Polisi sebut identitas 'mastermind' aksi teror di Indonesia, penghubung ISIS, JAD, dan JAT

polri Hak atas foto Antara Foto
Image caption Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (tengah), Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra (kiri) dan Anjak Madya Divisi Humas Polri AKBP Muhammad Iqbal Alkudusi (kanan) memberikan keterangan pers pengungkapan kasus tindak pidana terorisme di Divhumas Polri, Jakarta, Selasa (23/7).

Polri meyakini seorang pria bernama Saefulah alias Daniel atau Chaniago sebagai otak di balik rencana aksi terorisme di Indonesia.

Saefullah, menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jendral Dedi Prasetyo, berada di Khurasan, Afghanistan.

"Kenapa yang bersangkutan ada di Khurasan? Pascakekalahan ISIS di Suriah, mereka langsung pecah kekuatannya dan saat ini kekuatan ISIS sudah mengarah ke suatu daerah yaitu Khurasan, Afganistan," ujar Dedi, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid.

"Ini daerah abu-abu, daerah perbatasan yang tidak bisa dikontrol oleh satu pemerintah. Itu sebabnya mereka kuat di situ," tambahnya.

Saefulah, yang sempat bekerja sebagai penjaga perpustakaan Ponpes Ibnu Mas'ud yang ditutup pada 2017, diklaim memiliki simpul jaringan dari Afghanistan, Filipina, hingga Indonesia. Dia sudah dimasukkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak lama.

Kepolisian mengatakan peran Saefullah terungkap setelah menangkap Novendri di Kota Padang, Sumatera Barat, 8 Juli lalu.

"Untuk Novendri ini ada pengendalinya, master mind-nya bernama Saefullah. Untuk yang bersangkutan (Saefullah) sudah diterbitkan DPO oleh Densus 88. Dia yang memberi uang kepada Novendri untuk diteruskan ke kelompok-kelompok teroris di Indonesia," jelas Karo Penmas Humas Mabes Polri, Brigadir Jendral Dedi Prasetyo.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Pemetaan sejumlah orang yang disebut terlibat dalam jaringan teror.

Penghubung simpul JAD

Dikatakan polisi, Novendri bisa menghubungkan simpul JAD lainnya di Indonesia, di antaranya, Lampung, Sibolga dan Bekasi, kemudian Mujahid Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora dan JAD di luar negeri termasuk Filipina dan Malaysia.

Dalam pemeriksaan, Novendri juga diketahui berencana menyerang polisi pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus mendatang.

"Dia sudah merencanakan aksi terorismenya dengan melakukan surveillance atau pemetaan ke beberapa sasaran aksi terorisme, khususnya di Sumatera Barat. Polda sudah disurvei, Polresta Padang, merencanakan jenis bom yang sedang dirakit untuk diledakkan, sasarannya pada upacara 17 Agustus mendatang," jelas Dedi.

Selain Novendri, Saefulah juga mempercayakan pendanaan kepada anggota JAD Kalimantan Timur bernama Yoga dan seseorang bernama Abu Saidah. Abu Saidah sendiri saat ini masih menjadi buruan Densus 88 Antiteror. Sementara Yoga ditangkap di Malaysia.

"Untuk Saefulah ini, dia mengontrol beberapa pelaku yang ada di Indonesia, antara lain adalah tersangka Yoga yang merupakan JAD Kaltim, yang sudah ditangkap. Yoga juga menggantikan perannya Andi Baso sebagai jembatan penghubung antara kelompok ISIS atau JAD Indonesia maupun yang ada di Filipina," ujar Dedi.

Dedi menjelaskan pria bernama Andi Baso itu merupakan terduga teroris asal Makassar yang mengatur perjalanan pasangan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral, Jolo, Filipina. Andi Baso saat ini berstatus DPO.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Peran Saefullah dan Novendri yang dijabarkan Polri.

Dedi menerangkan, Andi Baso punya kemampuan merekrut orang dan dia diyakini ada di Filipina Selatan.

Sebelumnya, Polri mengungkap pelaku bom bunuh diri di rumah ibadah di Filipina beberapa waktu lalu berkewarganegaraan Indonesia.

"Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh. Ini yang diduga sebagai pelaku suicide bomber di Filipina," kata Dedi.

Tetapi keduanya belum teridentifikasi karena masuk ke Filipina secara ilegal.

Dari hasil pemeriksaan polisi, diketahu pelaku lain juga terkait dengan simpul Saefullah.

"Mereka juga terkoneksi dengan Bondan, ini JAD Bekasi yang memiliki kemampuan merakit bom TATP high explosive dan merekrut beberapa orang," jelas Dedi.

Bondan juga disebut akan melakukan serangan terorisme saat demo 21-22 Mei di depan kantor KPU dan Bawaslu. Bondan ditangkap sebelum demo terjadi yaitu pada 8-14 Mei.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jendral Dedi Prasetyo, memberikan keterangan, pada Selasa (23/07).

Aliran dana dari sejumlah negara

Salah satu aliran dana yang diidentifikasi polisi berawal dari pendeportasian sejumlah WNI di Bangkok, yang berniat pergi ke Khurasan, Afghanistan.

Menurut keterangan polisi, 12 orang sudah ditangkap.

"Mastermind ini yang masih DPO dan punya akses ke tokoh-tokoh ISIS di Khurasan dan yang mengatur, berkomunikasi, lalu transfer adalah Muhammad Aulia," jelas Dedi.

Polisi juga mengidentifikasi aliran dana dari dari Trinidad Tobago sebanyak tujuh kali, Maladewa sebanyak satu kali, Venezuela satu kali, Jerman dua kali dan Malaysia sekali.

Dari ke-12 aliran dana tersebut, sejak Maret 2016 hingga September 2017 seluruhnya terkumpul Rp 413.169.857. Mereka menggunakan jasa Western Union, kata polisi.

Topik terkait

Berita terkait