Hormati IduI Adha, gereja 'tiadakan ibadah pagi': Kisah gereja dan masjid yang berdempetan di Solo

Keberadaan gereja dan masjid yang berdempetan di kota Solo, Jawa Tengah, merupakan saksi bisu perwujudan tenggang rasa dan welas asih yang dirawat terus-menerus oleh pimpinan dan umat dua tempat ibadah itu.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Walaupun bangunan gereja dan masjid itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih di pegang teguh oleh pimpinan dan jemaah gereja dan masjid tersebut.

Awalnya, kira-kira tahun 1939, gereja didirikan oleh jemaat Kristen Danukusuman di Joyodoningratan, Solo, di atas tanah yang dibeli dari seorang Muslim.

Bangunan itu didirikan karena ada kebutuhan untuk beribadah bagi warga Kristen yang terus tumbuh di kawasan tersebut.

Saat itu, sang pemilik tanah membolehkan tanahnya dibeli oleh pengelola gereja, namun dengan syarat mereka kelak dibolehkan mendirikan musala di samping gereja — kelak diperbesar menjadi masjid.

Kesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Kesepakatan pun dibuat antara kedua pihak, yang ditandai pendirian semacam prasasti setinggi sekitar 1,5 meter berbentuk lilin di antara dua bangunan ibadah itu.

"Jadi prasasti itu menandakan tidak akan terjadi apapun, meskipun dua tempat ibadah itu saling berdampingan," ungkap Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah, Rabu (07/08), mengisahkan sekelumit sejarah dua bangunan ibadah itu.

"Makna tugu lilin juga supaya tetap selalu rukun dan tidak terjadi apapun," tambah Nasir.

Dan sejarah mencatat, sejak 80 tahun berdiri, tidak ada gesekan berarti di antara umat Islam dan Kristen di kawasan itu, bahkan hubungan harmonis pimpinan dan umat dua bangunan ibadah itu kerap menjadi rujukan berbagai anggota masyarakat.

"Antara pengurus gereja dan masjid benar-benar menjunjung tinggi sejarah yang sudah terjalin dua tempat ibadah ini," kata salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho, Rabu lalu.

Tugu lilin, yang masih berdiri kokoh, kini posisinya terletak di dekat tempat wudhu perempuan masjid tersebut. Pihak gereja merelakan tanahnya untuk lokasi pendirian prasasti tersebut.

Idul Adha, gereja meniadakan kebaktian pagi

Komitmen para pendiri gereja dan masjid — terletak di Jalan Gatot Subroto, Solo — untuk menjaga kerukunan di antara umatnya terus dijaga dan ditularkan kepada penerusnya.

Walaupun bangunan gereja dan masjid itu kini jauh lebih mentereng, nilai-nilai toleransi yang disepakati 80 tahun silam, masih di pegang teguh oleh pimpinan dan jemaah gereja dan masjid tersebut.

Itulah sebabnya, ketika sejumlah masjid dan gereja di beberapa kota saling mengalah untuk menunda atau membatalkan jadwal ibadahnya demi umat lainnya, pengelola dua tempat ibadah di Joyodiningratan, Solo, sudah mempraktikkannya sejak dahulu.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Komitmen para pendiri gereja dan masjid — terletak di Jalan Gatot Subroto, Solo — untuk menjaga kerukunan di antara umatnya terus dijaga dan ditularkan kepada penerusnya.

Misalnya saja, kedua pihak lebih mengedepankan sikap bertenggang rasa ketika dihadapkan jadwal ibadah yang bersamaan waktunya. Dan, menurut pimpinan gereja dan masjid, hal ini sudah sering dilakukan.

"Peniadaan kebaktian pagi itu bukan hal yang baru untuk gereja dan masjid di sini," kata Beritha Tri Setyo Nugroho, pendeta di gereja tersebut. Pihak masjid pun begitu.

Dan tahun ini, pihak gereja memilih untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi untuk memberi kesempatan umat Islam untuk salat Idul Adha dan ibadah qurban di lokasi itu, Minggu (11/08).

"Oleh sebab itu majelis memutuskan untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB," kata Beritha.

Menurut dia, peniadaan itu dilakukan untuk menghormati saudara umat Islam yang melaksanakan salat id dengan memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid.

Hal ini dilakukan untuk menghormati umat Islam yang akan menggelar salat id di jalan depan masjid dan gereja.

"Kami sudah mengantisipasinya jika Idul Adha jatuh pada hari Minggu, oleh sebab itu majelis memutuskan untuk meniadakan ibadah kebaktian pagi yang dimulai pukul 06.30 WIB," kata salah satu pendeta GKJ Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho, Rabu (7/8).

Menurut dia, peniadaan itu dilakukan untuk menghormati saudara umat Islam yang melaksanakan salat id dengan memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid.

"Selain meniadakan ibadah pagi, kami juga mengundurkan jadwal ibadah kedua yang biasanya pukul 08.30 menjadi pukul 09.00 WIB," ujarnya.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Dalam merawat toleransi itu, tidak hanya pihak gereja yang 'mengalah', namun dari pengurus masjid juga melakukan sikap seperti itu ketika tempat ibadah tetangganya itu merayakan hari besarnya.

Beritha mengungkapkan pengumuman terkait peniadaan ibadah kebaktian pagi telah disampaikan kepada para jemaat sejak jauh hari sebelumnya.

Para jemaat pun bisa memahami keputusan tersebut, selain itu mereka juga ingin menghormati kepada umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat id.

"Kami sudah mewartakan peniadaan dan pengunduran jadwal ibadah kebaktian sejak dua minggu berturut-turut. Warga gereja bisa memahaminya," ujar dia.

Beritha pun mengakui keputusan untuk meniadakan kebaktian pagi memang murni keputusan dari pihak gereja, tidak ada paksaan dari pengurus masjid.

Ia beralasan sikap seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa ketika hidup berdampingan dengan umat Muslim.

"Bisa dikatakan keputusan itu inisiatif dari gereja kami dan sudah komunikasi non formal dengan pihak pengurus masjid," kata dia.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption "Peniadaan kebaktian pagi itu bukan hal yang baru untuk gereja dan masjid di sini," kata Beritha Tri Setyo Nugroho, pendeta di gereja tersebut.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, Muhammad Nasir Abu Bakar menegaskan bahwa pihak gereja memang yang memundurkan jadwal ibadah kebaktian pagi karena berbarengan dengan salat id.

Hal itu bukan yang pertama kali, namun yang kesekian kalinya jika salat id jatuh pada hari Minggu, pihak gereja akan meniadakan ibadah pagi.

"Jadi luar biasa indahnya karena pihak gereja memundurkan kebaktian pagi. Kami tidak memaksa, tapi memang kami selalu saling berkomunikasi dengan pihak gereja ketika ada waktu yang bersamaan. Kami selalu begitu dan tidak ada masalah," ujarnya.

Hanya saja Nasir menceritakan pernah dalam sekali waktu pihak masjid lupa menjalin komunikasi dengan gereja saat ada pelaksanaan salat id yang jatuh pada hari Minggu.

Lantas, pihak gereja tidak memundurkan jadwal kebaktian pagi, namun hal tersebut tidak menjadi masalah yang berarti.

"Pernah sekali kelupaan, tetapi semuanya tetap berjalan dengan lancar dan damai. Jadi ada yang ke masjid dan ke gereja tetapi itu biasa saja, semuanya saling menghormati karena. Tidak ada ketersinggungan dari pihak manapun karena semuanya bertujuan beribadah kepada Tuhan," ucapnya.

Pihak masjid juga pernah 'mengalah'

Dalam merawat toleransi itu, tidak hanya pihak gereja yang 'mengalah', namun dari pengurus masjid juga melakukan sikap seperti itu ketika tempat ibadah tetangganya itu merayakan hari besarnya.

Bahkan, Nasir menceritakan saat peringatan Maulid Nabi yang hampir berdekatan dengan perayaan Natal, pihaknya memutuskan untuk memajukan acara pengajian untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Takmir masjid Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption "Natal tetap di tanggalnya, tapi kalau pengajian untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kan bisa diundur atau maju. Itu tidak ada masalah. Pengajian kita gelar tanggal 23 Desember pada waktu itu sehingga tidak terjadi suatu peribadatan yang berbarengan," jelas Muhammad Nasir Abu Bakar, ketua takmir Masjid Al Hikmah.

"Natal tetap di tanggalnya, tapi kalau pengajian untuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kan bisa diundur atau maju. Itu tidak ada masalah. Pengajian kita gelar tanggal 23 Desember pada waktu itu sehingga tidak terjadi suatu peribadatan yang berbarengan," jelasnya.

Selain itu, dia mengungkapkan saat umat Kristen melakukan ibadah kebaktian Natal di GKJ Joyodiningratan, pihak masjid juga memutuskan untuk menurunkan suara volume speaker masjid.

Bahkan, pembacaan ayat suci Alquran yang dilakukan sebelum azan salat lima waktu juga dihilangkan.

"Suara azan melalui pengeras suara direndahkan. Untuk ngajinya (membaca Alquran sebelum azan), kita tidak ngaji tapi langsung azan. Jadi kita harus tahu diri karena mereka juga beribadah. Jadi jemaah masjid sudah paham kalau yang biasanya ada ngaji 10-15 menit tidak ada dan langsung azan," ungkapnya.

Menurut Nasir pada saat pelaksanaan salat id yang memanfaatkan jalan di depan gereja dan masjid, biasanya pihak gereja juga akan ikut membantu membersihkan di depan bangunan tempat ibadah yang akan digunakan untuk salat id.

Sedangkan saat perayaan Natal dan Paskah, halaman depan masjid ini difungsikan sebagai tempat parkir kendaraan para jemaat gereja, katanya.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption "Kami sudah mewartakan peniadaan dan pengunduran jadwal ibadah kebaktian sejak dua minggu berturut-turut. Warga gereja bisa memahaminya," ujar salah-seorang pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, Beritha Tri Setyo Nugroho.

"Biasananya kalau Natal dan Paskah, lampu di depan masjid ini dinyalakan untuk parkir karena halaman masjid ini jadi tempat parkir," kata dia sambil menunjuk halaman masjid yang menjadi lokasi parkir.

Menjadi rujukan

Kini kerukunan antara umat beragama yang terjadi di dua tempat ibadah itu menjadi semacam percontohan tentang toleransi antar umat beragama.

Tak hanya dari Indonesia, namun sejumlah perwakilan dari berbagai negara telah mendatangi dua bangunan tempat ibadah itu untuk belajar tentang kerukunan umat beragama.

"Sudah sering sekali dikunjungi seperti dari Inggris yang terdiri dari ustaz dan pendeta, Malaysia, Thailand dan negara lainnya. Sedangkan dari Indonesia dari belahan timur ke barat sudah pernah datang ke sini. Mereka datang untuk melihat kerukunan yang terjalin di lingkungan ini," katanya.

Dari kunjungan para delegasi itu, menurut Nasir, mereka sangat takjub karena meskipun berbeda tidak terjadi gesekan. Bahkan, dua umat beragama yang tempat ibadahnya saling berdampingan ini juga saling rukun dan damai.

"Ternyata mereka menyatakan betul dan sangat rukun. Ini yang menjadi ikon bagi kita untuk selalu menjaga kerukunan. Kita sampaikan tidak hanya di Indonesia, tapi hingga dunia," ungkapnya.

Kesaksian warga Muslim: 'Kami sudah seperti keluarga'

Salah satu jemaah Masjid Al Hikmah, Khalid Badres mengaku sangat senang dengan kerukunan yang terjalin antar pemeluk dua tempat ibadah tersebut. Ia pun merasa sangat nyaman dan tidak terganggu meskipun berbeda agama.

"Masjid Al Hikmah dan gereja memang selama ini rukun, tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Kami di sini itu sudah seperti saudara, alhamdulillah," kata Khalid yang merupakan keturunan Arab.

Ia sendiri telah tinggal di kampung yang menjadi lokasi dua tempat ibadah yang berbeda itu sejak 40 tahun. Selama puluhan tahun itu, Khalid mengaku belum pernah terjadi gesekan sedikit pun antar umat beragama.

Masjid dan gereja di Solo Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption "Masjid Al Hikmah dan gereja memang selama ini rukun, tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali. Kami di sini itu sudah seperti saudara, alhamdulillah," kata Khalid, warga setempat.

"Kita selalu bekerjasama jika ada apa-apa. Kalau di gereja ada apa-apa, kita hormati. Kalau di masjid ada kegiatan, gereja juga hormat. Kalau kita butuh bantuan, mereka akan membantunya. Karena kita keluarga," katanya bangga.

Terpisah, salah satu jemaat GKJ Joyodiningrata, Susiati mengaku sangat suka ketika pertama kali menjadi jemaat gereja tersebut, pasalnya bangunan gereja ini berdampingan masjid.

Tak hanya itu, ia juga merasa takjub dengan kerukunan yang terjalin di antara umat gereja dan masjid.

"Saya dari kecil sampai dewasa belum pernah melihat yang namanya masjid dan sampingnya gereja," kata dia yang merupakan warga pendatang di Solo.

Susiati mengungkapkan pengalaman yang paling mengesankan menjadi jemaat di gereja tatkala terdapat hari besar umat Islam yang jatuh pada hari Minggu, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Pada dua hari besar itu umat Islam melaksanakan salat id di jalan depan gereja sehingga pihak gereja memutuskan untuk memundurkan jadwal ibadah kebaktian pagi demi menghormati umat Islam.

"Kebaktian pagi itu kan jam 06.30 WIB, sedangkan salat id katakanlah sekita pukul 06.0 WIB. Kita mundur dulu jam kebaktiannya pagi karena dari pihak gereja menghormati untuk memberikan kesempatan umat Islam melakukan salat id," ujarnya.

Liputan ini dilaporkan dan ditulis oleh wartawan di Solo, Fajar Sodiq, untuk BBC News Indonesia.

Berita terkait