga tampil dalam video ceramah yang menuduh sejumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia akibat diracun.

"Sejauh ini yang kita tetapkan sebagai tersangka adalah RB alamat di Parakan Saat Cisaranten Kota Bandung dan untuk TKP ada di daerah Balendah," kata Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudho Wisnu Andiko di Mapolda Jawa Barat, Jumat (21/6), sebagaimana dilaporkan wartawan Julia Alazka untuk BBC News Indonesia.

"Ancaman pidananya di atas lima tahun penjara," imbuhnya.

Polisi menjeratnya dengan Pasal 14 ayat 1 dan atau Pasal 15 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1946 dan atau Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan terhadap UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau pasal 207 KUHPidana.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Baequni yang dihadirkan saat jumpa pers menyatakan akan bersikap kooperatif dan siap menjalani proses pemeriksaan.

Polisi, menurut Trunoyudho, mendapatkan alat bukti berupa rekaman video dan jejak digital dari sejumlah warganet. 

Tidak hanya kasus hoaks soal anggota KPPS diracun, polisi juga tengah mendalami kasus berita bohong yang bakal menjerat Baequni soal tuduhan Densus Antiteror menciptakan teroris yang diduga terdapat dalam rekaman video yang dibuat pada 2018.

"Semua konten tidak benar, apapun, kita akan melakukan tindakan tegas dan dalam hal ini melakukan proses penegakan hukum," kata Trunoyudho.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Ridwan Kamil (paling kiri) dan Rahmat Baequni (paling kanan) bertemu dalam diskusi rancang bangun Masjid Al-Safar yang dituduh memuat unsur illuminati.

Baequni yang dihadirkan saat jumpa pers menyatakan akan bersikap kooperatif dan siap menjalani proses pemeriksaan.

Ditanya oleh wartawan soal motif menyampaikan informasi bohong tersebut, penceramah itu berdalih, dirinya hanya mengutip apa yang sudah ramai dibicarakan di media sosial.

"Tentang apa yang diberitakan kalau saya menyebarkan berita bohong terkait anggota KPPS yang meninggal dunia, itu saya hanya mengutip saja dari pemberitaan yang sudah viral di media sosial. 

"Saya tanya kepada jamaah dan jamaah sudah pada tahu dan menganggukkan kepala. Jadi memang itu sudah ramai di media sosial berita tersebut," ungkap Baequni yang mengenakan gamis biru keabu-abuan dan masker di wajahnya ini.

Hak atas foto Jasa Marga
Image caption Rahmat Baequni menjadi perbincangan di media sosial saat dia mempersoalkan desain Masjid Al Safar lantaran dianggap mirip simbol illuminati.

Baequni sendiri mengaku tidak menyakini bahwa anggota KPPS diracun.  Ia menyampaikan hal itu dalam ceramahnya karena dimintai pendapat oleh jamaahnya untuk menyikapi kabar tersebut.

"Tidak (yakin), saya menyatakan, ada informasi, saya tidak menyakini dan saya masih mempertanyakan. Kita lihat prosesnya seperti apa nanti, dan itu salah satu yang diajukan Tim BPN (paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno) ke MK dan kita lihat hasilnya," ujar Baequni.

Pria itu menegaskan, dirinya tidak berniat membuat kisruh atau memecah belah bangsa. "Saya cinta tanah air ini, saya cinta bangsa ini, tidak mungkin saya memecah belah bangsa," katanya.

Nama Baequni menjadi perbincangan di media sosial seiring tuduhan rancang bangun Masjid Al-Safar memuat unsur illuminati.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, selaku arsitek di balik rancangan masjid tersebut bahkan berupaya menjelaskan kepada publik terkait polemik desain masjid itu dengan mengikuti diskusi umum di Kota Bandung, pada 10 Juni lalu.

Berita terkait