Dua bocah meninggal dalam penembakan di California: 'Saya berharap ini hanya mimpi'

Korban meninggal Hak atas foto FAMILY HANDOUT
Image caption Stephen Romero yang berusia enam tahun adalah korban meninggal pertama yang telah diidentifikasi oleh media lokal.

Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun dan seorang remaja perempuan berusia 13 tahun termasuk di antara tiga orang yang meninggal dalam insiden penembakan di festival kuliner di California, demikian konfirmasi kepolisian.

Lima belas orang terluka ketika tersangka, yang disebut oleh polisi sebagai Santino William Legan, 19 tahun, melepaskan tembakan ke arah kerumunan peserta Festival Bawang Putih Gilroy pada Minggu malam.

Polisi mengatakan tersangka menggunakan senapan serbu yang dibelinya secara legal di negara bagian Nevada pada bulan ini.

Pria bersenjata itu kemudian ditembak mati oleh polisi, dan sejauh ini kepolisian sedang mencari kemungkinan ada orang lain yang terlibat.

Hak atas foto Mario Tama/Getty
Image caption Masyarakat di kota Gilroy, California, menyatakan rasa belasungkawa atas serangan mematikan di festival kuliner yang mengakibatkan tiga orang meninggal, Senin, 29 Juli 2019.

Stephen Romero yang berusia enam tahun adalah korban meninggal pertama yang telah diidentifikasi oleh media lokal. Ibu dan neneknya mengalami luka-luka dalam insiden penembakan itu.

Polisi juga memastikan seorang pria berusia 20-an juga tewas. Tidak ada satu pun korban yang secara resmi disebutkan namanya.

Setidaknya 15 orang dilarikan ke rumah sakit, menurut pimpinan dari empat rumah sakit yang merawat korban luka-luka. Sedikitnya 12 orang dirawat karena luka tembak, kata pejabat kesehatan.

Kepala kepolisian Gilroy, Scott Smithee, dalam jumpa pers pada Senin, mengatakan para aparat kepolisian yang dikerahkan pada acara tersebut dapat meresponsnya dalam satu menit.

Dia mengatakan tiga petugas kepolisian berhasil mengejar tersangka dan, meskipun mereka "dibidik dengan senapan", mereka berhasil melukainya dan mengakhiri tindakan brutalnya, yang berakhir dengan kematiannya..

Hak atas foto Mario Tama/Getty
Image caption Seorang warga meletakkan semacam pesan sebagai tanda berbelasungkawa di lokasi penembakan.

"Saya tidak bisa memberitahumu betapa bangganya saya pada para petugas, karena dapat melumpuhkan pelakunya, sementara di hadapannya ada ribuan di festival itu di wilayah yang sangat kecil," kata Smithee.

"Sepertinya ini adalah tindakan acak," kata Kepala Smithee, dengan suaranya yang terpecah lantaran emosi.

Ketika ditanya tentang laporan yang menyebut kemungkinan adanya pelaku serangan lainnya, dia menjawab: "Kami tidak tahu."

Agen FBI yang terlibat dalam menangani serangan ini, Craig Fair mengatakan kepada wartawan bahwa prioritas bagi proses penyelidikan adalah mencoba menentukan motivasi, kecenderungan ideologis dan apakah pelaku serangan berafiliasi dengan kelompok lain

Rumah pelaku Santino William Legan di Gilroy - hanya sekitar satu mil dari lokasi penembakan - sedang digeledah pada Minggu dan Senin pagi.

Hak atas foto MediaNews Group/The Mercury News via Getty Images
Image caption Rumah pelaku Santino William Legan di Gilroy - hanya sekitar satu mil dari lokasi penembakan - sedang digeledah pada Minggu dan Senin pagi.

Masih belum jelas apakah dia menargetkan serangan secara individu atau menembak secara acak.

Sebelum penembakan, Legan telah mengunggah tentang festival di Instagram, seperti dilaporkan sejumlah media AS, dan mengatakan: "Festival bawang putih menjadi sia-sia karena serba mahal (lalu dia melontarkan sumpah-serapah)".

Semenjak saat itulah akun Instagramnya telah dihapus, tetapi dalam unggahan lainnya dia dilaporkan mereferensikan ideologi rasis.

Gitaris kelompok TinMan, yang tampil di atas panggung ketika serangan dimulai, mengatakan dia mendengar seseorang bertanya kepada penembak: "Mengapa kamu melakukan ini?"

Sang gitaris, Jack Vanbreen mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa dia mendengar si penyerang menjawab: "Karena saya benar-benar marah".

Pada Minggu, polisi mengatakan penyerang telah memotong pagar yang mengelilingi lokasi festival, yang terletak sekitar 48km di wilayah selatan San Jose dan menarik pengunjung hingga100.000 orang setiap tahun.

Hak atas foto MediaNews Group/The Mercury News via Getty Images
Image caption "Saya tidak percaya apa yang terjadi, saya katakan bahwa apa yang dikatakan adalah kabar bohong, bahwa saya kemungkinan sedang bermimpi," kata Alberto Romero, ayah dari Stephen Romero, 6 tahun, korban meninggal.

Alberto Romero, ayah dari korban meninggal dunia Stephen Romero, mengatakan kepada Mercury News bahwa dia ada di rumah bersama putrinya, yang berusia sembilan tahun, ketika dia menerima telepondari istrinya yang panik.

Mereka tengah bermain perosotan pada saat serangan, katanya, ketika bocah itu ditembak dari belakang.

"Saya tidak percaya apa yang terjadi, saya katakan bahwa apa yang dikatakan adalah kabar bohong, bahwa saya kemungkinan sedang bermimpi," kata Romero.

"Dia selalu gembira, selalu ingin bermain, selalu positif," katanya, seraya menambahkan bahwa ibu anak laki-laki itu kini dalam keadaan koma setelah ditembak di bagian perutnya, sementara ibunya dirawat karena luka tembak di kaki.

Serangan di festival kuliner di California ini merupakan penembakan massal ke-246 di AS dalam tahun ini, demikian menurut situs pelacakan Gun Violence Archive di AS.

Di Gedung Putih, Senin, Presiden AS Donald Trump berterima kasih kepada polisi "yang dengan cepat membekuk pelaku penembakan".

Topik terkait

Berita terkait