'Edit foto cantik' digugat ke Mahkamah Konstitusi, Evi Epita Maya: 'Saya kaget dan heran, kok foto dipermasalahkan?'

Evi Epita Maya Hak atas foto KPUD NTB/KOMPAS.COM
Image caption Yang kiri adalah foto Evi Epita Maya yang dipakai saat pemilu anggota DPD Nusa Tenggara Barat. Foto kanan adalah ketika ditemui wartawan Kompas pada 14 Mei 2019.

Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Nusa Tenggara Barat, Evi Epita Maya, digugat ke Mahkamah Konstitusi karena foto editan yang dipakai saat kampanye dianggap "di luar batas kewajaran".

Peraih suara tertinggi untuk pemilu calon anggota DPD di NTB ini digugat pesaingnya, Farouk Muhammad.

Dalam gugatannya, Farouk, melalui tim kuasa hukumnya, menilai Evi telah "berlaku tidak jujur".

Dalam wawancara dengan Muhammad Irham untuk BBC News Indonesia, Evi Epita Maya mengatakan edit foto merupakan hal lumrah bagi setiap calon legislator karena calon anggota DPD perlu "tampil terbaik".

Ia mengatakan setiap calon memiliki strategi masing-masing untuk mendulang suara pada Pemilu 2019. Berikut kutipan wawancara dengan Evi Epita Maya

Apa reaksi pertama Anda saat tahu Anda digugat karena foto editan untuk kampanye?

Hak atas foto Pemilu
Image caption Evi Apita Maya meraih suara terbanyak untuk pemilihan anggota DPD dari Nusa Tenggara Barat.

Kalau reaksi itu, bukan saya sendiri yang kaget. Semua kaget dan terheran-heran. Kenapa kok sampai foto yang dipermasalahkan? Itu reaksinya. Pertama kaget dan kita tidak berpikir bahwa beliau (Farouk Muhammad) dan timnya sampai ke Mahkamah Konstitusi.

Mengapa Anda mengedit foto?

Pertanyaan mengedit foto? Semua orang yang ingin tampil untuk kontestasi apa pun, semua mengedit foto. Tidak ada tidak bohong. (Misalnya) kita membuat latar belakang, warnanya lain. Itu juga edit namanya. Menampilkan semua foto di studio agak-agak tidak rapi, pasti dirapikan. Iya kan, karena itu memang standar studio kalau foto, seperti itu. Jadi wajar dong, kita sudah bayar studio masak… Dan fotografer juga ingin hasil fotonya bagus kan.

Setelah foto Anda diedit, apakah Anda lebih percaya diri?

Biasa saja bagi saya. Nggak percaya diri (tertawa). Biasa saja. Saya lihat foto saya biasa-biasa saja. Banyak foto saya yang lebih bagus, yang lebih… Istilahnya lebih elegan, lebih kelihatan muda ... Tapi itu banyak yang protes, 'Bun... Bunda kok terlihat dewasa banget?' Karena saya sebelum ke lapangan kadang-kadang simple.

Apakah Anda menyadari foto hasil edit berpengaruh terhadap perolehan suara?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Evi Apita Maya mengatakan setiap calon punya strategi untuk terpilih menjadi anggota DPD.

Kita mencoba menampilkan yang terbaik. Mungkin juga ada pemikiran orang pasti akan memilih kan, DPD selama ini banyak kok yang tidak dikenal. Banyak faktornya, begitu kan. Ada yang pilih, oh ini kayaknya ulama, begitu kan. Banyak. Tidak mungkin semua dikenal oleh masyarakat. Ya, semua punya strategi masing-masing, tapi tidak menyalahi aturan. Sah-sah saja.

Apa yang akan Anda lakukan pertama kali saat ditetapkan sebagai anggota DPDnanti?

Yang saya lakukan pertama kali, tentunya dari sekarang, kalau memang sudah tahu saya gerakan di NTB, sudah ada. Sebelum saya dilantik pun, saya sudah buat gebrakan. Namanya STREAM. STREAM itu Sahabat, Teman, Relawan Evi Apita Maya.

Sekarang tim kita sudah berjalan di bawah untuk membantu masyarakat KLU (Kabupaten Lombok Utara) yang kena gempa, bekerja sama dengan Dukcapil, membuat KIA (Kartu Identitas Anak) dan juga Kartu Kematian. Menjemput bola ke masyarakat yang tidak sempat untuk datang ke Dukcapil, gitu. Itu gebrakan-gebrakan.

STREAM itu wadah yang kita siapkan untuk semua menampung aspirasi. Aspirasi masyarakat di situ ditampung. Di situ bergabung semua elemen. Jadi tidak tergantung sama DPD saja. Nanti dari kita untuk kita, begitu kan. Misalnya masalah kependudukan tadi Dukcapil yang membantu. Misalnya masalah pertanian, nanti kita misalnya di dalam grup ada yang dari pihak pertanian, begitu.

Topik terkait

Berita terkait