Kapal Motor Santika Nusantara terbakar di Masalembo : Tiga tewas, 293 lainnya selamat

KM Santika Nusantara Hak atas foto Antara
Image caption KM Santika Nusantara dengan rute Surabaya-Balikpapan terbakar di perairan Laut Utara Pulau Masalembo.

Hingga Sabtu siang, tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 293 penumpang dan awak kapal lainnya selamat, dalam insiden terbakarnya KM Santika Nusantara di perairan Laut Utara Pulau Masalembo, Jawa Timur, pada Kamis (22/08) malam.

Kepala Kantor SAR Surabaya, Prasetya Budiarto, menyatakan bahwa tiga orang yang meninggal yaitu seorang ABK (anak buah kapal) dan dua penumpang. Menurutnya, korban tewas bukan karena terbakar, melainkan karena "kelelahan".

Sedangkan 241 orang lainnya yang berhasil dievakuasi, sejak Jumat (23/08) malam dipulangkan ke keluarga masing-masing. Sisanya masih dalam perjalanan ke Surabaya.

"Kondisi (korban selamat) sehat, trauma saja," ujar Prasetya saat dihubungi BBC News Indonesia, Sabtu (24/08).

"Saat ini sedang dievakuasi dari Masalembo ke Surabaya itu 55 orang, terdiri dari 52 orang selamat dan 3 jenazah (korban)."

Korban selamat sebelumnya menyelamatkan diri dengan menumpangi sekoci yang ada di kapal tersebut, tapi ada juga yang melompat keluar kapal. Lalu, mereka dievakuasi menggunakan kapal-kapal yang melintas serta perahu nelayan.

Hak atas foto ANTARA FOTO/PLP Tanjung Perak Surabaya/ZK
Image caption Petugas memindahkan tiga jenazah korban kapal terbakar KM Santika Nusantara ke Surabaya, di Pulau Masalembo, Jawa Timur, Sabtu (24/8/2019) dini hari. Hingga saat ini tiga orang ditemukan meninggal dalam kejadian terbakarnya KM Santika Nusantara di Perairan Laut Utara Pulau Masalembou.

Sebelumnya, KM Santika Nusantara dengan rute Surabaya ke Balikpapan terbakar pada Kamis malam.

Dalam manifes kapal, seperti dikatakan Juru Bicara Pelabuhan Tanjung Perak, Syachrul Nugroho, terdapat 277 orang yang menaiki kapal tersebut. Akan tetapi, angka itu lebih sedikit dibandingkan jumlah orang yang dievakuasi.

"Yang dilaporkan itu 277, tapi kita melaksanakan pencarian, yang kita temukan adalah 296," ungkap Kepala Kantor SAR Surabaya, Prasetya Budiarto.

Hak atas foto Antara
Image caption Warga melapor di Posko Terpadu Penanganan Korban KM Santika Nusantara di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (23/8/2019).

Penyebab kebakaran belum diketahui

Menurut keterangan Kepala Kantor SAR Surabaya, Prasetya Budiarto, api sudah berhasil dipadamkan di atas KM Santika Nusantara yang terbakar, meski kondisinya "masih berasap".

"Api sudah padam, tapi proses pendinginan belum bisa dilakukan, karena memang kondisinya sekarang ini gelombang cukup tinggi," tuturnya.

Kondisi tersebut menyebabkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum dapat memulai proses penyelidikan.

Rencananya, menurut manajer operasi PT Jembatan Nusantara, Sutarto - perusahaan pemilik kapal motor itu - bangkai kapal akan ditarik kembali ke Surabaya.

"Karena masih ada beberapa kendaraan (penumpang) di atas kapal, mungkin karena masih belum terbakar," ujarnya melalui sambungan telepon dengan BBC News Indonesia.

Hak atas foto ANTARA FOTO/BASARNAS/sb/nz
Image caption Kapal Ro-Ro KM Santika Nusantara rute Surabaya - Balikpapan terbakar di perairan laut utara Pulau Masalembo, Jawa Timur. Kamis (22/8/2019)

Sutarto belum mengetahui penyebab terbakarnya kapal yang berlayar secara reguler dengan rute Surabaya-Balikpapan itu. Ia membantah jika kapalnya mengalami kerusakan mesin.

"Nggak ada (kerusakan mesin). Kapal ini berjalan normal," kata Sutarto.

"Dan kapalnya habis docking Mei kemarin dari (Pelabuhan) Bojonegara di Cirebon sana," lanjutnya, merujuk pada proses semacam uji kelaikan kapal.

Ia justru menduga muatan kendaraan yang masuk ke dalam kapal menjadi penyebab kebakaran.

Sebelumnya, seperti dikutip kantor berita AFP, juru bicara Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Syachrul Nugroho, mengatakan bahwa saat kebakaran terjadi, listrik kapal mati sehingga mesin pompa air juga tak berfungsi.

"Awak tak bisa mematikan kebakaran karena pompa air tak berfungsi, jadi penumpang mulai menyelamatkan diri," tambahnya.

Juni lalu, 21 orang juga meninggal dalam kapal yang tenggelam di lepas pantai utara Jawa.

Berita terkait