Banyak tanaman rusak akibat suhu dingin ekstrem, petani sebut kemarau tahun ini lebih parah

Fenomena embun es (frost) Hak atas foto NOVRIAN ARBI/ANTARA FOTO
Image caption Fenomena embun es (frost) yang menyelimuti tumbuhan di kawasan kebun teh Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (18/07).

Supriatna Dinuri, seorang petani kopi asal Pengalengan, Jawa Barat, mengeluhkan dampak embun es yang muncul di daerahnya akibat cuaca dingin ekstrem yang terjadi beberapa waktu terakhir.

"Khusus untuk tanaman kopi itu menyebabkan pucuk-pucuk kopi khususnya pucuk kopi muda di daerah-daerah yang terbuka, kena dan dampaknya pucuk itu hitam seperti terbakar. Dampaknya ya pertumbuhan terhambat, jadi kondisi tanaman itu seperti bonsai," ungkapnya ke wartawan BBC News Indonesia Mehulika Sitepu.

Kondisi ini tidak berdampak ke panen kopinya saat ini, namun dikatakannya "kalau musim dingin ini berkelanjutan sampai September, ke tahun 2020 akan terjadi gagal panen karena tidak ada proses pembungaan".

Setiap tahun selama tiga tahun terakhir daerah Pengalengan, menurut Supriatna, memang kerap mengalami embun es akibat cuaca dingin di musim kemarau.

Udara dingin dan kering ini berasal dari Australia yang sedang mengalami musim dingin yang disebut monsun dingin di mana sebelumnya aliran ini telah melewati NTT dan Jawa Tengah.

Akibatnya, di siang hari, suhu dapat menjadi sangat panas. Sedang di malam hari menjadi sangat dingin.

"Namun saat malam hari, bumi bergantian melepaskan panas (ke atmosfer). Kondisi demikian menyebabkan suhu di permukaan menjadi turun," ujar Mulyono R. Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.

Sekitar 60 km di sebelah utara Pengalengan, di Desa Ciwaruga, Bandung Barat, petani lain, Asep Sutarta justru mengeluhkan suhu panas yang tinggi selama musim kemarau ini yang menyebabkan sayurannya menjadi kering.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Image caption Warga mengamati fenomena lapisan embun es (beku) yang menyelimuti daun teh di Kebun Teh, Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/07)

"Kalau siang panasnya terlalu menyengat, otomatis kalau disiram langsung kering. Banyak yang mati," katanya.

Asep mengatakan sudah 15.000 hingga 20.000 tanaman sayurannya mati akibat panas tinggi.

"Kan kalau pagi-pagi atau malam itu embun tak ada," kata Asep.

Sudah diantisipasi

Karena terjadi setiap tahun, Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultural Jawa Barat, Hendi Jatnika, sudah mengantisipasi dampaknya ke pertanian di daerah itu.

"Ini sudah banyak mengerahkan bantuan alat pompa. Terutama daerah-daerah yang memerlukan air, pompa sudah disebar," jelas Hendi.

Hendi juga menyarankan kepada para petani yang berada di daerah yang sulit untuk mendapatkan air untuk tidak melakukan areal penanaman baru karena kemarau berdasarkan informasi BMKG sampai dengan Oktober.

"Jadi masih dua bulan lagi, tentunya kalau tanam sekarang nunggu sampai Oktober tidak akan cukup airnya."

Hak atas foto NOVRIAN ARBI/ANTARA FOTO
Image caption Fenomena embun es terjadi akibat kondisi suhu yang mencapai delapan hingga tiga derajat Celsius saat musim kemarau.

Ia juga menambahkan, "Kepada petani yang tanamannya sudah agak tua, setengah umur tanamannya misalnya, itu diupayakan dipertahankan dengan pompanisasi tadi."

Namun tidak ada data yang pasti terkait berapa banyak lahan pertanian yang terganggu.

Sementara itu, Edvin Aldrian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengatakan fenomena suhu sangat dingin di musim kemarau ini tidak akan bertahan lama di suatu tempat, sehingga tak perlu terlalu dikhawatirkan.

"Memang fenomena ini akan seminggu, dua minggu puncaknya. Seperti kita lihat lah, Dieng itu kan sebulan yang lalu," papar Edvin.

Edvin menerangkan bahwa setelah fenomena dingin berakhir, maka akan muncul kekeringan.

"Nanti akan ribut karena kering. Sekarang ribut karena dingin," ujarnya.

Selain Bandung dan Cisarua di Jawa Barat, kota lain dengan suhu terendah sesuai catatan BMKG adalah Yogyakarta dan Malang di Jawa Timur.

Berita terkait