Erupsi Gunung Tangkuban Parahu akankah memicu gempa di sesar Lembang?

pintu Selamat Datang Gunung Tangkuban Parahu Hak atas foto ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Image caption Kondisi pintu Selamat Datang Gunung Tangkuban Parahu yang tertutup abu vulkanik di kawasan wisata Kawah Ratu Tangkuban Parahu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (27/07)

Erupsi susulan di Kawasan Gunung Tangkuban Parahu masih terjadi, namun pihak berwenang memastikan tidak akan dilakukan evakuasi warga. Lantas, apakah erupsi ini akan memicu gempa di sesar Lembang?

Erupsi Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu sempat menimbulkan kepanikan sejumlah warga, seperti dituturkan Mulyana, warga Lembang di Bandung Barat, yang rumahnya tak jauh dari kawasan gunung yang meletus Jumat (26/07) silam.

"Iya (sempat panik). Terutama daerah Cikole karena jarak cukup dekat, empat kilometer, dan sebagian sudah ada yang mau mengungsi," tutur Mulyana seperti dilaporkan oleh wartawan di Bandung, Julia Alazka, untuk BBC News Indonesia, Sabtu (27/07).

Meski begitu, Mulyana memastikan warga yang tinggal di kawasan Gunung Tangkuban Parahu sudah siap menghadapi bencana letusan gunung api.

Pasalnya, warga telah disosialisasikan mengenai siaga bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Lembang, seperti gempa bumi dan letusan gunung api.

Komunitas warga yang gencar melakukan sosialisasi bencana adalah Avengers.

Mulyana, ketua Avengers, mengatakan mereka ikut pula memasang jalur evakuasi.

"Kita sosialisasikan terus menerus. Warga aman, tapi tetap siaga dan waspada," kata Mulyana.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Novrian Arbi
Image caption Kondisi kawasan wisata Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu pascaletusan freatik pada Jumat (26/7/2019),

Avengers pun ikut memantau perkembangan di lokasi bersama dinas terkait serta menyiagakan personel dan peralatan, seperti tandu, masker, lampu, senter dan lain-lain, jika evakuasi dilakukan.

Namun sejauh ini, PVMBG memastikan tidak akan dilakukan evakuasi warga.

"Evakuasi tidak ada karena dampak hanya di kawah saja. Jadi aktivitas wisata aja yang ditutup. Pemukiman di sekitar situ, aman," ujar Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika.

Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran terjadinya erupsi Gunung Tangkuban Parahu bisa memicu gempa Sesar Lembang. Namun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menginformasikan bahwa hal itu kemungkinan kecil terjadi.

Hak atas foto PVMBG
Image caption Kondisi Kawah Ratu yang terpantau pada pukul 09.06 wib, Sabtu (27/07)

"Sesar Lembang itu berdekatan dengan aktivitas Gunungapi Tangkuban Parahu, jadi bisa tidak, bisa iya," kata Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Gede Suantika.

Ahli Vulkanologi PVMBG, Devy Syahbana Kamil menambahkan erupsi freatik yang terjadi kemarin, terlalu kecil untuk bisa memicu gempa.

"Kalau di dunia, ada suatu erupsi yang men-trigger gempa bumi, cuma hanya untuk erupsi yang besar sekali. Sementara Tangkuban Parahu erupsinya kecil sekali. Jadi sangat kecil kemungkinan, bahkan bisa dikatakan erupsi kemarin tidak akan mengaktifkan Sesar Lembang," ujar Devy.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Image caption Warga mengabadikan erupsi Gunung Tangkuban Parahu yang tampak dari Mekarwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (26/07)

Seperti diberitakan, sesar atau Patahan Lembang dilaporkan terus bergerak aktif dengan rata-rata pergerakan mencapai empat milimeter per tahun.

Dan kajian ahli menyebutkan sesar ini telah berada di tahap akhir siklus gempa bumi, yang artinya ancaman gempa bisa datang kapan saja.

Sesar Lembang memiliki panjang 29 kilometer, yang membentang dari Barat ke Timur, dimulai dari Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, hingga Manglayang, Kabupaten Bandung.

Jika terjadi pergerakan patahan, demikian para ahli gempa, dampaknya bisa dirasakan di dua kota dan empat kabupaten, yakni Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Subang, dan Sumedang.

Erupsi susulan menurun, kawasan wisata ditutup

Dalam 12 jam terakhir, tremor di Kawasan Gunung Tangkuban Parahu menurun secara bertahap. Hingga Sabtu (27/07) siang, Kawah Ratu masih terjadi erupsi, namun tidak sepekat erupsi yang terjadi sehari sebelumnya pada Jumat (26/07). Ketinggian erupsi pun hanya sekitar 50 meter

"Masih ada material yang dikeluarkan karena warananya putih yang artinya hanya air dan gas. Jadi sudah menurun jauh dari kemarin yang hitam dan bergumpal-gumpal," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Bencana Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Nia Haerani.

Sementara dari data seismograf, tremor hembusan terpantau menurun dari skala 15 hingga 20 milimeter menjadi 12 milimeter.

Meski demikian, aktivitas Gunung Tangkuban Parahu masih berada dalam kondisi yang belum stabil dan dapat berubah sewaktu-waktu. Saat ini, status Gunung Tangkuban Parahu dinyatakan aktif normal atau level 1.

"Kami akan terus mengevaluasi enam jam sekali, apakah perlu statusnya naik atau tidak," kata Nia.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Kasubbid Mitigasi Bencana Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Nia Haerani sedang menjelaskan kondisi terakhir Kawah Ratu pasca erupsi

Karena itu, PVMBG masih merekomendasikan larangan beraktivitas dalam radius 500 meter dari Kawah Upas dan Kawah Ratu yang mengalami erupsi kemarin. Masyarakat sekitar dan juga wisatawan dilarang menginap di sekitar kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Parahu. Ada sembilan kawah di kawasan Gunung Tangkuban Parahu.

Kawasan wisata Gunung Tangkuban Parahu saat ini ditutup sementara hingga kondisi aman.

Sebanyak 30 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) Indonesia diterjunkan untuk membantu evakuasi pedagang dan pengunjung terdampak erupsi Gunung Tangkuban Perahu, Jawa Barat, Jumat.

Sebagian besar pedagang yang dievakuasi adalah warga Ciater dan Cikole. Mereka telah kembali ke rumah masing-masing.

Sementara para pengunjung yang mayoritas menggunakan kendaraan pribadi sudah meninggalkan lokasi.

Gunung Tangkuban Parahu di Jawa Barat meletus Jumat (26/07), pertama sejak 2013 dan masyarakat diminta untuk menjaga jarak sekitar 1,5 kilometer dari kawah dan mewaspadai "letusan tiba-tiba."

Pada erupsi yang terjadi kemarin, Kawah Ratu di Kawasan Gunung Tangkuban Parahu memuntahkan debu hitam dengan ketinggian sekitar 200 meter. Kolom abu teramati berwarna abu tebal kehitaman condong ke arah Timur Laut dan Selatan. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi sekitar 5 menit 30 detik.

Erupsi yang terjadi di Gunung Tangkuban Parahu adalah erupsi freatik. Erupsi jenis ini tidak melibatkan magma segar dalam proses terjadinya erupsi, beda dengan erupsi freatomagmatik atau magmatik.

Ahli Vulkanologi PVMBG, Devy Syahbana Kamil menjelaskan erupsi freatik terjadi karena uap dari magma yang berinteraksi dengan sistem hidrothermal yang berada di di bawah kawah Gunung Tangkuban Parahu.

Hak atas foto Antara
Image caption Aktivitas Tangkuban Parahu sudah mulai sejak 21 Juli dengan 425 kali gempa hembusan.

"Karena dipanaskan terjadi follow metrik di bawah permukaan, sehingga terjadi erupsi. Jadi erupsi yang keluar abu, bukan produk magma yang baru. Kondisi seperti ini bisa terjadi di beberapa gunung, seperti Papandayan dan Dieng. Erupsi freatik biasanya tidak diawali tanda-tanda jelas sehingga bisa terjadi kapanpun," papar Ahli Vulkanologi PVMBG, Devy Syahbana Kamil.

Meski tetap berbahaya, tapi potensi bahayanya masih kecil dibanding erupsi freatomagmatik dan magmatik. Mitigasi bencananya pun lebih mudah.

"Yang perlu dimitigasi dari letusan freatik, yaitu tidak berada di dalam wilayah bahaya dan menyiapkan masker abu. Sudah selesai," ucap Devy.

Hak atas foto ANTARA FOTO/Dok PVMBG
Image caption Gunung Tangkuban Parahu mengalami erupsi dengan mengeluarkan kolom abu setinggi kurang lebih 200 meter di atas puncak.

Waspadai gas beracun

Abu akibat erupsi Gunung api aktif yang berlokasi di Kabupaten Bandung Barat dan Subang ini, tersebar paling jauh hingga ke Cikole Lembang. Abu ini berbahaya jika terhirup.

Namun, PVMBG juga mewaspadai keluarnya gas beracun.

"Sebenarnya yang kita takutkan emisi gas beracunnya karena zaman dulu ada gas beracun yang mengancam jiwa," kata Ahli Vulkanologi PVMBG, Gede Suantika.

Gas vulkanik tersebut adalah Hidrogen Sulfida, Sulfur Dioksida, Nitrogen, Karbon Monoksida, dan karbon Dioksida.

"Untuk gas beracun hanya lokal di kawah saja gak tersebar sampai kemana- mana. Munculnya gas beracun juga tidak harus ada erupsi," ujar Gede, yang juga menjabat sebagai Kabag TU PVMBG ini.

Hak atas foto Antara
Image caption Petugas mencatat aktivitas Tangkuban Parahu.

Penerbangan aman

Pihak PVMBG juga berkoordinasi dengan otoritas Bandara Husein Sastranegara untuk memastikan keamanan penerbangan dari atau ke bandara yang berlokasi di pusat Kota Bandung itu.

Berdasarkan Volcano Observayory Notice for Aviation (VONA), tidak terdeteksi ada sebaran abu di sekitar lokasi Bandara Husein Sastranegara.

"Pihak bandara melakukan paper test di empat lokasi, yaitu Cicendo, Pajajaran dan sekitar Bandara Husein Sastranegara. Sampai tadi pagi tidak terdeteksi adanya abu, kertasnya bersih. Jadi sebaran abu dari erupsi kemarin itu hanya lokal saja di sekitar kawah dan terjauh sampai Cikole Lembang. Kalau ke Kota Bandung dan Bandara Husein tidak terdeteksi adanya abu," ujar Nia.

Kondisi ini memastikan jalur penerbangan dari dan ke Bandara Husein Sastranegara, aman.

Topik terkait

Berita terkait